Lensa Maut: Pose Terakhir di Studio 404

Bab 3: Bab 3 - Pindah ke apartemen baru dan memulai sesi foto ...

Pengaturan Membaca

Kunci perak di genggamanku terasa dingin, seberat beban ekspektasi yang kini hinggap di pundakku. Ketika pintu unit di lant** empat puluh itu terbuka, aroma kayu cendana dan pembersih ruangan yang mahal langsung menyergap indra penciumanku. Ini jauh berbeda dari aroma mi instan dan detergen murah yang biasa menghuni kamar kos sempitku di pinggiran kota.

Aku melangkah ma**k, membiarkan tumit sepatuku tenggelam ke dalam karpet beludru abu-abu yang melapisi seluruh ruang tamu. Apartemen ini adalah perpanjangan dari estetika Julian: minimalis, monokromatik, dan sangat sunyi. Jendela besar dari lant** hingga langit-langit menyuguhkan panorama Jakarta yang berkabut polusi, namun dari sini, semuanya tampak seperti miniatur yang bisa kukendalikan.

"Kau suka?"

Suara bariton itu membuatku sedikit tersentak. Julian berdiri di ambang pintu penghubung yang menuju ke arah studio pribadi miliknya. Ia tidak memakai jas formal seperti saat pertemuan pertama kami; hanya kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, menyingkap urat-urat menonjol di tangannya yang terbiasa menggenggam kamera.

"Ini... terlalu luas untukku sendiri," jawabku sambil mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. Aku tidak ingin terlihat seperti gadis desa yang baru pertama kali melihat kemewahan, meski kenyataannya memang begitu.

Julian mendekat, langkahnya hampir tak terdengar. "Seorang muse tidak boleh memikirkan hal-hal sepele seperti biaya sewa atau ruang sempit. Aku butuh pikiranmu jernih. Aku butuh kau merasa... dimiliki oleh seni ini."

Ia memandu ku menuju studio. Ruangan itu luas, didominasi oleh peralatan pencahayaan canggih yang tampak seperti monster berkaki tiga yang siap menerkam. Di tengah ruangan, sebuah kursi kayu tunggal berdiri di bawah sorotan lampu *softbox*.

"Kita mulai sesi pertama sekarang. Tidak perlu riasan tebal. Aku ingin kejujuranmu," perintahnya, nada suaranya tidak menerima bantahan.

Aku berganti pakaian dengan terusan sutra putih tipis yang sudah disiapkan. Kain itu terasa dingin di kulitku, hampir seperti sentuhan tangan mayat. Saat aku keluar dan duduk di kursi itu, aku merasa te******* meski pakaianku lengkap. Julian tidak segera memotret. Ia memutar-mutar lensa kameranya, matanya yang tajam menatapku dari balik jendela bidik seolah ia sedang membedah lapisan demi lapisan kepribadianku.

*Ceklek.*

Kilatan lampu membuatku buta sejenak.

"Jangan berpose, Clara. Pose adalah kebohongan," gumam Julian. "Berikan aku rasa takutmu. Berikan aku ambisimu yang membuatmu rela menjual jiwamu padaku hari ini."

Aku menelan ludah. Kata-katanya terasa terlalu personal. Aku mencoba mengatur napas, menatap langsung ke lensa kamera besar yang menyerupai mata hitam raksasa. Selama dua jam berikutnya, satu-satunya suara di ruangan itu hanyalah detak mekanis dari *shutter* kamera dan instruksi pendek Julian yang semakin lama terasa semakin menuntut. Ia memintaku melengkungkan punggung, menunduk hingga rambutku menutupi wajah, lalu mendongak dengan tatapan kosong.

"C**up," katanya tiba-tiba, suaranya terdengar serak, seolah ia baru saja menyelesaikan maraton yang melelahkan. "Istirahatlah. Kau bisa mandi dan bersant**. Kita lanjut besok."

Tubuhku terasa pegal, namun ada kepuasan aneh yang merayap di dadaku. Inilah ketenaran yang kujanjikan pada diriku sendiri. Aku melangkah kembali ke area apartemen, menuju kamar mandi utama yang dindingnya dilapisi marmer hitam meng***t.

Aku menyalakan pancuran air hangat. Uap mulai memenuhi ruangan, mengaburkan pantulan diriku di cermin besar di depan wastafel. Aku melepas pakaianku, membiarkan air menyiram kelelahan yang menggelayuti bahuku. Namun, saat aku memejamkan mata di bawah guyuran air, sebuah perasaan tidak nyaman mulai menusuk tengkukku.

Itu adalah perasaan yang familiar bagi siapa pun yang pernah tinggal di lingkungan tidak aman: perasaan sedang diawasi.

Aku membuka mata, menyeka air dari wajahku. Ruangan itu tertutup rapat. Pintu terkunci. Namun, bulu kudukku berdiri tegak. Aku menoleh ke sekeliling, menatap langit-langit, mencari celah ventilasi atau apa pun yang mencurigakan. Tidak ada apa-apa, hanya permukaan marmer yang halus dan pancuran air yang terus menderu.

Aku mencoba tertawa kecil, mengejek paranoia-ku sendiri. "Kau hanya terlalu lelah, Clara," bisikku.

Aku melangkah keluar dari *shower* dan meraih handuk putih yang tergantung di rak besi. Saat aku menghadap ke cermin untuk menyeka uap air, gerakanku terhenti. Di sudut atas cermin yang tertutup uap, terdapat sebuah lingkaran kecil yang tidak tertutup embun. Bentuknya sempurna, seolah ada sesuatu yang hangatβ€”atau sesuatu yang diletakkan di balik kacaβ€”yang mencegah uap menempel di titik itu.

Aku mendekatkan wajahku, jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Titik jernih itu tidak lebih besar dari kuku kelingkingku. Aku menyeka sisa uap di sekitarnya dengan telapak tangan yang gemetar.

Di balik kaca cermin yang seharusnya memantulkan bayanganku, aku melihat sebuah lubang kecil yang gelap. Dan di dalam kegelapan lubang itu, ada pantulan cahaya kecil yang statis. Sebuah lensa.

Napas yang keluar dari mulutku terasa mencekik. Aku berdiri membeku, masih dalam keadaan tanpa busana, menyadari bahwa setiap inci tubuhku, setiap ekspresi rapuhku saat mandi, mungkin baru saja terekam.

Aku menarik handuk untuk menutupi tubuhku dengan gerakan kasar, mataku tak lepas dari titik hitam di balik cermin itu. Keheningan apartemen yang tadinya terasa mewah kini berubah menjadi mencekam. Aku teringat kata-kata Julian di studio tadi: *"Aku butuh kau merasa dimiliki."*

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan dari pintu depan apartemen. Bukan ketukan yang menuntut, melainkan ketukan ritmis yang sopan, namun di telingaku, itu terdengar seperti vonis mati.

"Clara? Aku membawakanmu makan malam. Aku taruh di meja depan, ya?" suara Julian terdengar dari balik pintu, terlalu tenang, terlalu dekat.

Aku tetap diam di dalam kamar mandi, menahan napas, sementara mataku terus menatap lensa tersembunyi itu yang seolah balik menatapku dengan dingin. Aku sadar, pintu yang kukunci dari dalam mungkin tidak memberikan keamanan apa pun di tempat ini. Karena di rumah ini, Julian bukan sekadar tuan rumah. Dia adalah penonton, dan aku adalah tontonan yang tidak boleh berhenti beraksi.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca