Lant** marmer Studio 404 terasa sedingin es di bawah telapak kaki Clara, meskipun ia mengenakan sepatu hak tinggi yang seharusnya memberikan jarak antara dirinya dan tanah. Udara di dalam ruangan luas itu berbau ozon dan pembersih lensa, sebuah aroma yang biasanya membangkitkan gairah seninya, namun pagi ini aroma itu justru membuatnya mual. Di ujung ruangan, di bawah sorot lampu tunggal yang dramatis, Julian berdiri membelakanginya, jemarinya yang panjang dan lentik sedang mengutak-atik tripod seolah itu adalah instrumen musik yang rapuh.
Clara meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan titik merah kecil yang berkedip dari balik lubang ventilasi di apartemen barunya masih menghantui kornea matanya. Ia tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia merasa ribuan lensa sedang menguliti kulitnya, menembus privasinya hingga ke tulang.
"Kau terlambat sepuluh menit, Clara," suara Julian memecah keheningan. Suaranya tenang, datar, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. Ia tidak menoleh.
"Aku tidak bisa tidur, Julian," jawab Clara, suaranya sedikit bergetar namun ada nada tajam di sana. "Sulit untuk tidur ketika kau merasa ada mata yang menatapmu dari setiap sudut ruangan. Bahkan di kamar mandi."
Julian berhenti bergerak. Keheningan yang mengikuti terasa begitu padat hingga Clara bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu. Perlahan, Julian memutar tubuhnya. Wajahnya yang simetris dan pucat tidak menunjukkan keterkejutan. Sebaliknya, ia memberikan senyum tipis yang tampak hampir... bangga.
"Jadi, kau sudah menemukannya," ucap Julian pelan. Ia melangkah mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas lant** studio. "Aku sempat bertaruh dalam hati berapa lama waktu yang kau butuhkan. Kau lebih tajam dari yang kukira."
"Kenapa, Julian?" Clara melangkah mundur, instingnya meneriakkan bahaya, namun kemarahannya lebih besar. "Kamera di ruang tamu, di kamar tidur... bahkan di tempat paling pribadi. Itu bukan bagian dari kontrak. Itu ilegal. Itu gangguan privasi!"
Julian berhenti tepat di depan Clara. Ia jauh lebih tinggi, dan bayangannya menelan tubuh mungil model itu. Ia tidak tampak seperti seorang predator yang tertangkap basah; ia tampak seperti seorang guru yang sedang menjelaskan hukum alam kepada murid yang bingung.
"Privasi?" Julian mengulang kata itu seolah-olah itu adalah konsep kuno yang sudah tidak relevan. "Clara, sayangku, kau datang padaku karena kau ingin menjadi mahakarya. Kau ingin dunia melihatmu, memujamu, menjadikannya abadi. Bagaimana aku bisa menangkap esensi sejatimu jika kau hanya berakting di depan kamera studiku?"
"Itu tidak memberi izin padamu untuk memata-mat** hidupku 24 jam!" seru Clara, suaranya menggema di dinding studio yang kedap suara.
Julian mengangkat tangan, jemarinya hampir menyentuh pipi Clara namun berhenti di udara, seolah sedang mengukur pencahayaan yang jatuh di wajahnya. "Ini bukan tentang memata-mat**. Ini tentang studi pencahayaan. Aku perlu tahu bagaimana cahaya bulan menyentuh kulitmu saat kau gelisah di tempat tidur. Aku perlu melihat bagaimana otot lehermu menegang saat kau merasa sendirian. Itulah kejujuran, Clara. Itulah seni yang tidak bisa dipalsukan."
Ia berjalan memutari Clara, seperti seekor hiu yang mengitari mangsa. "Dan soal keamanan... kau adalah aset berharga sekarang. Muse-ku. Aku harus memastikan kau aman. Di luar sana banyak orang yang ingin menghancurkan keindahan sepertimu. Di apartemen itu, kau berada di bawah pengawasanku. Kau aman dalam bingkaiku."
