Ujung bolpoin itu bergetar di atas kertas HVS yang sudah penuh dengan coretan. Tanganku terasa dingin, seolah-olah darah berhenti mengalir di sana. Di hadapanku, Sita memperhatikan dengan mata sembap yang dipenuhi kecemasan. Cahaya lampu dari kantin kejujuran yang sudah tutup ini berkedip-kedip, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti jemari kurus yang siap menerkam.
"Tarik napas, Damar. Coba visualisasikan lagi," bisik Sita, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam yang menyusup lewat celah jendela.
Aku memejamkan mata. Dalam kegelapan di balik kelopak mataku, memori fotografisku bekerja seperti proyektor tua yang memutar ulang film. Aku kembali ke ruang kelas itu. Bau apek, kapur tulis yang beterbangan, dan sosok Prof. Arman yang berdiri memunggungi kelas. Aku melihat papan tulis itu lagi. Deretan nama yang ditulis dengan kapur putih yang seolah bercahaya dalam kegelapan.
"Andi Prasetya. 23:01," gumamku sambil menuliskan nama itu di urutan teratas. "Dia tewas tiga hari lalu. Jatuh dari lant** empat perpustakaan. Polisi bilang itu murni kecelakaan."
"Lalu?" Sita mendesak, tubuhnya condong ke depan.
"Riska Amelia. 23:15," lanjutku. Tanganku bergerak lebih cepat sekarang, seolah-olah papan tulis itu terpampang nyata di depanku. "Dua hari lalu. Tersengat listrik di laboratorium. Dan semalam... Bayu Anggara. 23:40. Serangan jantung mendadak di kamar kosnya. Padahal dia atlet lari."
Sita menatap daftar yang kubuat. Wajahnya yang pucat semakin memutih. "Ada yang aneh, Damar. Lihat selisih waktunya."
Aku tertegun. Logikaku yang biasanya bekerja seperti mesin hitung mulai memproses angka-angka itu. Andi ke Riska berjarak dua puluh empat jam lebih empat belas menit. Riska ke Bayu berjarak dua puluh empat jam lebih dua puluh lima menit. Aku menggelengkan kepala. "Bukan selisih harinya, Sita. Tapi durasi 'kuliah' itu sendiri."
Aku mencoret-coret pinggiran kertas, menghitung dengan cepat. "Setiap kematian terjadi lebih lambat dari sebelumnya dalam hitungan menit di jam yang sama, tapi jarak antar kejadian secara keseluruhan justru menyempit drastis. Kutukan ini... dia melakukan percepatan."
"Maksudmu?"
"Andi meninggal tiga hari lalu. Riska dua hari lalu. Bayu semalam. Itu artinya ritmenya satu orang per malam," jelasku, suaranya sedikit meninggi karena panik yang mulai merayap. "Tapi lihat ini. Nama setelah Bayu adalah Galih. Di papan tulis tadi, jam di samping namanya adalah 00:30."
Aku melihat jam tangan digital di pergelanganku. Pukul 22:15.
"Kalau polanya tetap satu orang per malam, Galih seharusnya meninggal besok malam pukul 00:30. Tapi lihat urutan namanya," aku menunjuk ke daftar bayangan yang tersimpan dalam ingatanku. "Nama Galih dicoret dengan garis merah tipis yang hanya muncul saat aku berkedip di kelas itu. Dan di bawah Galih... ada namaku."
Tiba-tiba, suara dentang lonceng dari gedung rektorat terdengar jauh di kejauhan. Sepuluh kali. Suara itu terasa seperti palu yang menghantam paku ke peti mati.
"Damar, lihat ini!" Sita merampas bolpoin dari tanganku dan menarik garis di antara nama-nama tersebut. "Ini bukan soal jam kematian. Ini soal sks. Kurikulum maut ini mengikuti struktur sks universitas kita."
Aku mengerutkan kening, mencoba mengikuti alur berpikirnya.
"Satu sks setara dengan lima puluh menit," Sita menjelaskan dengan napas memburu. "Andi meninggal saat 'kuliah' dimulai pukul 23:01. Riska menyusul setelah durasi satu sks selesai jika kita menghitung dari waktu persiapan. Tapi Bayu... jaraknya lebih pendek. Artinya, Prof. Arman sedang melakukan 'akselerasi'. Dia ingin menyelesaikan semester ini dalam satu malam."
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dada. Jika teori Sita benar, maka jarak waktu antara nama-nama di daftar itu tidak lagi berhari-hari.
"Jika dia melakukan akselerasi, maka setelah Galih..." aku tidak sanggup melanjutkan kalimat itu.
Tiba-tiba, ponsel Sita bergetar hebat di atas meja kayu. Sebuah notifikasi berita dari grup WhatsApp angkatan ma**k. Wajah Sita mendadak kaku. Dia menyerahkan ponsel itu padaku dengan tangan gemetar.
*Telah ditemukan jenazah mahasiswa Teknik Mesin atas nama Galih Pratama di area parkir basement pukul 22:20. Diduga terpeleset dan terbentur tiang beton.*
Aku merasa duniaku berputar. Galih baru saja meninggal. Itu artinya teori akselerasi itu nyata. Dan jam di ponsel itu menunjukkan pukul 22:22.
"Galih meninggal pukul sepuluh lewat dua puluh," bisikku, suaraku parau. "Hanya berselang kurang dari satu jam dari kematian Bayu semalam jika kita menghitung percepatannya."
Aku segera kembali menatap daftar yang kubuat. Ingatanku membedah papan tulis itu lebih dalam, mencari det**l terkecil yang mungkin terlewat. Di bawah nama Galih, ada namaku: *Damar sandiaga — 23:01.*
"Sita," panggilku, suaraku bergetar hebat. "Nama Galih tadi di papan tulis dijadwalkan pukul 00:30 besok. Tapi dia meninggal sekarang, pukul 22:20 malam ini. Itu artinya kurikulum ini berjalan dua jam lebih cepat dari jadwal yang tertulis."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering seperti pasir. "Di papan tulis, namaku tertulis pukul 23:01 untuk jadwal kuliah besok malam."
Sita menatapku dengan mata membelalak. Dia juga sedang menghitung. Jika Galih yang dijadwalkan pukul 00:30 meninggal pukul 22:20, maka ada selisih waktu sekitar dua jam sepuluh menit lebih awal.
Aku melirik jam tanganku lagi. Pukul 22:25.
Jika aku mengurangi dua jam sepuluh menit dari jadwal asliku yang pukul 23:01...
"Damar," suara Sita nyaris tak terdengar, penuh dengan kengerian. "Waktumu tinggal beberapa menit lagi."
Tepat saat itu, lampu kantin yang berkedip-kedip itu padam sepenuhnya. Kegelapan total menyelimuti kami. Di tengah kesunyian yang mencekam, aku mendengar suara kapur yang menggores papan tulis. *Srit... srit... srit...* Suara itu tidak berasal dari kejauhan, melainkan tepat dari dinding di belakang punggungku.
Aku takut untuk menoleh, namun memori fotografisku justru memutar satu det**l yang tadi sempat kuabaikan. Di pojok bawah papan tulis Prof. Arman, ada sebuah catatan kecil dalam bahasa Latin yang baru kupahami artinya sekarang: *Absensi adalah kematian.*
Angin dingin yang menyengat tiba-tiba bertiup di tengkukku, membawa aroma tanah basah dan kapur tulis yang menyengat. Sebuah bisikan serak, seolah-olah suara itu keluar dari tenggorokan yang penuh dengan debu, terdengar tepat di telingaku.
"Saudara Damar, kenapa Anda tidak ada di dalam kelas?"
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!