Jemari Clara bergetar hebat, keringat dingin membasahi telapak tangannya hingga permukaan tetikus itu terasa licin dan sulit dikendalikan. Di hadapannya, layar monitor raksasa di ruang kendali Studio 404 memancarkan cahaya biru pucat yang menyakitkan mata. Barisan kode dan jendela pratinjau dari puluhan kamera tersembunyi berkedip-kedip, menampilkan setiap sudut apartemen dan studionya—sebuah museum privasi yang dicuri.
"Ayo, sedikit lagi... tolonglah," bisik Clara, suaranya parau, nyaris habis karena tangisan dan teriakan yang tak terdengar sebelumnya.
Ia berhasil ma**k ke dalam sistem pusat Julian. Di sana, tersimpan folder-folder dengan nama para model yang telah hilang. *Maya, 2019. Elena, 2021. Sarah, 2022.* Dan sekarang, sebuah folder baru dengan namanya sendiri: *Clara, Puncak Mahakarya.*
Di luar ruangan, suara langkah kaki yang tenang namun berat bergema di lant** beton. *Tap. Tap. Tap.* Itu adalah irama kematian yang sangat dikenal Clara. Julian tidak sedang terburu-buru; ia menikmati perburuan ini sebagaimana ia menikmati mengatur pencahayaan untuk sebuah potret.
"Clara," suara Julian terdengar dari balik pintu besi yang terkunci, rendah dan memikat seperti madu yang beracun. "Kau merusak komposisinya, Sayang. Kau seharusnya berada di depan lensa, bukan di balik layar. Keindahan tidak tercipta dari kekacauan yang kau buat sekarang."
Clara mengabaikannya. Matanya tertuju pada ikon merah bertuliskan *'Global Broadcast Interface'*. Julian telah merancang sistem ini untuk menyiarkan "karya seninya" secara eksklusif kepada kolektor rahasia di jaringan gelap, namun Clara telah meretas jalurnya. Ia akan membelokkan siaran itu ke platform publik, ke media sosial, ke server kepolisian, ke mana pun yang bisa menjangkau dunia luar sebelum napasnya dihentikan.
*Progress: 82%... 84%...*
"Kau pikir mereka akan memujimu karena ini?" Julian berbicara lagi, kini suaranya terdengar lebih dekat, tepat di depan pintu. "Dunia luar hanya akan melihatmu sebagai model yang hancur. Di tanganku, kau abadi. Kau akan menjadi simbol keputusasaan yang paling murni. Bukankah itu yang kau inginkan? Menjadi seseorang yang tak akan pernah dilupakan?"
*B**k!*
Pintu ruang kendali bergetar hebat. Julian mulai menghantamnya dengan sesuatu yang berat—mungkin salah satu penyangga lampu studio yang terbuat dari besi solid.
"Pergi ke neraka dengan keabadianmu!" teriak Clara, air mata kemarahan akhirnya jatuh.
Ia mengetik dengan kalap, mema**kkan perintah untuk melewati protokol keamanan terakhir. Layar berkedip merah. *'Unauthorized Access Attempt'*.
"Jangan lakukan itu, Clara!" Suara Julian kini berubah, ada nada urgensi yang tajam, menghilangkan topeng ketenangannya. "Kau akan menghancurkan segalanya!"
*B**k!* Engsel pintu mulai merenggang.
Clara melihat indikator progres di layar: *91%*. Ia bisa melihat pratinjau siaran di monitor kecil di sudut kanan. Kamera utama di studio—kamera yang selama ini ia takuti—kini aktif. Di sana, di tengah studio yang kosong, berdiri sebuah kursi kayu tua di bawah lampu sorot tunggal. Itulah tempat ia seharusnya dieksekusi secara visual.
"Sedikit lagi..." napas Clara tersengal.
