Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah ia ingin melompat keluar dari dadaku yang sesak. Bau ozon dari peralatan elektronik yang terlalu panas dan aroma apek dari tirai beludru tua memenuhi indra penciumanku. Aku meringkuk di balik rak peralatan logam yang dingin, memeluk lututku erat-erat. Di kegelapan Studio 404 yang luas ini, setiap embusan napasku terdengar seperti raungan singa.
"Clara... kau merusak komposisinya," suara Julian menggema, tenang dan rendah, namun memiliki ketajaman pisau bedah. Suara itu tidak datang dari satu arah, melainkan memantul dari pengeras suara tersembunyi di sudut-sudut langit-langit yang tinggi. "Seni membutuhkan kejujuran. Dan saat ini, ketakutanmu adalah hal paling jujur yang pernah kau berikan padaku."
*Klik.*
Cahaya putih yang menyakitkan meledak di depan mataku. Lampu strobo berkekuatan tinggi menyalak dari arah jam dua, membutakan retinaku seketika. Aku m****ik pelan, menutup mata dengan lengan, namun bayangan hitam masih menari-nari di balik kelopak mataku. Dalam sepersekian detik kebutaan itu, aku mendengar suara langkah kaki yang tenang—suara sol sepatu kulit mahal di atas lant** beton.
Aku merangkak dengan memb*** buta, jemariku meraba lant** yang kasar hingga menemukan kabel tebal yang melintang. Aku hampir tersandung, namun berhasil menyeimbangkan diri. Aku harus bergerak. Berdiam diri berarti menjadi sasaran empuk bagi lensanya.
"Jangan lari, Sayang," suara Julian terdengar lebih dekat sekarang. "Kau tahu, sensor kamera di sini telah dimodifikasi. Mereka bisa mendeteksi panas tubuhmu. Kau tidak bisa bersembunyi di balik bayangan jika kau sendiri adalah sumber cahaya dalam kegelapan ini."
Aku memaksakan mataku terbuka meski perih. Studio ini telah berubah menjadi labirin maut. Julian telah menata ulang set sedemikian rupa; manekin-manekin tanpa kepala mengenakan gaun sutra yang pernah kupakai kini berdiri seperti penjaga bisu di jalur-jalur sempit. Di antara mereka, tripod-tripod tinggi berdiri mengancam, puncaknya bukan lagi lampu biasa, melainkan kamera-kamera dengan lensa tele panjang yang terlihat seperti moncong senapan.
*Klik. Klik. Klik.*
Tiga kilatan strobo beruntun menyambar dari sisi kiri. Aku terjatuh, menab**k sebuah *reflector* perak yang jatuh berdenting keras. Suara itu seperti bel makan siang bagi pemangsa. Aku tersengal, berusaha bangkit, namun kakiku tersangkut dalam jaring kabel yang melilit di lant** seperti tentakel gurita.
"Bagus. Pose itu... keputusasaan yang murni," puji Julian. Aku bisa merasakan kehadirannya di balik deretan tirai hitam. "Sedikit lagi, Clara. Berikan aku kemiringan kepala yang pas. Biarkan cahaya menangkap butiran keringat di pelipismu."
"Kau g***, Julian!" teriakku, suaranya parau karena ketakutan. Aku merenggut kakiku sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih saat kabel kasar itu menggores pergelangan kakiku hingga berdarah. "Ini bukan seni! Ini pembunuhan!"
Tawa kecil Julian terdengar, sebuah suara yang dingin tanpa emosi. "Kematian adalah bentuk seni tertinggi, Clara. Ia abadi. Setelah malam ini, kau tidak akan pernah menua. Kau tidak akan pernah dilupakan. Kau akan menjadi mahakaryaku yang paling murni. Bukankah itu yang kau inginkan saat datang ke sini? Menjadi seseorang?"
Aku berhasil membebaskan diri dan berlari menuju pintu keluar darurat di ujung ruangan. Namun, saat aku melintasi area tengah yang terbuka, seluruh lampu studio menyala sekaligus. Bukan cahaya lembut yang biasa digunakan untuk pemotretan potret, melainkan ribuan watt cahaya halogen yang membakar. Panasnya langsung menyengat kulitku.