"Aman?" Clara tertawa getir, matanya mulai memanas. "Aku menemukan syal sutra di balik lemari, Julian. Syal milik Elena, model yang hilang tahun lalu. Kau bilang padaku apartemen itu baru didekorasi ulang. Bagaimana mungkin barang milik orang yang 'pergi ke luar negeri' masih ada di sana?"
Langkah Julian terhenti. Matanya yang gelap berkilat sesaat, sebuah emosi yang sulit dibaca melintas di sanaβmungkin kekaguman, mungkin juga sesuatu yang lebih gelap. Ia menarik napas panjang, aroma parfum kayunya yang berat memenuhi indra penciuman Clara.
"Setiap model meninggalkan jejak, Clara. Beberapa meninggalkan kesan, yang lain meninggalkan sampah," Julian menjawab dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Clara berdiri. "Jika kau terlalu fokus pada masa lalu, kau akan kehilangan momen masa depanmu. Bukankah kau yang bilang ingin menjadi yang terbaik? Ingin melampaui semua orang yang pernah berdiri di posisi ini?"
Julian berjalan menuju monitor besar di sudut studio dan menekan sebuah tombol. Layar itu menyala, menampilkan serangkaian foto hitam putih. Itu adalah foto Clara. Namun, bukan foto yang diambil di studio ini. Itu adalah foto Clara yang sedang menangis di sofa apartemennya tadi malam, memegang kamera tersembunyi yang ia temukan. Di foto itu, ekspresi ketakutan dan kerentanan Clara terlihat begitu mentah, begitu indah, dan begitu mengerikan.
"Lihat ini," bisik Julian, matanya terpaku pada layar dengan obsesi yang g***. "Lihat bagaimana bayangan ini membelah wajahmu. Ini adalah emosi murni. Ketakutan adalah pencahayaan terbaik yang pernah ada. Kau tidak akan pernah bisa memberikan pose seperti ini jika kau tahu aku sedang memotretmu."
Clara merasa kakinya lemas. Ia melihat dirinya sendiri di layar ituβbukan sebagai manusia, melainkan sebagai objek eksperimen. Ia menyadari bahwa perdebatan ini tidak akan membuahkan hasil. Julian tidak melihat adanya kesalahan moral; baginya, moralitas hanyalah gangguan bagi estetika.
"Aku akan pergi," bisik Clara, suaranya hampir hilang. "Aku tidak bisa melakukan ini lagi."
Clara berbalik untuk lari menuju pintu keluar, namun suara berat Julian menghentikannya di ambang pintu.
"Pintu itu terkunci secara elektronik dari sini, Clara," kata Julian tanpa menoleh dari layar monitornya. "Dan jangan lupa, kontrak yang kau tanda tangani memberikan hak penuh padaku atas seluruh citra dan representasi dirimu selama satu tahun ke depan. Jika kau pergi sekarang, kau bukan hanya akan jatuh miskin karena denda penalti, tapi aku akan memastikan tidak ada satu pun agensi di dunia ini yang mau melihat wajahmu lagi. Kau akan menjadi hantu sebelum kau sempat menjadi bintang."
Clara berpegangan pada gagang pintu yang dingin, bahunya gemetar. Ia menoleh perlahan dan melihat Julian sudah memegang kamera Hasselblad-nya, membidiknya dengan lensa yang tampak seperti lubang hitam yang siap menelan jiwanya.
"Sekarang," ujar Julian dengan suara lembut yang mematikan, "berdirilah di bawah lampu itu. Aku ingin melihat bagaimana ekspresi keputusasaanmu berinteraksi dengan bayangan di sudut ruangan. Jangan hapus air matamu, Clara. Itu adalah aksesori paling mahal yang kau kenakan hari ini."
Saat lampu studio yang sangat terang menyala dengan bunyi *klik* yang tajam, Clara menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kamera tersembunyi itu: Julian tidak hanya ingin memotretnya. Ia ingin memilikinya sepenuhnya, sampai tidak ada lagi yang tersisa dari Clara selain selembar kertas foto yang dingin. Dan di balik lensa itu, Clara bisa melihat kilatan obsesi Julian yang baru saja dimulaiβsebuah fase yang ia sebut sebagai 'persiapan menuju keabadian'.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!