Tiba-tiba, suara dentuman keras memecah suasana. Pintu besi itu terdorong paksa, menab**k dinding dengan bunyi denting yang m****akkan telinga. Julian berdiri di ambang pintu. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, matanya berkilat dengan keg***an yang dingin. Di tangannya, ia memegang sebuah kapak kecil yang biasa digunakan untuk properti artistik, namun kini benda itu terlihat sangat fungsional.
"Hentikan sekarang, atau aku akan memastikan momen kematianmu tidak akan terekam dengan indah," ancam Julian, melangkah maju dengan gerakan yang predatoris.
Clara tidak bergeming dari kursinya. Jarinya gemetar di atas tombol *'Enter'*. "Dunia akan melihatmu, Julian. Bukan sebagai seniman, tapi sebagai monster."
Julian menerjang ke arah meja server yang berada di sisi ruangan, bukan ke arah Clara. Ia tahu jika ia menghancurkan unit pemrosesan pusat, data itu tidak akan pernah terkirim. Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, mengayunkannya ke arah kabel-kabel optik yang menjadi nyawa dari siaran tersebut.
"TIDAK!" Clara menjerit dan melemparkan dirinya ke arah Julian, memeluk pinggang pria itu untuk menahannya.
Tenaga Julian jauh lebih besar. Dengan satu sentakan kasar, ia melempar Clara ke lant** hingga kepala gadis itu membentur kaki meja. Pandangan Clara mengabur sejenak, bintang-bintang menari di matanya. Ia melihat Julian kembali mengangkat kapaknya, siap menghantam server utama yang sedang memproses data terakhir.
*98%... 99%...*
Dengan sisa kekuatannya, Clara merangkak di lant**, meraih kaki Julian dan menariknya sekuat tenaga tepat saat kapak itu diayunkan. Ayunan Julian meleset, mata kapak itu menghantam casing besi server, menimbulkan percikan api listrik yang menyambar, namun tidak memutus sirkuit utama.
"Kau jalang kecil!" Julian berbalik, wajahnya merah padam. Ia menjambak rambut Clara, menarik kepala gadis itu ke belakang hingga Clara terpaksa menatap matanya yang kosong.
Namun, di belakang bahu Julian, di layar monitor yang retak, sebuah pesan muncul dengan warna hijau neon yang kontras: *'BROADCAST LIVE - PUBLIC DOMAIN ACTIVE'*.
Clara tersenyum di tengah rasa sakitnya. Darah menetes dari pelipisnya, tapi ia merasa menang. "Sudah terlambat," bisiknya. "Semua orang... sedang menonton."
Julian terpaku. Ia menoleh ke arah monitor, melihat angka penonton yang mulai merangkak naik dari nol ke ribuan dalam hitungan detik. Di layar itu, terpampang wajahnya sendiri—wajah sang fotografer legendaris yang kini terlihat seperti pembunuh yang tersudut.
Julian meraung, suara yang lebih mirip binatang buas daripada manusia. Ia mengangkat kapaknya kembali, tapi bukan ke arah server. Kali ini, mata kapak itu terarah tepat ke arah wajah Clara.
Tepat saat itu, lampu studio di luar ruang kendali meledak satu per satu akibat beban arus pendek dari peretasan sistem, menenggelamkan mereka dalam kegelapan yang pekat, hanya menyisakan cahaya berkedip dari monitor yang masih menyiarkan adegan maut tersebut ke seluruh dunia.
Julian terdiam dalam gelap, napasnya memburu di dekat telinga Clara. "Jika aku harus jatuh," bisiknya dengan nada yang mengerikan, "kau akan menjadi bingkai terakhir yang kulihat."
Suara sirine polisi mulai terdengar lamat-lamat dari kejauhan, membelah kesunyian malam di luar Studio 404, namun di dalam ruangan yang gelap itu, Clara tahu bahwa Julian belum selesai dengannya. Pria itu masih memegang kapak, dan pintu keluar masih terasa sangat jauh.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!