Ujung pena itu terasa seberat bongkahan timah saat aku menekannya di atas kertas berita acara pemeriksaan. Tanganku gemetar, meninggalkan goresan tinta yang sedikit berlekuk pada namaku sendiri: Clara Ardiansyah. Di ruangan interogasi yang pengap oleh bau kopi instan dan sisa asap rokok yang entah dari kapan, aku merasa seolah baru saja menandatangani akta kematian masa laluku.
"Sudah selesai, Clara. Kau aman sekarang," suara Inspektur Wijaya terdengar berat, namun ada nada empati yang berusaha ia selipkan. Pria paruh baya itu menutup map cokelat di depannya dengan suara *plak* yang membuatku berjingkat.
Aku hanya mengangguk pelan, merapatkan jaket denim yang ukurannya terlalu besar di tubuhku. Jaket ini milik seorang polwan, diberikan padaku untuk menutupi sisa-sisa gaun sutraβkostum 'mahakarya' Julianβyang sudah compang-camping dan ternoda debu studio. Aku menyentuh leherku, merasakan bekas memar yang mulai mengeras, sisa dari cengkeraman tangan dingin Julian saat ia mencoba memaksaku berpose dalam 'keabadian'.
"Barang-barangmu yang ditemukan di apartemen akan segera diproses sebagai barang bukti. Terma**k... koleksi yang ia simpan di balik dinding palsu itu," lanjut Wijaya.
Bayangan itu kembali muncul. Rak-rak tersembunyi berisi sepatu hak tinggi, jepit rambut, dan botol parfum milik gadis-gadis yang pernah menghiasi sampul majalah sebelum akhirnya menghilang ditelan bumi. Julian tidak hanya mengambil foto mereka; ia mengambil eksistensi mereka. Dan aku hampir saja menjadi salah satu dari pajangan piala di rak itu.
"Apa dia akan... apa dia akan pernah keluar lagi?" suaraku serak, nyaris tak terdengar.
Wijaya berdiri, mengitari meja dan menepuk bahuku sekali. "Dengan bukti kamera tersembunyi dan kesaksianmu, dia tidak akan melihat cahaya matahari untuk waktu yang sangat lama. Pengacara publikmu sudah menunggu di luar. Dia akan membantumu melewati kerumunan di depan."
Kerumunan. Kata itu membuat perutku mual.
Aku berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas, seperti jeli. Saat aku berjalan menyusuri koridor kantor polisi yang panjang dan remang, setiap langkahku menggema, memantul di dinding keramik yang dingin. Aku bisa melihat bayanganku di kaca jendela yang kusam. Aku bukan lagi Clara yang ambisius, yang mematut diri di depan cermin berjam-jam hanya untuk mencari sudut wajah terbaik. Mataku cekung, kulitku pucat, dan ada kehampaan yang tak bisa disembunyikan oleh riasan setebal apa pun.
"Siap, Clara?" Pak Baskoro, pengacara yang ditunjuk untuk mendampingiku, berdiri di dekat pintu keluar gedung. Wajahnya tegang.
"Seberapa buruk di luar?" tanyaku.
"Mereka sudah menunggu sejak berita penangkapan Julian bocor dua jam lalu. Tetap tundukkan kepala, jangan katakan apa pun."
Begitu Pak Baskoro mendorong pintu kaca ganda yang berat itu, dunia seolah meledak.
*Klik-klik-klik-klik!*
Suara itu. Suara yang dulu sangat kupuja. Suara rana kamera yang beradu cepat, seperti rentetan tembakan senapan mesin.
*Flash* putih yang menyilaukan menghantam wajahku dari segala arah. Aku refleks mengangkat tangan, menutupi mata, tapi cahaya itu menembus celah jari-jariku. Rasanya panas. Rasanya seperti dibakar hidup-hidup di bawah sorotan lampu studio 404.
"Clara! Benarkah Julian mencoba membunuhmu demi sebuah foto?"
"Clara, lihat ke sini! Bagaimana rasanya menjadi satu-satunya 'muse' yang selamat?"
"Clara, apa benar ada kamera di kamar mandimu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu dilemparkan seperti tombak. Aku terhuyung, dikerumuni oleh puluhan lensa panjang yang moncongnya mengarah tepat ke jantungku. Mereka mendorong, menyikut, berebut untuk mendapatkan satu inci saja dari penderitaanku.
Di tengah kekacauan itu, aku menurunkan tanganku sedikit. Aku melihat seorang fotografer muda di baris depan. Dia tidak berteriak. Dia hanya fokus pada lubang intip kameranya, jempolnya bergerak lincah mengatur fokus, mencari ekspresi paling hancur yang bisa kutunjukkan. Di matanya, aku bukan manusia yang baru saja lolos dari maut. Aku adalah konten. Aku adalah 'pose terakhir' yang dicari-cari dunia.
Ketakutan terbesarku dulu adalah menjadi bukan siapa-siapa. Aku ingin namaku dikenal. Aku ingin wajahku terpampang di mana-mana. Sekarang, impian itu terwujud dengan cara yang paling bengis. Namaku ada di setiap tajuk berita utama, tapi bukan sebagai model berprestasi, melainkan sebagai korban seorang psikopat yang terobsesi pada kematian.
Aku kini terkenal. Dan setiap kilatan lampu kamera itu terasa seperti Julian yang kembali merobek privasiku, menjadikanku abadi dalam bingkai penderitaan yang akan terus dikonsumsi publik selamanya.
Tiba-tiba, gerakanku terhenti di depan pintu mobil yang terbuka. Di antara ratusan kilatan lampu, aku melihat sebuah lensa yang berbeda. Lensa itu tidak berada di tangan wartawan. Di seberang jalan, di balik kaca gelap sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tenang, aku melihat kilatan lampu merah kecil yang berkedip.
*Record.*
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Kilatan itu bukan berasal dari kamera pers. Itu adalah jenis kamera pengint** yang sama dengan yang dipasang Julian di langit-langit apartemenku. Sudut pengambilan gambarnya, ketinggiannya... itu terlalu presisi untuk sebuah kebetulan.
Saat Pak Baskoro mendorongku ma**k ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan keras, aku menempelkan wajahku ke kaca jendela yang gelap. Sedan hitam itu perlahan mulai bergerak, membelah kerumunan wartawan tanpa suara, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugasnya merekam adegan terakhir dari sebuah pertunjukan.
Aku meraba saku jaketku, dan jemariku menyentuh sesuatu yang keras dan kecil. Sebuah benda yang tidak kusadari ada di sana sejak aku meninggalkan studio Julian. Aku menariknya keluar dan terpaku. Itu adalah sebuah kartu memori kecil, dengan tulisan tangan mungil yang sangat kukenali di atasnya: *Proyek Akhir - Belum Selesai.*
Mobil yang kutumpangi mulai melaju, namun pandanganku terpaku pada kartu di telapak tanganku. Jika Julian sudah di dalam sel, lalu siapa yang meletakkan ini di sakuku? Dan yang lebih penting, siapa yang baru saja merekam kepulanganku dari seberang jalan tadi?
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!