Lampu indikator merah kecil itu berkedip di sudut plafon, menyerupai mata predator yang tak pernah terpejam. Clara menyandarkan punggungnya ke dinding dingin di balik lemari pakaian, satu-satunya titik buta yang ia temukan setelah berjam-jam memetakan sudut pandang lensa yang tersembunyi di apartemen ini. Napasnya memburu, pendek-pendek dan tertahan, seolah-olah suara udara yang ma**k ke paru-parunya pun bisa ditangkap oleh mikrofon sensitif yang diselipkan Julian di sela-sela ventilasi.
Ia memejamkan mata, memvisualisasikan denah yang telah ia susun di kepalanya. Julian adalah pemuja simetri. Kamera-kamera itu tidak diletakkan secara acak; mereka mengikuti aturan *rule of thirds*. Kamera di atas cermin kamar mandi menangkap emosi mentah di pagi hari. Kamera di lampu gantung ruang tamu mengambil sudut *high-angle* untuk menciptakan kesan tak berdaya. Dan kamera di balik bingkai foto di lorong adalah untuk transisi.
"Tiga detik," bisik Clara pada kegelapan.
Ia tahu siklus rotasi kamera keamanan yang terhubung dengan server utama di studio. Setiap tiga puluh menit, sistem akan melakukan *reboot* singkat selama tiga detik untuk menyelaraskan *frame rate*. Itu adalah celah kecil, sebuah c**** dalam obsesi Julian terhadap kesempurnaan.
Detak jantungnya terasa seperti palu yang menghantam dada. Clara menggenggam erat sebilah pisau dapur kecil yang ia sembunyikan di balik sweternya. Logam dingin itu memberinya sedikit rasa aman, meski ia tahu Julian tidak akan menyerangnya dengan kasar. Julian lebih suka menggunakan kehalusan, manipulasi, dan akhirnya, sebuah bidikan lensa yang mematikan.
*Sekarang.*
Clara melesat keluar dari balik lemari. Ia bergerak rendah, merayap di bawah garis pandang lensa yang tertanam di bingkai pintu. Ia tidak menuju pintu keluar utama. Ia tahu pintu itu sudah dikunci secara elektronik dari pusat kendali Julian. Melarikan diri lewat sana sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam jaring yang sudah disiapkan.
Ia merayap menuju ruang kerja kecil di sudut apartemen, tempat Julian menyimpan tumpukan portofolio lama. Di sana, di balik tumpukan kain latar belakang beludru hitam, terdapat sebuah panel kecil untuk sistem pendingin ruangan. Clara mencongkel penutupnya dengan ujung pisau. Jemarinya gemetar, tapi intuisinya menuntunnya dengan tepat. Di balik panel itu, unt**an kabel serat optik berkilauan seperti saraf-saraf perak.
"Kau melihatku, bukan?" gumam Clara, menatap lurus ke arah kamera tersembunyi di jam dinding yang kini berada tepat di depan wajahnya. Ia tidak lagi bersembunyi. "Kau menyukai komposisi ini, Julian? Gadis yang terpojok. Sang Muse yang hancur."
Ia tahu Julian sedang menonton di suatu tempat. Mungkin di studio bawah tanahnya yang kedap suara, sambil menyesap anggur merah dan mengagumi betapa indahnya ketakutan yang terpancar dari mata Clara.
Clara teringat pada barang-barang milik Maya, Sarah, dan Elenaβpara model sebelum dirinya yang ia temukan di gudang rahasia. Sepatu yang belum sempat dipakai, lipstik yang masih baru, dan sebuah kamera analog yang rusak. Mereka semua mencoba lari. Mereka semua berakhir menjadi koleksi foto hitam-putih yang 'abadi' di dinding Julian.
Jika ia lari sekarang, ia hanya akan menjadi mangsa dalam perburuan yang panjang. Julian memiliki segalanya: uang, koneksi, dan keg***an yang terencana. Keluar dari gedung ini tidak akan menghentikannya. Julian akan terus memburunya sampai ia mendapatkan 'pose terakhir' yang ia inginkan.
"Aku bukan objekmu," desis Clara. Ia tidak memotong kabelnya. Alih-alih, ia mencabut salah satu konektor *bypass* yang ia pelajari dari buku teknis fotografi yang pernah ia baca di perpustakaan Julian.
Seketika, layar monitor di pusat kendali Julian pasti akan membeku, menampilkan gambar diam Clara yang sedang meringkuk ketakutanβsebuah rekaman dari sepuluh menit yang lalu. Bagi Julian, ia masih ada di sana, terjebak dalam ketidakberdayaan. Namun pada kenyataannya, Clara sudah bergerak.
Ia berdiri tegak, membuang rasa takutnya seperti kulit lama yang mengelupas. Apartemen ini bukan lagi penjara, melainkan medan tempur. Ia menyadari satu hal yang selama ini luput dari pikirannya: Julian adalah seorang sutradara, dan seorang sutradara hanya memiliki kekuatan selama ia berada di balik layar.
Clara melangkah menuju pintu penghubung rahasia yang menuju langsung ke Studio 404. Pintu itu biasanya terkunci, tapi dengan sistem yang sedang mengalami *loop* akibat sabotase kabelnya, kunci magnetiknya mengeluarkan suara klik yang lemah.
Tangannya menyentuh gagang pintu yang dingin. Ia bisa merasakan adrenalin mengalir, menggantikan rasa putus asa yang sempat melumpuhkannya. Jika Julian menginginkan sebuah mahakarya, maka Clara akan memberikannya satu, tapi bukan sebagai korban.
Ia harus menghadapinya. Ia harus ma**k ke jantung kegelapan itu, ke tempat di mana lampu-lampu studio berdiri seperti eksekutor yang siap menembak. Hanya ada satu cara untuk mengakhiri kontrak mematikan ini: dengan menghancurkan lensa sang fotografer sebelum ia sempat menekan tombol rana.
Clara mendorong pintu itu perlahan. Kegelapan Studio 404 menyambutnya dengan aroma bahan kimia film yang tajam dan keheningan yang mencekam. Di ujung ruangan, di bawah satu lampu sorot yang remang-remang, ia melihat siluet kursi tinggi yang biasa diduduki Julian.
"Julian," suara Clara bergema, tenang namun tajam seperti belati. "Mari kita selesaikan sesi foto ini."
Dari balik bayang-bayang, terdengar suara tepuk tangan pelan yang berirama. Detik berikutnya, lampu studio menyala satu per satu, membutakan mata, dan Clara menyadari bahwa ia baru saja melangkah ma**k ke dalam bingkai yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!