Lensa Maut: Pose Terakhir di Studio 404

Bab 1: Bab 1 - Menghadiri audisi eksklusif dengan Julian di St...

Pengaturan Membaca

Udara di dalam lorong gedung tua itu terasa seperti sisa-sisa napas yang tertahan selama puluhan tahun. Dingin, lembap, dan berbau besi berkarat. Clara mengeratkan pegangan pada tas portofolionya yang sudah mulai mengelupas di bagian sudut. Tumit sepatunya yang setinggi sepuluh sentimeterβ€”barang diskon terakhir yang ia paksakan beliβ€”menimbulkan gema yang menusuk telinga di atas lant** beton abu-abu.

Ia berhenti di depan sebuah pintu besi berat dengan angka '404' yang dicat putih kusam. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seirama dengan tagihan sewa apartemen yang sudah menunggak dua bulan. Bagi gadis seusianya, pintu ini bukan sekadar jalan ma**k ke studio foto; ini adalah gerbang keluar dari kemiskinan yang mencekik lehernya sejak ia menginjakkan kaki di kota ini.

Clara menarik napas panjang, memaksakan senyum yang sudah ia latih di depan cermin pecah di kamarnya, lalu mendorong pintu itu.

Berbeda dengan lorong yang suram, bagian dalam Studio 404 adalah hamparan kekosongan yang artistik. Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi dan lampu-lampu studio raksasa yang tergantung seperti monster mekanis yang sedang tidur. Di tengah ruangan, seorang pria berdiri membelakanginya, menghadap sebuah jendela besar yang memperlihatkan cakrawala kota yang berkabut.

"Kau terlambat tiga menit, Clara," suara itu rendah, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan.

Clara terkesiap. "Maaf, Tuan Julian. Tadi ada sedikit kendala dengan transportasinya."

Pria itu berbalik. Julian. Wajahnya adalah perpaduan antara garis rahang yang keras dan mata yang tampak selalu menghakimi. Ia tidak terlihat seperti fotografer selebriti yang sering muncul di majalah mode; ia lebih menyerupai seorang ahli bedah yang siap membedah subjeknya. Matanya yang gelap menatap Clara dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah ia sedang memindai c**** pada selembar kain.

"Jangan berikan alasan. Di studio ini, waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa aku edit," Julian melangkah mendekat. Langkah kakinya tanpa suara, seperti predator yang bergerak di atas beludru. "Naiklah ke atas sana. Tanpa riasan tambahan. Aku ingin melihat apa yang ada di balik topengmu."

Clara menelan ludah. Ia memanjat panggung kecil di bawah sorotan lampu *ring light* yang dingin. Ia merasa te******* di bawah tatapan Julian, meski ia masih mengenakan gaun hitam sederhana miliknya.

"Pose," perintah Julian pendek sambil mengangkat kamera Leica-nya.

Clara mulai bergerak. Ia memberikan pose-pose standar yang ia pelajari dari majalahβ€”miringkan kepala, tangan di pinggang, tatapan menggoda. Namun, setiap kali lampu kilat menyala, raut wajah Julian tampak semakin tidak puas.

"Bosan," gumam Julian. "Kau memberikan apa yang diinginkan pasar, Clara. Aku tidak mencari produk. Aku mencari jiwa. Kau ingin menjadi terkenal, bukan?"

Clara mengangguk cepat. "Ya, Tuan. Lebih dari apa pun."

Julian menurunkan kameranya dan berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut satu meter. Clara bisa mencium aroma kayu cendana dan sesuatu yang lainβ€”sesuatu yang tajam seperti bahan kimia pengembang film.

"Kalau begitu, lupakan kecantikanmu. Kecantikan itu fana. Keabadian hanya ditemukan dalam rasa sakit dan kejujuran," Julian menatap mata Clara dengan intensitas yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Bayangkan kau sedang tenggelam. Oksigen terakhir baru saja meninggalkan paru-parumu. Kau melihat permukaan air menjauh, dan kau menyadari bahwa tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu. Berikan aku ekspresi itu."

Clara terpaku. "Apa?"

"Lakukan!" bentak Julian, suaranya menggelegar di ruangan yang luas itu.

