Bau asetat dan perak nitrat yang tajam menggelitik lubang hidungku, sebuah aroma yang bagiku jauh lebih memabukkan daripada parfum Prancis mana pun yang pernah disemprotkan para model di kulit mereka. Di bawah temaram lampu merah di kamar gelap, aku memandangi lembaran-lembaran foto yang tergantung di kawat jemuran. Wajah-wajah ituβSonia, Elena, Mayaβsemuanya membeku dalam satu ekspresi yang sama: sebuah kejujuran yang murni. Keindahan yang tidak bisa dipalsukan karena itu adalah detik-detik saat nyawa mereka seolah ingin melompat keluar dari pori-pori kulit untuk selamanya menetap dalam bingkai.
Aku mengusap permukaan halus salah satu foto dengan sarung tangan lateks putihku. "Sebentar lagi, kalian akan punya teman baru," bisikku pada kesunyian yang menggema di dinding kedap suara Studio 404.
Langkahku beralih ke ruang utama, tempat 'panggung' sudah mulai kusiapkan. Cahaya matahari sore yang menerobos dari jendela tinggi di langit-langit membentuk garis-garis tajam di atas lant** beton ekspos. Aku menggeser tripod seberat sepuluh kilogram itu dengan presisi milimeter, memastikan sudut pengambilan gambar akan menangkap bayangan tulang pipi Clara dengan sempurna.
Clara adalah kanvas terbaikku sejauh ini. Ada rasa lapar di matanya yang mengingatkanku pada diriku sendiri di masa mudaβhaus akan pengakuan, ingin abadi. Tapi keabadian menuntut harga yang tidak murah. Aku menyiapkan kursi beludru merah di tengah ruangan, dikelilingi oleh reflektor perak yang akan memantulkan cahaya tepat ke pupil matanya. Aku ingin kamera menangkap ketakutan yang berubah menjadi kepasrahan, sebuah transisi metafisika yang hanya bisa ditangkap oleh lensa Leica kesayanganku.
Tanganku bergerak lincah mengatur intensitas lampu *strobe*. Aku bersenandung kecil, sebuah melodi klasik yang dulu sering diputar ibuku. Semuanya harus sempurna. Komposisinya, suhunya, detak jantungnya.
Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada monitor di sudut ruangan yang terhubung dengan jaringan kamera tersembunyi di apartemen Clara. Aku mengerutkan dahi. Seharusnya jam segini dia sedang beristirahat untuk sesi pemotretan malam nanti. Namun, layar itu menunjukkan kekosongan. Tempat tidur tertata rapi. Dapur sunyi.
Aku beralih ke rekaman sepuluh menit yang lalu. Mataku menyipit saat melihat pergerakan di layar kecil itu.
Clara tidak sedang beristirahat. Dia berdiri di depan rak buku di ruang kerjaku yang kularang keras untuk ia dekati. Aku melihat jemarinya yang gemetar menyentuh bagian belakang lemari, sebuah mekanisme pemicu yang hanya aku yang tahu. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa kecewa yang dingin.
"Jangan, Clara..." gumamku pada layar.
Di monitor, aku melihatnya berhasil menggeser pintu rahasia itu. Dia ma**k ke dalam kegelapan lorong kecil yang menghubungkan apartemennya dengan bagian belakang studioβgudang tempat aku menyimpan 'kenang-kenangan' dari mereka yang telah mendahuluinya.
Aku melihat punggungnya yang tegang saat dia menemukan kotak kayu jati di pojok ruangan. Kotak itu berisi koleksi perhiasan, ponsel yang sudah mati, dan jepit rambut milik Sonia. Aku bisa membayangkan bagaimana napasnya tersengal saat ini, bagaimana keringat dingin mulai membasahi leher jenjangnya yang begitu ingin kupotret di bawah cahaya redup.
Aku mematikan monitor dengan gerakan pelan, hampir khidmat. Kesunyian di studio mendadak terasa lebih berat, lebih pekat.
"Kau terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri, Sayang," desisku. Aku merasakan getaran amarah yang halus, namun segera tertutup oleh gelombang kegembiraan yang aneh.
Rencanaku harus berubah. Seharusnya 'mahakarya terakhir' ini terjadi dua hari lagi, dalam sebuah prosesi yang terencana dan tenang. Tapi Clara telah mengintip ke balik tirai sebelum pertunjukan dimulai. Dia telah melihat monster di balik lensa, dan itu akan mengubah ekspresinya secara drastis. Dia tidak akan lagi berpose dengan ambisi yang dibuat-buat. Sekarang, setiap sel di tubuhnya akan berteriak karena insting bertahan hidup.
Dan itulah ekspresi yang paling berharga. Ketakutan yang nyata adalah seni yang paling jujur.
Aku berjalan menuju meja peralatan, mengambil sebotol kecil cairan bening dan sebuah jarum suntik steril. Aku mema**kkannya ke dalam saku jas fotoku. Dengan tenang, aku mematikan lampu utama studio, menyisakan satu lampu sorot kecil yang mengarah tepat ke pintu akses rahasia tersebut.
Aku duduk di kursi sutradaraku, menunggu di dalam kegelapan yang pekat. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara langkah kaki yang terburu-buru dan derit pintu yang terbuka di ujung lorong. Dia akan muncul dari sana, pucat dan gemetar, mengira dia bisa melarikan diri dariku.
Aku menyesuaikan fokus pada lensaku, memastikan bidikan itu berada tepat di titik di mana wajahnya akan muncul. Jariku berada di atas tombol *shutter*.
"Ayo, Clara," bisikku pada kegelapan. "Tunjukkan padaku pose terakhirmu."
Suara gagang pintu diputar terdengar jelas di keheningan studio yang mencekam. Cahaya dari lorong mulai menyeruak ma**k seiring pintu yang terbuka perlahan. Aku menahan napas, menikmati ketegangan yang merambat di udara seperti listrik statis.
Clara muncul, wajahnya bersimbah air mata, tangannya menggenggam kalung perak milik Elena yang hilang setahun lalu. Matanya liar mencari jalan keluar, sampai akhirnya pandangannya terpaku padaku yang duduk tenang di balik kamera.
"Julian?" suaranya pecah, sebuah bisikan penuh horor.
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai mataku. Aku menekan tombol *shutter*.
*Klik.*
Cahaya *flash* yang menyilaukan meledak, membutakan pandangannya untuk sesaat.
"Itu awal yang bagus, Clara," kataku dengan suara serak yang tenang. "Tapi kita baru saja mulai. Jangan bergerak, atau aku akan merusak komposisinya."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!