Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada seperti burung yang terjebak dalam sangkar besi. Keringat dingin merembes di balik gaun sutra pemberian Julian, membuat kain mahal itu terasa seperti kulit ular yang melilit tubuhku. Aku duduk bersimpuh di lant** marmer yang dingin, dikelilingi oleh kotak-kotak beludru berisi perhiasan milik wanita-wanita yang kini hanya tinggal nama dalam arsip kepolisian.
Aku harus pergi. Detik ini juga.
Aku merangkak menuju tas tanganku yang tergeletak di atas sofa minimalis. Jemariku gemetar saat meraih ponsel. Layar menyala, menyiram wajahku dengan cahaya biru yang pucat, namun harapanku hancur seketika. Di pojok kanan atas, bar sinyal benar-benar kosong. *No Service.*
"Sial, tidak mungkin," bisikku, suaraku parau karena ketakutan. Aku mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi, berjalan mondar-mandir dari ruang tamu ke dapur, lalu menuju jendela besar yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan. Sinyal itu tetap nihil. Seolah-olah apartemen ini berada di dimensi lain yang terputus dari dunia luar.
Aku mendekatkan wajah ke kaca jendela, mencoba mencari celah. Namun, jendela ini adalah tipe *tempered glass* tebal yang tidak memiliki engsel untuk dibuka. Julian pernah bilang ini demi keamanankuβagar kebisingan kota tidak mengganggu istirahat 'muse'-nya. Sekarang aku tahu, ini bukan untuk meredam suara dari luar, melainkan untuk memastikan teriakan dari dalam tidak pernah terdengar.
Aku berbalik dan berlari menuju pintu utama. Pintu kayu ek yang berat itu terlihat begitu kokoh dan angkuh. Di sampingnya, panel digital kecil menyala dengan cahaya merah yang redup. Aku meletakkan telapak tanganku pada gagang pintu, mencoba menekannya dengan segenap tenaga.
Terkunci.
Aku mema**kkan kode standar yang biasa kugunakan, angka ulang tahunku yang Julian tahu persis. *Beep-beep-beep.* Layar itu berkedip merah. *Access Denied.* Aku mencoba tanggal pertama kali kami bertemu. *Access Denied.*
"Julian, buka pintunya!" teriakku, meski aku tahu dia tidak ada di siniβatau setidaknya, aku berharap dia tidak ada di sini.
Aku mulai menggedor pintu itu dengan tinjuku. Suaranya bergema di lorong apartemen yang sunyi, namun pintu itu tidak bergeming sedikit pun. Rasa panik mulai mengambil alih logikaku. Aku berlari ke arah dapur, mencari sesuatu yang berat. Sebuah pisau daging atau penggiling adonan, apa saja. Namun, laci-laci dapur yang biasanya berisi peralatan lengkap kini kosong melompong. Julian telah membersihkannya. Dia sudah merencanakan ini. Dia tahu aku akan mencoba melawan.
Aku bersandar di konter dapur, napas pemuda 20 tahun yang biasanya penuh ambisi kini berubah menjadi tarikan napas pendek yang menyakitkan. Mataku menyapu seisi ruangan, dan saat itulah aku menyadarinya lagi. Titik-titik cahaya kecil di sudut langit-langit, di balik vas bunga, bahkan di sela-sela rak buku. Lensa-lensa kamera itu seolah-olah adalah mata Julian yang sedang memperhatikanku dengan geli. Dia sedang menonton pertunjukan ini. Baginya, ketakutanku adalah komposisi visual yang sempurna.
"Kau pikir ini seni?" teriakku ke arah salah satu kamera tersembunyi di atas televisi. "Menyekap orang bukan seni, Julian! Ini kriminal!"
Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya interupsi detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur menuju eksekusi. Aku teringat pada balkon kecil di dekat kamar tidur. Mungkin ada celah di sana, atau mungkin aku bisa melempar sesuatu ke bawah untuk menarik perhatian orang di lobi.
Aku berlari ke kamar, namun langkahku terhenti di ambang pintu. Lampu kamar yang seharusnya mati, kini menyala redup, memberikan nuansa kemerahan seperti ruang gelap pencucian foto. Di atas tempat tidur, sebuah gaun putih panjang berbahan tipis telah terbentang rapi, lengkap dengan sepasang sepatu satin yang berkilau. Di atas bantal, terdapat sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Julian yang artistik dan miring:
*Persiapkan dirimu, Clara. Cahaya fajar besok adalah kanvas terakhirmu. Jangan rusak kecantikanmu dengan sisa-sisa kepanikan yang sia-sia.*
Gemetar di tanganku menjalar ke seluruh tubuh. Aku menoleh ke arah balkon. Pintu geser menuju balkon itu tidak terkunci. Sebuah harapan muncul, namun segera padam saat aku melihat ke luar. Di balik kaca balkon, Julian telah memasang teralis besi baru yang bahkan celahnya tidak c**up besar untuk mengeluarkan kepalan tangan.
Aku terjatuh di lant**, memeluk lututku sendiri. Apartemen mewah ini kini terasa menyempit, dinding-dindingnya seolah bergerak mendekat untuk menghimpitku. Aku merasa seperti serangga yang tertusuk jarum di bawah mikroskop seorang kolektor yang g***.
Tiba-tiba, suara desis halus terdengar dari lubang ventilasi udara. Sebuah aroma manis yang ganjil, seperti campuran bunga lili yang mulai membusuk dan bahan kimia pembersih, mulai memenuhi ruangan. Kepalaku terasa berat. Pandanganku mulai berbayang, dan lampu-lampu di apartemen itu mulai berpendar seperti kilatan lampu *flash* kamera.
Aku mencoba berdiri, namun kakiku terasa seperti jeli. Aku merangkak menuju pintu utama sekali lagi, mencakar-cakar permukaannya hingga kuku-kukuku terasa perih.
"Tolong..." bisikku, suaraku nyaris hilang ditelan keheningan.
Tepat saat itu, layar panel digital di pintu berubah dari merah menjadi hijau. Bunyi klik mekanis yang berat terdengar, menandakan kunci telah terbuka. Harapan terakhir menyengat kesadaranku yang mulai memudar. Aku memaksakan diri untuk menarik gagang pintu.
Pintu itu terbuka perlahan, namun di baliknya tidak ada lorong apartemen yang menuju lift. Di sana berdiri sebuah siluet tinggi yang sangat kukenal, memegang sebuah kamera Leica tua di tangannya. Lampu *flash* menyambar, membutakan mataku untuk sesaat.
"Pose yang luar biasa, Clara," suara Julian terdengar begitu dekat, dingin, dan penuh pemujaan yang mengerikan. "Ketakutanmu benar-benar murni."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!