Cahaya lampu strobo memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan pola-pola perak yang menari di dinding studio yang gelap. Aku mengatur fokus lensa 85mm-ku dengan presisi seorang ahli bedah. Di depanku, berdiri sebuah akuarium kaca setinggi dua meter, sebuah sarkofagus transparan yang telah kunanti-nantikan untuk diisi.
"Ma**klah, Clara," kataku, suaraku datar namun penuh tekanan. "Gaun sifon putih itu akan terlihat seperti sayap malaikat di bawah air."
Clara berdiri mematung. Wajahnya pucat, matanya yang besar menatap tangki air itu seolah-olah ia sedang menatap liang kuburnya sendiri. Aku bisa melihat getaran halus di jemarinya, sebuah reaksi fisiologis yang indah terhadap ketakutan. Inilah kejujuran yang tidak bisa dipalsukan oleh aktris manapun.
"Julian... airnya terlihat sangat dingin," bisiknya. Suaranya serak, sisa dari tangisan yang ia tumpahkan saat menemukan koleksi 'kenangan' di ruang bawah tanahku tadi malam. Dia tahu sekarang. Dia tahu dia bukan yang pertama, dan dia tahu apa yang terjadi pada mereka yang datang sebelum dia. Tapi dia tidak punya pilihan. Pintu studio telah terkunci secara elektronik, dan aku memegang kendalinya.
"Keindahan menuntut pengorbanan, kau tahu itu," aku melangkah mendekat, membelai pipinya dengan punggung tanganku. Kulitnya sedingin porselen. "Kau ingin menjadi abadi, bukan? Kau tidak ingin dilupakan sebagai model kelas teri yang hilang ditelan zaman. Di dalam tangki itu, aku akan menangkap esensimu. Detik di mana jiwa dan raga bertarung demi satu tarikan napas terakhir. Itulah seni yang sesungguhnya."
Dengan gerakan kaku, Clara menaiki tangga kecil di samping tangki. Gaun panjangnya terseret di lant**, mengeluarkan suara gesekan kain yang memuaskan telingaku. Saat ia ma**k ke dalam air, gaun itu mengembang, menyelimuti tubuhnya seperti ubur-ubur raksasa.
Aku kembali ke balik kamera. Melalui jendela bidik, dunia menjadi berbeda. Segala hal yang tidak penting memudar, menyisakan hanya Clara dan air yang mulai bergolak.
"Selam, Clara. Sekarang," perintahku.
Ia menarik napas panjangβmungkin yang terakhirβdan membenamkan kepalanya. Air membiaskan cahaya, mengubah proporsi tubuhnya menjadi sesuatu yang surgawi. Rambut hitamnya menjunt** ke atas, menari mengikuti arus. Aku mulai menekan tombol rana. *Klik. Klik. Klik.*
"Bagus. Sekarang, lepaskan udara perlahan," aku berteriak dari balik kaca.
Gelembung-gelembung kecil keluar dari hidung dan mulutnya, naik ke permukaan seperti mutiara yang terlepas dari kalungnya. Aku bisa melihat kepanikan mulai merayap di matanya. Pupilnya melebar. Otot-otot lehernya menegang. Ini dia. Tahap transisi.
Aku begitu terpesona oleh distorsi visual yang diciptakan oleh riak air. Aku menyesuaikan *shutter speed*, mencari titik di mana gerakan tangannya yang meronta terlihat seperti sebuah tarian penderitaan yang estetik. Pikiranku melayang pada koleksiku yang lain. Maya yang menyerah pada menit keempat. Elena yang matanya tetap terbuka hingga detik terakhir. Tapi Clara... Clara memiliki api yang berbeda.
"Tahan, Clara! Jangan naik dulu!" teriakku saat melihatnya mencoba menendang ke arah permukaan.
Aku melangkah maju, tanganku meraih tuas pengunci penutup tangki yang terbuat dari baja. Dengan satu gerakan cepat, aku menutup bagian atas akuarium itu dan menguncinya. Bunyi *klik* logam yang bertemu logam menggema di seluruh studio yang sunyi.
Sekarang, dia benar-benar terperangkap.
Clara memukul-mukul kaca. Wajahnya yang cantik terdistorsi oleh tekanan dan ketakutan yang murni. Matanya menatapku, memohon, mencaci, dan ketakutan secara bersamaan. Aku terpaku pada jendela bidik kameraku. Ini adalah mahakaryaku. *The Last Breath.* Aku bisa melihat oksigen di paru-parunya habis. Dadanya naik-turun dengan kasar, mencoba menghirup sesuatu yang tidak ada.
Begitu indahnya. Aku kehilangan kesadaran akan waktu. Aku terus memotret, terobsesi dengan pantulan cahaya pada air mata yang menyatu dengan air tangki di sudut matanya. Aku ingin mengabadikan setiap milidetik dari perjuangannya.
"Sedikit lagi, Clara... berikan aku ekspresi kehampaan itu," gumamku pada diri sendiri, jemariku menari di atas tombol kamera dengan g***.
Saking terpaku pada komposisi di dalam bingkai, aku tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada peralatan di sekitarku. Aku terlalu asyik mengatur pencahayaan hingga aku mengabaikan bau gosong yang samar dari kabel strobo yang tersenggol genangan air di dekat kakiku. Pikiranku sepenuhnya tenggelam dalam estetika kematian yang sedang berlangsung di depanku.
Clara berhenti memukul kaca. Tubuhnya mulai melemas, tenggelam perlahan ke dasar tangki. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya seperti tirai hitam. Inilah momennya. Puncak dari segala puncak.
Aku mencondongkan tubuh ke depan, mengabaikan peringatan instingku tentang suara dengung listrik yang semakin keras di bawah kakiku. Aku hanya butuh satu jepretan lagiβsaat matanya kehilangan fokus sepenuhnya.
Namun, tepat saat jariku hendak menekan tombol rana untuk pose terakhir, lampu studio meledak satu per satu dalam rentetan suara pecah yang m****akkan telinga. Studio seketika gelap gulita, menyisakan hanya cahaya rembulan yang ma**k dari jendela tinggi di langit-langit.
Di tengah kegelapan itu, aku mendengar suara yang tidak seharusnya ada. Bukan suara air, bukan suara napas. Melainkan suara kaca yang retak. Sebuah retakan panjang dan tajam yang menjalar cepat.
Aku tersentak mundur, namun terlambat. Aku baru menyadari bahwa dalam keg***anku tadi, aku telah menaikkan tekanan pemanas air di dalam tangki hingga melewati batas aman, dan tekanan udara yang terperangkap di bawah penutup baja mulai menghantam dinding kaca yang kini mulai menyerah.
*KRAK!*
Sesuatu yang lebih dari sekadar air akan tumpah malam ini, dan aku menyadari dengan ngeri bahwa aku tidak lagi berada di balik lensa yang aman. Aku berada di jalur kehancuran mahakaryaku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!