Lant** beton Studio 404 terasa sedingin es di bawah telapak kaki te******* Clara. Ia sengaja tidak mengenakan alas kaki; setiap gesekan sol sepatu pada lant** porselen atau beton bisa menjadi lonceng kematian jika Julian tiba-tiba kembali. Di luar, hujan turun tanpa suara, hanya menyisakan uap air yang memburamkan jendela-jendela tinggi studio, mengisolasi Clara dalam sangkar emas yang mulai terasa mencekik.
Jantungnya berdentum keras, seolah-olah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Clara merapatkan sweter rajutnya, mencoba menghalau rasa gigil yang bukan berasal dari suhu ruangan. Matanya menyisir dinding-dinding putih yang selama ini ia puja sebagai simbol kemewahan. Kini, dinding itu tampak seperti nisan raksasa yang menantinya.
Ia berhenti di depan sebuah partisi kayu ek besar yang biasanya tertutup rapat. Julian selalu bilang itu adalah ruang penyimpanan peralatan lama yang "tidak layak untuk mata seorang muse". Namun, tadi siang, Clara melihat Julian keluar dari sana dengan sisa noda cairan gelap di ujung jarinyaβnoda yang baunya sangat ia kenali: asam asetat dan bahan kimia kamar gelap.
Tangan Clara gemetar saat menyentuh pinggiran kayu tersebut. Ia meraba, mencari celah atau tonjolan yang tidak wajar. *Klik.* Sebuah mekanisme pegas terlepas, dan sebagian dinding itu bergeser ke dalam, menyisakan celah sempit yang menghembuskan aroma menyengat bahan kimia dan bau apak yang janggal.
Clara melangkah ma**k. Kegelapan di dalam sana hampir mutlak, sebelum matanya menangkap pendar merah temaram dari lampu safelamp di ujung ruangan. Ruangan itu tidak luas, tapi terasa sangat menyesakkan. Di langit-langit, puluhan utas tali jemuran terbentang, menggantungkan lembaran-lembaran foto yang masih basah.
Clara berjalan perlahan, tangannya terangkat untuk menyentuh salah satu foto. Itu adalah foto seorang gadis berambut pirangβSonia, model yang dikabarkan "pensiun dini" dan pindah ke luar negeri dua tahun lalu. Namun, dalam foto ini, Sonia tidak sedang berpose untuk sampul majalah. Matanya terbelalak, bukan karena terkejut, melainkan karena kekosongan yang mengerikan. Mulutnya sedikit terbuka, seolah-olah napas terakhirnya tertangkap tepat saat itu juga oleh lensa Julian.
"Tuhan..." bisik Clara, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia berpindah ke foto berikutnya. Seorang gadis lain, mungkin baru berusia delapan belas tahun. Ia tampak tenggelam dalam bak mandi yang penuh dengan cairan hitam pekat, kulitnya pucat pasi kontras dengan latar belakang yang gelap. Julian telah menangkap momen di mana cahaya kehidupan meredup dari kornea matanya. Itu bukan sekadar seni; itu adalah dokumentasi pembunuhan yang dibungkus dengan estetika tingkat tinggi.
Clara merasa mual. Ia teringat kembali pada anting perak yang ia temukan di bawah karpet apartemennya minggu laluβanting yang sama yang sekarang ia lihat dikenakan oleh gadis dalam foto di depannya. Julian tidak hanya mengambil gambar mereka; ia mengambil nyawa mereka untuk "keabadian".
Langkah Clara membawanya ke bagian terdalam ruangan. Di sana, di atas sebuah meja kayu tua, terdapat sebuah bingkai emas yang masih kosong. Di sampingnya, ada sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Julian yang rapi dan artistik.
*The Muse of Silence: Clara.*
*Target: Puncak keputusasaan dalam keindahan yang statis.*
Di bawah catatan itu, terdapat serangkaian sketsa teknis. Clara melihat gambar dirinya yang sedang berpose di atas kursi beludru merah di studio utama, namun dengan det**l yang mengerikan: posisi kepala yang terkulai, arah mata yang menatap kosong ke atas, dan bagaimana cahaya harus jatuh di atas kulitnya yang akan mendingin.
Tiba-tiba, rasa dingin yang jauh lebih hebat menjalar di punggungnya. Ia merasa seperti sedang diawasi. Clara menoleh perlahan ke arah sudut ruangan yang gelap. Di sana, di atas rak tinggi, sebuah lensa kamera kecil menyala dengan lampu indikator merah yang berkedip pelan. Julian tidak perlu berada di sini untuk mengawasinya. Kamera itu tersambung ke mana-mana.
Clara mundur selangkah, namun tumitnya menyenggol botol bahan kimia yang berada di pinggir meja. *Prang!* Botol itu pecah, cairannya memba****i lant**, mengeluarkan aroma tajam yang menusuk hidung.
Dalam keheningan yang menyusul pecahnya botol itu, Clara mendengar suara yang paling ia takuti. Suara mesin lift yang berdenting di lant** ini, diikuti oleh langkah kaki yang berirama tenang namun pasti di atas lant** beton di luar ruang rahasia.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu partisi yang masih terbuka sedikit.
"Clara?" Suara Julian terdengar berat dan lembut, namun mengandung nada dingin yang belum pernah ia dengar sebelumnya. "Aku selalu bilang, rasa ingin tahu yang berlebihan bisa merusak komposisi sebuah karya. Kau tidak sabar ingin melihat hasil akhirnya, ya?"
Clara mematung di tengah keremangan lampu merah, matanya terpaku pada bayangan tinggi Julian yang memanjang ma**k melalui celah pintu. Ia tidak punya jalan keluar. Di belakangnya hanya ada dinding yang dipenuhi foto-foto kematian, dan di depannya, sang eksekutor sedang menunggu untuk melengkapi koleksinya.
Tangan Julian menyentuh daun pintu, mendorongnya perlahan hingga terbuka lebar. Cahaya terang dari studio luar menyerbu ma**k, membutakan mata Clara sejenak. Di tangan Julian, ia tidak melihat kamera, melainkan sebuah suntikan dengan cairan bening dan sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya yang gelap.
"Mari kita buat pose terakhirmu menjadi sesuatu yang tak terlupakan, Clara," bisik Julian sambil melangkah ma**k.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!