Air dingin itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk pori-pori kulitku. Aku berdiri di dalam tangki kaca setinggi dua meter yang diletakkan Julian di tengah Studio 404. Gaun sutra putih yang kukenakan melambai pelan di dalam air, membungkus tubuhku seperti kain kafan yang indah. Di balik kaca tebal ini, Julian berdiri dengan kamera Hasselblad kesayangannya, matanya tidak lepas dari bidikan lensa.
"Sedikit lagi, Clara. Biarkan matamu bicara. Jangan takut pada airnya, peluklah dia," suara Julian terdengar lewat pengeras suara kecil di dalam tangki. Tenang, berwibawa, namun mematikan.
Aku tahu apa yang dia cari. Dia bukan sedang menunggu pose terbaikku. Dia sedang menunggu gelembung udara terakhir keluar dari paru-paruku. Tanganku menyentuh dinding kaca, berpura-pura mengikuti arahannya, sementara jemariku meraba-raba pinggiran tutup tangki di atasku yang mulai bergeser menutup secara mekanis.
"Tatap aku, Clara! Berikan aku keputusasaan itu!" teriak Julian. Wajahnya yang biasanya kaku kini memerah karena kegembiraan yang ganjil.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum penutup tangki itu mengunci dengan dentuman logam yang berat. *Klik.* Aku terperangkap. Air terus naik, melewati bahuku, lalu daguku. Cahaya lampu *strobe* yang menyambar-nyambar membuat bayanganku di dinding studio tampak seperti hantu yang menari kegirangan.
Saat air menutupi hidungku, insting bertahan hidupku mengambil alih. Aku tidak akan menjadi koleksi foto di dinding rahasianya. Aku tidak akan menjadi 'karya abadi' yang mati demi egonya.
Aku menyelam ke dasar tangki. Di sana, aku melihat kabel sensor yang terhubung ke mesin pengatur air. Dengan sisa tenaga dan penglihatan yang kabur karena pedihnya air, aku merenggut kabel itu sekuat tenaga.
*Bzzzt!*
Percikan listrik terlihat di balik kaca. Julian tersentak, wajahnya berubah dari kekaguman menjadi kemarahan murni. "Apa yang kau lakukan, jalang kecil?!"
Dia meletakkan kameranya dengan kasar di atas meja kayu mahal dan berlari ke arah panel kontrol. Ini kesempatanku. Aku menjejakkan kaki ke dasar tangki dan melompat, menyundul penutup logam yang tadi terkunci. Ternyata korsleting yang kubuat berhasil membuka kunci magnetisnya.
Aku menyembul keluar, terbatuk-batuk, menghirup oksigen seolah itu adalah emas cair. Julian sudah berada di tangga tangki, wajahnya hanya beberapa inci dariku. Matanya bukan lagi mata seorang seniman; itu adalah mata binatang buas yang mangsanya hampir lepas.
"Kau merusak momennya," desis Julian. Tangan besarnya mencengkeram leherku, berusaha mendorongku kembali ke dalam air.
Aku meronta, kuku-kukuku mencakar lengannya hingga berdarah. Kami terjatuh dari tangga tangki secara bersamaan, menghantam lant** studio yang dingin. Rasa sakit menjalari punggungku saat tubuhku menab**k tumpukan kabel dan tiang lampu *softbox*.
Julian bangkit lebih cepat. Dia menyambar tripod besi yang berat dan mengayunkannya ke arahku. Aku berguling ke samping, dan *prakk!* Tripod itu menghantam lampu strobe seharga ribuan dolar, meledakkannya dalam pecahan kaca yang berterbangan.
"Semua ini untukmu, Clara! Aku ingin membuatmu abadi!" teriaknya sambil menerjang lagi.
Aku meraih apa pun yang bisa kujangkau. Tanganku menyentuh botol cairan pembersih lensa berbahan kimia tinggi yang terletak di meja peralatan. Saat Julian menerjang untuk mencekikku lagi, aku menyemprotkan cairan itu tepat ke matanya.
"Arghhh! Mataku!" Julian terjerembap, menab**k meja yang penuh dengan lensa-lensa mahal. Suara kaca pecah yang memilukan memenuhi ruangan, namun bagiku itu adalah musik kemenangan.
Aku bangkit dengan kaki gemetar, pakaianku basah kuyup dan berat. Aku melihat Julian mengerang di lant**, berusaha mengusap matanya yang memerah. Di depanku, berdiri monitor besar yang terhubung ke kamera-kamera tersembunyi di seluruh apartemenku. Di sana, aku melihat rekaman diriku sendiri yang sedang tidur, sedang mandi, bahkan saat aku sedang menangis sendirian.
Kemarahan yang lebih besar dari rasa takut meledak di dadaku. Aku mengambil kamera Hasselblad yang tadi ia gunakan. Kamera yang ia sebut sebagai 'pencabut nyawa'.
"Kau ingin momen kematian, Julian?" tanyaku dengan suara serak, nyaris berbisik.
Julian mendongak, matanya yang sebelah masih terpejam erat, sebelah lagi menatapku dengan kebencian murni. Dia mencoba berdiri, tangannya meraba-raba mencari pisau lipat yang selalu ia bawa di saku celananya.
Aku tidak lari. Aku mengangkat kamera itu tinggi-tinggi di atas kepalaku.
"Ini pose terakhir dariku," kataku tepat saat Julian menerjang maju dengan bilah pisau yang berkilat di bawah lampu studio yang tersisa.
Aku mengayunkan kamera berat itu sekuat tenaga, bukan ke arah kepalanya, melainkan ke arah tangki kaca raksasa di belakangnya yang retak akibat benturan sebelumnya.
*Pranggg!*
Kaca setebal sepuluh sentimeter itu pecah berkeping-keping. Ribuan galon air tumpah ruah seperti air bah, menghantam tubuh Julian dan menyeretnya ke ujung studio. Dia terhempas ke arah rak-rak besi yang penuh dengan peralatan pencahayaan.
Suasana seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air dari langit-langit dan dengung kabel listrik yang korslet. Aku berdiri di tengah genangan air, terengah-engah, memegang tali kamera yang kini sudah hancur.
Aku berjalan perlahan menuju tubuh Julian yang tertimbun reruntuhan rak. Dia masih bernapas, meskipun lemah. Namun, saat aku hendak berbalik untuk mencari jalan keluar, aku melihat sesuatu di layar monitor yang masih menyala di sudut ruangan.
Layar itu tidak lagi menunjukkan rekaman apartemenku. Layar itu menunjukkan sebuah *live stream* dari ruang bawah tanah studio ini. Di sana, di dalam sebuah ruangan kedap suara yang dindingnya dilapisi foto-foto model yang hilang, aku melihat seseorang yang sangat kukenal sedang terikat di kursi.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Julian bukan bekerja sendirian. Dan orang di layar itu... dia menatap langsung ke arah kamera dengan mata penuh ketakutan, seolah tahu aku sedang melihatnya.
Suara pintu studio yang terkunci secara otomatis bergema di seluruh ruangan, diikuti oleh suara tawa halus dari sistem pengeras suara yang bukan berasal dari mulut Julian.
"Babak kedua baru saja dimulai, Clara."
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!