Ketakutan itu nyata. Clara tersentak. Ia menutup matanya sejenak, memikirkan ibunya yang sakit di desa, memikirkan tumpukan surat peringatan pengusiran di pintunya, dan betapa ia merasa tenggelam dalam hidupnya sendiri setiap hari. Saat ia membuka mata, pupilnya melebar. Ia megap-megap, tangannya mencengkeram udara di depannya seolah mencari pegangan, lehernya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas.

*Ceklek.*

Lampu kilat menyambar, membutakan pandangannya sejenak.

"Lagi," perintah Julian, suaranya kini terdengar penuh gairah yang aneh. "Sekarang, bayangkan seseorang yang paling kau cint** sedang mengencangkan jerat di lehermu. Kau terkhianati, namun kau tetap mencint**nya. Tunjukkan padaku kepasrahan itu!"

Sesi itu berubah menjadi maraton emosi yang menyiksa. Julian terus menggiring Clara ke sudut-sudut tergelap dalam imajinasinya. Ia tidak lagi memintanya untuk terlihat cantik; ia memintanya untuk terlihat hancur. Setiap kali Clara merasa ingin berhenti, Julian akan membisikkan janji tentang sampul majalah internasional, tentang kontrak jutaan dolar, tentang nama yang tidak akan pernah dilupakan sejarah.

Dua jam berlalu, dan Clara merasa seperti baru saja diperkosa secara mental. Keringat dingin mengucur di punggungnya, merusak gaunnya. Julian akhirnya menurunkan kameranya dengan senyum tipis yang tampak asing di wajah kaku itu.

"C**up untuk hari ini," kata Julian lembut, kontras dengan kekerasannya beberapa saat lalu.

Clara turun dari panggung dengan kaki gemetar. Ia merasa kosong, seolah Julian telah menyedot sesuatu dari dalam dirinya melalui lensa kamera itu.

"Apakah... apakah hasilnya bagus?" tanya Clara dengan suara parau.

Julian tidak menjawab. Ia sibuk mengutak-atik layar kecil di belakang kameranya. Kemudian, ia memutar kamera itu ke arah Clara.

Di layar kecil itu, Clara melihat dirinya sendiri. Namun, itu bukan Clara yang ia kenal. Wajah di foto itu tampak murni, rapuh, dan dipenuhi teror yang indah. Ada kualitas yang menghantui dalam matanya, sesuatu yang tampak seperti nyawa yang sedang sekarat.

"Ini adalah mahakarya, Clara," bisik Julian, matanya berbinar dengan kilatan yang sulit diartikan. "Kau memiliki bakat untuk menjadi abadi. Kebanyakan model takut pada kegelapan, tapi kau... kau merangkulnya."

Julian berjalan ke meja kerjanya dan mengambil sebuah kunci perak dengan gantungan berbentuk lensa kecil. Ia melemparkannya ke arah Clara. Gadis itu menangkapnya dengan tangan yang masih gemetar.

"Itu kunci apartemen di kompleks mewah distrik pusat. Mulai besok, kau pindah ke sana. Aku tidak ingin muse-ku tinggal di tempat kumuh yang bisa merusak aura fotonya. Semua biaya aku yang tanggung," kata Julian tanpa memandang Clara, kembali sibuk dengan peralatan fotonya.

Clara menatap kunci itu. Keinginannya terkabul. Uang, fasilitas, dan pengakuan dari sang maestro. Namun, saat ia berbalik untuk pergi, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu di pojok ruangan. Di balik tumpukan kain latar belakang yang hitam, ia melihat sebuah sepatu hak tinggi berwarna merah yang tampak usang.

Sepatu itu hanya sebelah. Dan di permukaannya, terdapat bercak kecokelatan yang tampak sangat mirip dengan darah kering yang sudah memudar.

"Ada apa, Clara?" suara Julian terdengar tepat di belakang telinganya, membuat jantungnya hampir melompat keluar.

Clara memaksakan diri untuk menoleh dan tersenyum kaku. "Tidak ada, Tuan. Terima kasih atas kesempatannya."

Saat Clara melangkah keluar dari Studio 404, ia merasa kunci perak di tangannya terasa sangat dingin, sedingin firasat yang tiba-tiba merayap di benaknya bahwa ia baru saja menjual lebih dari sekadar citra dirinya. Ia belum menyadari bahwa di dalam studio itu, Julian tidak hanya baru saja mengambil fotonya, tetapi mulai merancang bingkai terakhir untuk hidupnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca