Jantung Clara berdentum begitu keras di rongga dadanya, seolah-olah organ itu berusaha mendob**k keluar untuk melarikan diri lebih dulu. Keringat dingin merembes dari pori-porinya, membasahi blus sutra mahal yang dulu ia anggap sebagai simbol kesuksesan, namun kini terasa seperti kain kafan yang membungkus kulitnya. Di sudut ruangan, lensa kamera tersembunyi yang baru saja ia temukan tampak seperti mata predator yang tak berkedip, mengawasi setiap tarikan napasnya yang tersengal.
Ia harus keluar. Sekarang.
Ponselnya mati totalβsebuah kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan. Gagang pintu apartemen itu tidak mau berputar, seakan-akan mekanisme penguncinya telah diambil alih oleh kekuatan tak kasat mata. Clara berlari menuju dinding di samping pintu utama, tempat sebuah kotak plastik putih kecil menempel dengan angkuh: interkom gedung.
Ini adalah satu-satunya talian hayatnya. Tombol bantuan yang terhubung langsung ke meja resepsionis atau pos keamanan di lobi bawah.
Dengan jari yang gemetar hebat, Clara menekan tombol panggil. Suara dengung statis yang panjang memenuhi kesunyian apartemen, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. Clara menempelkan telinganya ke speaker, memejamkan mata rapat-rapat, merapal doa yang sudah lama tidak ia ucapkan.
*Angkat, kumohon, angkat.*
*Klik.*
Suara statis itu pecah, digantikan oleh suara desis pelan. Clara hampir tersungkur karena lega.
"Halo? Tolong! Tolong saya!" teriak Clara, suaranya pecah dan parau. Ia menekan wajahnya lebih dekat ke perangkat itu, seolah ingin merangkak ma**k ke dalam kabel-kabelnya. "Ini Clara dari Unit 404. Saya terjebak! Ada orang yang mencoba mencelakai saya... pintunya terkunci dari luar. Tolong kirimkan petugas keamanan sekarang!"
Hening sesaat. Hanya ada suara napas berat yang terdengar dari seberang sana. Clara mengerutkan kening, air matanya menetes mengenai punggung tangannya.
"Halo? Apa Anda mendengar saya?" desaknya lagi, lebih histeris. "Cepat panggil polisi! Julian... Julian g***! Dia mengawasi saya!"
"Tenanglah, Clara," sebuah suara berat dan tenang menyahut dari speaker interkom. "Kau merusak komposisi wajahmu sendiri dengan ekspresi panik seperti itu. Sudut mulutmu turun, dan otot-otot di sekitar matamu terlalu tegang. Itu tidak estetis."
Darah Clara seolah membeku seketika. Seluruh tubuhnya menjadi kaku. Suara itu bukan suara petugas keamanan yang bosan atau resepsionis yang ramah. Suara itu memiliki bariton yang halus, berwibawa, dan sangat ia kenali. Suara yang selama beberapa minggu terakhir memujinya, mengarahkannya, dan perlahan-lahan menjeratnya.
Itu suara Julian.
"Julian?" bisik Clara, suaranya nyaris hilang. Ia menjauhkan wajahnya dari interkom seolah-olah alat itu bisa menggigitnya. "Kenapa... kenapa kau ada di sana? Di mana petugas keamanan?"
Terdengar suara kekehan kecil, sebuah suara yang terdengar sangat intim namun mematikan. "Petugas keamanan? Oh, Clara sayang. Kau selalu begitu naif, itulah yang membuatmu menjadi model yang sempurna. Kau benar-benar mengira aku akan membiarkanmu tinggal di tempat yang tidak berada di bawah kendaliku sepenuhnya?"
Clara menggelengkan kepala, air matanya kini mengalir deras karena rasa horor yang murni. "Kau g***... biarkan aku keluar! Buka pintunya!"
"Interkom ini tidak terhubung ke lobi, Clara," lanjut Julian, suaranya terdengar seperti sedang menjelaskan teknik pencahayaan di studio. "Ini adalah sirkuit tertutup. Jalur pribadi antara muse dan senimannya. Aku sengaja memasangnya agar kita bisa tetap berkomunikasi, bahkan di saat-saat paling... krusial seperti ini."
Clara memukul-mukul kotak interkom itu dengan kepalan tangannya yang lemah. "Lepaskan aku! Aku tahu apa yang kau lakukan pada model-model sebelum aku! Aku menemukan barang-barang mereka!"
"Barang-barang itu adalah peninggalan," Julian menyahut tanpa nada bersalah sedikit pun. "Mereka gagal memberikan momen yang abadi, jadi mereka harus pergi. Tapi kau... kau berbeda. Kau memiliki ketakutan yang sangat murni di matamu saat ini. Cahaya yang memantul di pupilmu... itu adalah puncak dari seni yang kucari selama ini."
Clara jatuh terduduk di lant** yang dingin, punggungnya bersandar pada pintu yang masih terkunci rapat. Ia menatap ke arah kamera di sudut langit-langit, menyadari bahwa di suatu tempat di gedung iniβatau mungkin tepat di balik dinding iniβJulian sedang duduk dengan tenang, menatap monitor, dan menikmati penderitaannya.
"Kau tahu, Clara," suara Julian kembali terdengar, kali ini lebih lembut, hampir seperti bisikan di telinga. "Aku baru saja mengganti kartu memori di kamera utama. Aku sudah mengatur fokusnya dengan sempurna ke arah interkom itu. Kau terlihat sangat rapuh saat memohon bantuan pada alat yang sebenarnya adalah penjaramu sendiri. Itu adalah pose yang luar biasa. *The Last Plea*... aku rasa itu judul yang bagus untuk mahakaryaku selanjutnya."
"Kumohon," isak Clara, suaranya mengecil menjadi rintihan.
"Jangan menangis terlalu banyak, nanti matamu sembab," Julian memperingatkan dengan nada protektif yang memuakkan. "Aku akan segera ke sana. Aku ingin mengambil foto penutupnya secara langsung. Aku ingin melihat nyawa itu meredup dari matamu dengan mata kepalaku sendiri, bukan melalui lensa digital."
*Klik.*
Interkom itu mati. Kesunyian yang lebih mengerikan kini menyelimuti apartemen itu. Clara duduk meringkuk, memeluk lututnya, saat ia mendengar suara langkah kaki yang tenang dan teratur bergema di lorong luar. Langkah kaki yang berhenti tepat di depan pintunya.
Lalu, terdengar suara kunci digital yang berdenting. *Beep.* Lampu indikator di gagang pintu berubah dari merah menjadi hijau.
Pintu itu terbuka perlahan, menyingkap sesosok pria jangkung dengan kamera yang menggantung di lehernya dan sebuah pisau bedah berkilau di tangan kanannya. Julian berdiri di sana, tersenyum dengan sangat tulus, seolah-olah ia baru saja datang untuk sesi foto pagi yang biasa.
"Siap untuk pose terakhirmu, Clara?" tanya Julian lembut, sambil mengangkat kameranya dan membidik ke arah Clara yang membeku karena ketakutan.
Lampu kilat menyambar, membutakan pandangan Clara sejenak, dan dalam kegelapan sesaat itu, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan berhenti menjadi objek, dan mulai menjadi pemangsa. Clara meraba lant**, tangannya menyentuh vas bunga keramik berat yang ada di dekat kakinya, sementara bayangan Julian mulai melangkah ma**k ke dalam ruangan.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!