Lensa Maut: Pose Terakhir di Studio 404

Bab 5: Bab 5 - Menyelidiki suara aneh di balik dinding apartemen

Pengaturan Membaca

Apartemen ini terlalu hening. Keheningan yang seharusnya terasa mewah, hasil dari dinding kedap suara di lant** dua puluh delapan, kini justru terasa menekan gendang telinga Clara. Ia duduk di sofa beludru kelabu, memandangi pantulan dirinya di jendela kaca besar yang menghadap kerlap-kerlip lampu Jakarta. Di atas meja kopi, sebuah buket bunga lili putih kiriman Julian mulai layu, menebarkan aroma manis yang memuakkanβ€”aroma yang mengingatkannya pada rumah duka.

Clara mencoba memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan kilatan lampu strobo dari sesi foto tadi siang. Julian adalah seorang perfeksionis yang kejam. "Sedikit lagi, Clara. Berikan aku jiwamu, bukan hanya wajahmu," bisik pria itu tadi, suaranya sedingin lensa kamera.

*Zzzzt... klik.*

Mata Clara terbuka sentak. Ia menahan napas. Suara itu sangat tipis, hampir tenggelam oleh desis halus pendingin ruangan. Ia menunggu, jantungnya berdegup melawan sunyi.

*Zzzzt... zzzzt... klik.*

Suara itu berasal dari dinding di sebelah kanan. Clara bangkit berdiri, kakinya yang te******* menyentuh lant** marmer yang dingin. Ia melangkah perlahan, seolah-olah lant** itu bisa retak di bawah bebannya. Suara itu bukan berasal dari pipa air atau gesekan kabel listrik. Itu adalah suara mekanis yang ritmis. Suara yang sangat ia kenal selama tiga bulan terakhir: suara motor penggerak lensa yang sedang melakukan fokus otomatis.

Ia berhenti tepat di depan cermin besar berbingkai perak yang mendominasi ruang tamu. Cermin itu adalah hadiah dari Julian pada minggu pertama ia pindah ke sini. "Agar kau selalu ingat betapa indahnya mahakaryaku," kata Julian saat itu.

Clara mendekatkan telinganya ke permukaan kaca yang dingin.

*Zzzzt.*

Suaranya terdengar dari balik cermin. Jantungnya kini berdentum keras, seperti tabuhan genderang yang m****akkan telinga di dalam dadanya. Ia mundur selangkah, menatap cermin itu dengan pandangan baru. Cermin itu tingginya hampir dua meter, tertanam kokoh di dinding. Clara menyentuh bingkai peraknya, jemarinya gemetar. Ia mencari celah, mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Ia mengambil ponselnya, menyalakan lampu kilat, dan menempelkan cahaya itu tepat ke permukaan kaca. Teknik lama yang ia baca di forum internet tentang privasi hotel. Jika cahaya menembus dan ia bisa melihat apa yang ada di balik kaca, maka itu adalah cermin dua arah.

Cahaya senter ponselnya memantul, membutakan matanya sendiri. Gagal. Cermin itu tampak solid.

Namun, rasa gatal di tengkuknya tidak hilang. Intuisi yang selama ini membantunya bertahan di kerasnya persaingan industri model kini berteriak memperingatkannya. Clara meraba bagian bawah bingkai perak yang berukir rumit. Di sana, di sudut tersembunyi yang tertutup bayangan, ia merasakan sesuatu yang janggal. Sebuah sekrup kecil tampak lebih longgar daripada yang lain.

Dengan kuku jarinya, Clara mencoba memutar sekrup itu. Perlahan, dengan napas yang memburu, ia berhasil melonggarkannya hingga sekrup itu jatuh ke karpet tanpa suara. Ia melakukan hal yang sama pada sudut satunya. Dengan tenaga yang tersisa, ia menarik sedikit bagian bawah bingkai itu.

Cermin itu tidak menempel mati pada dinding. Ada engsel tersembunyi di bagian atas.

Clara menarik napas panjang, lalu perlahan mengayunkan bagian bawah cermin itu menjauh dari dinding. Hanya beberapa sentimeter, tapi itu sudah c**up. Bau debu dan oli mesin menyeruak keluar. Ia mengarahkan cahaya ponselnya ke celah sempit di balik cermin tersebut.

Duniaya seolah runtuh seketika.

Di balik permukaan reflektif itu, tersembunyi sebuah lubang kecil yang dipahat kasar di dinding beton. Dan di dalam lubang itu, sebuah lensa kamera kecil bertengger diam seperti mata predator yang tak pernah berkedip. Kamera itu tidak memiliki badan yang terlihat, hanya kabel-kabel tipis yang menjulur ma**k lebih dalam ke dalam kegelapan dinding.

Lensa itu bergerak. *Zzzzt.*

Bagian optiknya maju-mundur, mencoba mencari fokus pada wajah Clara yang kini hanya berjarak beberapa inci darinya. Cahaya merah kecil di samping lensa itu berkedip perlahanβ€”tanda bahwa ia sedang merekam, sedang mengirimkan setiap det**l ketakutan di wajah Clara ke suatu tempat.

Lutut Clara terasa lemas. Ia teringat saat ia berganti pakaian di ruang tamu ini, saat ia menari sendirian merayakan kontrak barunya, saat ia menangis di sofa karena tekanan kerja. Semuanya. Julian melihat semuanya.

Ia bukan sekadar muse. Ia adalah spesimen di bawah mikroskop.

"Ba******," bisik Clara, suaranya pecah.

Ia buru-buru menutup kembali cermin itu, memastikannya merapat ke dinding. Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia hampir menjatuhkan ponselnya. Ia mundur menjauh dari cermin, merasa seolah-olah setiap inci kulitnya sedang diraba oleh ribuan pasang mata.

Pandangannya kini menyapu seluruh ruangan. Jika ada satu di balik cermin, di mana lagi Julian menyembunyikannya? Di balik detektor asap? Di dalam lubang ventilasi? Di sela-sela lampu gantung kristal yang megah itu?

Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k.

Dari Julian.

Clara ragu-ragu sejenak sebelum membuka pesan itu. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek, namun c**up untuk membuat darahnya membeku.

*β€œKau terlihat sangat cantik saat sedang penasaran, Clara. Tapi hati-hati, rasa ingin tahu bisa merusak ekspresi murni yang sedang kita bangun.”*

Clara memandang ke arah kamera tersembunyi di balik cermin, lalu ke arah pintu apartemen yang terkunci rapat. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: apartemen mewah ini bukan hadiah. Ini adalah studio foto terbesar milik Julian, dan ia baru saja menyadari bahwa dirinya adalah objek yang tak boleh keluar dari bingkai sebelum pemotretan selesai.

Dan yang lebih mengerikan, ia tidak tahu kapan Julian akan menekan tombol *shutter* untuk terakhir kalinya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca