Cahaya biru dari jajaran monitor sembilan inci memantul di lensa kacamata Julian, menciptakan bayangan ganda yang menari di pupil matanya. Di dalam ruangan kedap suara yang tersembunyi di balik dinding galeri pribadinya, Julian adalah seorang tuhan yang tak terlihat. Ia bersandar di kursi kulit tua yang berdecit pelan, jemarinya yang panjang dan ramping mengetuk meja kayu m***ni mengikuti ritme napas sosok di layar.
Clara.
Di layar monitor nomor empat, gadis itu sedang duduk di tepi tempat tidur apartemen barunya—apartemen yang Julian sewa atas nama perusahaan bayangan, lengkap dengan furnitur minimalis yang dirancang untuk menonjolkan kerapuhan siapa pun yang tinggal di sana. Clara tampak sedang menyisir rambut cokelatnya yang panjang. Gerakannya mekanis, seolah pikirannya sedang berkelana ke tempat yang jauh.
Julian memutar kenop pada konsol kendalinya, memperbesar gambar (zoom) hingga hanya menyisakan wajah Clara yang memenuhi layar pusat. Resolusi kamera 4K yang ia tanam di balik cermin dua arah itu menangkap segalanya: butiran keringat tipis di dahi, sedikit gemetar pada sudut bibirnya, dan yang paling penting—matanya.
"Kau sedang memikirkan apa, Clara?" bisik Julian, suaranya parau seperti gesekan kertas amplas di atas kayu halus.
Biasanya, pada tahap ini, model-model sebelumnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan yang jelas. Elena, muse-nya dua tahun lalu, menghabiskan malam-malamnya dengan menangis di bawah pancuran air panas. Sarah, si gadis berambut pirang yang malang, mulai menenggak pil penenang seolah itu adalah permen. Mereka menjadi transparan. Ketakutan mereka membuat mereka mudah dibentuk, seperti tanah liat basah yang siap diukir menjadi sebuah mahakarya keheningan.
Namun Clara berbeda. Ada sesuatu yang keras di balik binar matanya yang ambisius.
Julian mengamati bagaimana Clara tiba-tiba berhenti menyisir. Gadis itu menatap pantulannya di cermin—menatap lurus ke arah lensa tersembunyi Julian. Untuk sesaat, jantung Julian berdegup kencang secara tidak wajar. Apakah dia tahu? Tidak, itu mustahil. Pemasangannya sempurna. Namun, Clara tidak memalingkan wajah. Ia justru mendekat, jemarinya menyentuh permukaan kaca, menelusuri garis rahangnya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan tatapan narsistik, melainkan tatapan seorang prajurit yang sedang memeriksa luka sebelum kembali ke medan perang.
"Jiwa yang keras kepala," gumam Julian. Senyum tipis, hampir tak kentara, muncul di sudut mulutnya.
Ia mengambil sebuah buku catatan bersampul kulit hitam dari meja. Di sana, ia mencatat observasinya dengan pena tinta cair. *Subjek No. 7. Hari ke-12. Belum ada tanda-tanda penyerahan diri secara total. Ego masih utuh. Perlu tekanan lebih pada titik saraf estetika.*
Julian teringat sesi foto tadi siang. Di bawah lampu studio 404 yang panas dan menyilaukan, ia sengaja membiarkan Clara berpose dalam posisi yang menyakitkan selama berjam-jam. Ia ingin melihat rasa sakit itu merembes ke permukaan kulitnya, ingin menangkap momen ketika kelelahan fisik meruntuhkan pertahanan mentalnya. Tapi setiap kali Julian berteriak "Lagi!", Clara justru memberikan tatapan yang lebih tajam, lebih hidup, seolah rasa sakit adalah bahan bakar bagi ambisinya untuk menjadi terkenal.
Bagi Julian, kecantikan tanpa penderitaan adalah sebuah kebohongan. Fotografi baginya bukan tentang cahaya, melainkan tentang apa yang tersisa ketika cahaya itu padam. Ia mencari 'momen kematian'—bukan kematian biologis yang kotor dan berantakan, melainkan saat ketika harapan meninggalkan mata seseorang, menyisakan kekosongan murni yang abadi.
