Cermin di hadapanku memantulkan bayangan seorang wanita yang tidak kukenali. Rambutku disisir ke belakang, sangat klimis hingga kulit keningku terasa tertarik. Gaun sutra putih yang kukenakan begitu tipis, nyaris seperti selaput yang membungkus kulit, dingin dan tidak menawarkan perlindungan apa pun. Di balik pantulan itu, aku bisa merasakan lensa kamera tersembunyi di sudut plafon kamar mandi, menatapku seperti mata predator yang tak pernah berkedip.
Aku menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-paruku untuk tenang meski jantungku berdegup kencang seperti genderang perang. Aku harus melakukan ini. Aku harus meyakinkannya bahwa aku masih 'Clara yang patuh', model kecil yang haus ketenaran dan buta akan bahaya. Jika dia curiga aku sudah menemukan barang-barang milik gadis-gadis sebelum aku—sepatu merah yang usang itu, jepit rambut perak yang patah—maka permainanku selesai sebelum aku sempat melarikan diri.
Pintu kamar mandi diketuk pelan. Detak jantungku melonjak.
"Clara? Waktunya sudah tiba. Cahayanya sudah sempurna," suara Julian terdengar tenang, namun ada nada otoritas yang tak terbantahkan di sana.
Aku membuka pintu dengan senyum yang sudah kulatih berkali-kali di depan cermin. Senyum yang penuh kekaguman, sedikit malu-malu, dan sepenuhnya palsu. Julian berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya yang tegas tampak hampir lembut di bawah pencahayaan redup lorong apartemen.
"Aku siap, Julian," bisikku, sengaja membiarkan suaraku sedikit bergetar agar tampak seperti kegugupan seorang amatir yang bersemangat.
Julian menatapku lama, matanya menyisir setiap inci wajahku seolah dia sedang memindai c**** pada selembar kanvas. Dia kemudian menyodorkan sebuah gelas kristal kecil berisi cairan berwarna amber pucat.
"Minumlah. Ini sedikit herbal untuk membantumu rileks. Otot-otot lehermu terlalu tegang, Clara. Seni tidak bisa diciptakan dari ketakutan."
Tanganku gemetar saat menerima gelas itu. Aku tahu ini bukan sekadar herbal. Ini adalah rant** tak kasat mata. Namun, aku juga tahu jika aku menolak, kecurigaannya akan bangkit. Dengan satu gerakan cepat, aku meminumnya. Rasanya pahit dengan jejak rasa logam di ujung lidah.
"Pintar," gumam Julian sambil mengusap pipiku dengan punggung jarinya yang dingin. "Ayo. Mahakaryamu menanti."
Kami melangkah ma**k ke Studio 404. Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya. Di tengah ruangan, sebuah bak kaca besar yang menyerupai peti mati telah diisi dengan air jernih dan ribuan kelopak bunga lili putih yang mengapung. Lampu-lampu studio diarahkan tepat ke sana, menciptakan pendaran yang menyilaukan sekaligus mengerikan.
"Ma**klah," perintahnya.
Kepalaku mulai terasa ringan. Efek obat itu bekerja lebih cepat dari yang kubayangkan. Dinding studio seolah mulai berdenyut, dan suara Julian terdengar seperti datang dari dasar sumur yang dalam. Aku melangkah naik ke tepian bak, kakiku terasa seberat timah. Airnya sangat dingin, menusuk kulitku seperti ribuan jarum es saat aku perlahan menenggelamkan tubuhku ke dalamnya.
"Berbaringlah, Clara. Biarkan dirimu tenggelam, tapi jangan sampai tenggelam sepenuhnya. Aku ingin melihat momen di mana kau seolah-olah menyerah pada kedalaman, namun tetap berusaha meraih udara terakhirmu."
Aku merebahkan diri. Air merayap naik ke telingaku, meredam suara dunia luar. Aku hanya bisa mendengar detak jantungku sendiri yang melambat dan deru napas Julian yang berdiri di atas perancah, membidikkan kameranya ke arahku.
"Bagus... sekarang, tutup matamu sedikit. Biarkan bibirmu terbuka sedikit saja," instruksi Julian. Suaranya terdengar merdu, menghipnotis. "Kau adalah keindahan yang sekarat, Clara. Kau adalah keabadian yang terperangkap dalam detik terakhir."
Melalui celah mataku yang berat, aku melihat Julian tidak hanya memegang kamera. Di sampingnya, sebuah monitor besar menampilkan sudut-sudut lain dari apartemenku. Dia sedang memantau segalanya secara real-time. Obat itu membuatku sulit berpikir jernih, tapi insting bertahanku berteriak keras. Aku harus tetap sadar. Aku harus melihat apa yang dia lihat.
Tiba-tiba, Julian meletakkan kameranya dan membungkuk lebih dekat ke arah bak kaca. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku yang terendam air. Matanya yang biasanya dingin kini berkilat dengan keg***an yang murni.
"Kau tahu, Clara? Gadis-gadis sebelumnya... mereka tidak punya 'api' ini. Mereka terlalu cepat menyerah. Tapi kau... kau berbeda."
Dia mengulurkan tangan, jemarinya ma**k ke dalam air dan mulai menekan bahuku, mendorongku lebih dalam ke bawah permukaan. Kelopak bunga lili mengerumuni wajahku, menghalangi pandangan. Aku tersedak, air mulai ma**k ke hidungku. Rasa panik yang murni menyerang sistem sarafku, berperang melawan rasa kantuk yang diinduksi obat.
Aku ingin meronta, ingin berteriak, tapi tubuhku terasa seperti lumpuh. Di bawah pengaruh obat penenang itu, setiap gerakanku terasa seperti gerakan lambat yang sia-sia. Julian tidak melepaskan tekanannya. Sebaliknya, dia justru tampak semakin terpesona melihat gelembung udara yang keluar dari mulutku.
"Ya, tepat seperti itu," bisiknya, suaranya kini terdengar seperti desisan ular di telingaku. "Jangan dilawan. Keindahan puncak ada pada penyerahan diri yang mutlak."
Dalam kegelapan yang mulai menyergap pandanganku, aku menyadari satu hal mengerikan. Julian tidak sedang menunggu momen untuk memotretku. Dia sedang menunggu saat yang tepat untuk membiarkanku berhenti bernapas selamanya, tepat saat cahaya lampu studio menyentuh ekspresi keputusasaanku yang paling murni.
Namun, di tengah kepungan air dan kabut obat, jemariku menyentuh sesuatu yang keras di dasar bak kaca. Sebuah benda tajam yang sengaja kuselipkan di balik lipatan gaun sebelum kami memulai sesi ini. Sebuah fragmen kaca dari cermin kamar mandi yang sengaja kupecahkan tadi.
Julian terus menekan, wajahnya terpaku pada lensa kamera cadangan yang terpasang otomatis di atas bak. Dia begitu asyik dengan 'seni'-nya hingga dia tidak menyadari bahwa tanganku yang gemetar mulai bergerak perlahan di bawah air, mengarahkan ujung tajam kaca itu ke arah pergelangan tangannya yang menekan bahuku.
Aku hanya punya satu kesempatan. Jika aku gagal, pose terakhir ini benar-benar akan menjadi mahakaryaku yang abadi.
Tepat saat oksigen di paru-paruku habis dan pandanganku menggelap di tepian, aku merasakan Julian sedikit mengendurkan tekanannya untuk menyesuaikan fokus lensa. Di detik itulah, aku mengerahkan seluruh sisa kesadaranku.
Bukan untuk menyerang, tapi untuk melakukan sesuatu yang tidak dia duga.
Aku membuka mataku lebar-lebar, menatap langsung ke arah lensa kameranya, dan tersenyum—sebuah senyum yang begitu tulus, begitu tenang, hingga membuat Julian mematung sejenak.
"Kenapa kau berhenti, Julian?" bisikku dalam hati, meski yang keluar hanya gelembung udara.
Di saat dia ragu itulah, aku melihat melalui sudut mataku—di layar monitor yang masih menyala—pintu Studio 404 yang tadi terkunci rapat, kini perlahan-lahan mulai terbuka sedikit. Seseorang, atau sesuatu, sedang berdiri di sana, mengawasi kami dari balik kegelapan lorong. Dan dari ekspresi wajah Julian yang tiba-tiba memucat saat melihat ke arah monitor, aku tahu bahwa aku bukan satu-satunya 'rahasia' yang ada di gedung ini.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!