Aku terhuyung, menutup wajah dengan kedua tangan. Di depanku, puluhan monitor yang tergantung di dinding menyala secara serentak, menampilkan wajahku dari berbagai sudut—wajah yang pucat, mata yang terbelalak ketakutan, rambut yang berantakan. Aku melihat diriku sendiri diburu.
Di tengah cahaya yang menyilaukan itu, aku melihat siluet Julian. Ia berdiri dengan tenang di balik kamera Hasselblad yang terpasang pada *crane* bermotor. Wajahnya tersembunyi di balik jendela bidik, namun aku bisa merasakan senyum tipis di bibirnya.
"Tinggal satu bidikan lagi, Clara," katanya, tangannya bergerak menyentuh tuas kontrol. *Crane* kamera itu mulai bergerak maju ke arahku dengan suara desis motorik yang halus, seperti ular yang mendekati mangsanya. "Pose terakhir. Pose yang akan membuat dunia berlutut di depan bingkaimu."
Aku mundur perlahan, menyadari bahwa aku telah ma**k ke dalam perangkap yang sesungguhnya. Di belakangku bukan lagi pintu keluar, melainkan sebuah panggung kecil dengan latar belakang kain putih bersih yang kini tampak seperti kain kafan raksasa. Julian telah menggiringku ke titik fokus utama studionya.
Saat aku mencoba berbalik untuk mencari celah lain, kakiku menyentuh sesuatu yang keras di bawah kain penutup lant**. Aku meraba ke bawah, dan jemariku menyentuh permukaan dingin dari sebuah kotak pemicu. Ada kabel yang mengarah langsung ke tumpukan lampu strobo besar yang tergantung tepat di atas panggung tempatku berdiri.
Jika aku bergerak selangkah lagi ke belakang, beban tubuhku akan menarik pemicu itu, dan aku tidak yakin apa yang akan terjadi—apakah itu hanya kilatan cahaya, atau sesuatu yang jauh lebih mematikan yang telah dirancang Julian untuk mengakhiri 'sesi' ini.
Julian menurunkan kamera dari matanya, menatapku langsung dengan binar keg***an yang tak lagi ia sembunyikan. "Jangan bergerak, Clara. Jangan rusak momen ini."
Aku menelan ludah, merasakan dinginnya keringat mengalir di punggungku. Mataku beralih dari Julian ke kabel di bawah kakiku, lalu ke kapak darurat yang tergantung di dinding tepat di sebelah kanan panggung—hanya dua meter jauhnya, namun terasa seperti satu mil di bawah pengawasan lensanya.
"Julian," bisikku, mencoba menstabilkan suaraku. "Jika kau menginginkan foto terakhir ini... kau harus menangkapnya sendiri."
Tepat saat tangannya bergerak menuju tombol rana, aku melempar sepatu hak tinggiku ke arah lampu strobo di sebelah kiriku dan melompat ke arah kapak itu. Bunyi kaca pecah dan ledakan arus pendek memenuhi ruangan, menciptakan kegelapan total selama satu detik yang berharga—detik di mana sang pemburu kehilangan sasarannya dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
Namun, saat tanganku berhasil menyentuh gagang kayu kapak itu, sebuah suara mekanis baru terdengar. Suara *shutter* kamera yang bergerak cepat secepat senapan mesin, diikuti oleh lampu kilat merah kecil yang mulai berkedip di mana-mana.
"Kau pikir kegelapan adalah temanmu?" suara Julian terdengar tepat di belakang telingaku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan napas dinginnya. "Aku punya mode inframerah, Clara."
Aku berbalik dengan kapak di tangan, namun yang kulihat bukan Julian, melainkan bayanganku sendiri di sebuah cermin besar yang baru saja turun dari langit-langit, dan di pantulan itu, aku melihat sebuah titik merah kecil tepat mendarat di dahiku. Itu bukan lampu indikator kamera. Itu adalah laser penunjuk.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!