Di monitor, Clara berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah lampu-lampu kota. Ia berdiri di sana c**up lama, memunggungi kamera. Julian beralih ke kamera sudut atas (wide angle). Siluet Clara tampak kecil di tengah kemewahan apartemen itu, seperti seekor serangga cantik yang terjepit di antara dua lembar kaca mikroskop.
Tiba-tiba, Clara melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia meraih tasnya, mengeluarkan sebuah buku kecil yang tampak kusam—sebuah buku harian tua—dan mulai membacanya dengan terburu-buru. Wajahnya berubah pucat. Bahunya menegang. Julian mencondongkan tubuh, matanya menyipit berusaha melihat apa yang dipegang gadis itu.
Itu bukan buku milik Clara. Julian mengenali sampul kain beludru berwarna merah pudar itu. Itu milik Elena.
Sial. Bagaimana bisa benda itu tertinggal? Julian merasa seolah ada retakan kecil pada dinding kendalinya. Ia telah membersihkan apartemen itu secara menyeluruh. Ataukah Elena, di saat-saat terakhirnya yang penuh delusi, berhasil menyembunyikan sesuatu di tempat yang tidak terjangkau oleh matanya?
Di layar, Clara mulai membolak-balik halaman buku itu dengan tangan gemetar. Ia kemudian menatap sekeliling ruangan dengan liar, seolah baru menyadari bahwa dinding-dinding apartemen yang indah ini sebenarnya memiliki telinga dan mata. Matanya yang tadi penuh ambisi, kini mulai digantikan oleh sesuatu yang sudah lama dinantikan Julian: ketakutan yang murni dan primitif.
Namun, ketakutan itu tidak membuat Clara runtuh. Sebaliknya, Julian melihat gadis itu menarik napas panjang, menutup buku tersebut, dan menyembunyikannya kembali ke dalam tas dengan gerakan yang sangat tenang—terlalu tenang. Ia tidak menelepon polisi. Ia tidak lari keluar apartemen. Ia justru kembali duduk di tempat tidur, mematikan lampu kamar, dan membiarkan dirinya ditelan kegelapan.
Layar monitor berubah menjadi hitam dan putih karena mode penglihatan malam (night vision) otomatis aktif. Julian bisa melihat Clara berbaring, matanya terbuka lebar menatap langit-langit dalam kegelapan.
Julian bersandar kembali, detak jantungnya kini kembali normal, digantikan oleh sensasi dingin yang menyenangkan. Clara ternyata lebih cerdik dari yang ia duga. Dia tidak hanya memiliki jiwa yang sulit ditaklukkan, dia sedang mencoba bermain peran di dalam permainannya sendiri.
"Begitu rupanya," Julian berbisik pada kegelapan ruang monitornya. "Kau ingin menantang sang fotografer, Clara?"
Julian meraih ponselnya, jarinya menari di atas layar, mengirimkan sebuah pesan singkat yang akan diterima Clara saat ia bangun besok pagi. Sebuah undangan untuk sesi foto privat di Studio 404 pada jam tiga pagi—jam di mana pertahanan manusia berada pada titik terendah.
Ia menatap monitor satu kali lagi sebelum mematikannya. Bayangan Clara yang diam mematung di atas tempat tidur adalah komposisi yang sempurna. Julian tahu, mahakarya terakhirnya tidak akan didapatkan dengan mudah, dan itulah yang membuatnya sangat berharga.
"Besok," ucap Julian pelan, "aku akan memastikan lensaku menangkap sisa-sisa terakhir dari keberanianmu."
Di keheningan ruangan itu, hanya suara dengung mesin pendingin server yang terdengar, sementara Julian mulai merencanakan sudut pengambilan gambar yang akan mengabadikan kehancuran Clara secara permanen. Pengorbanan untuk seni baru saja dimulai, dan ia tidak sabar untuk melihat pose terakhir apa yang akan diberikan modelnya besok.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!