Cahaya biru dari layar laptop memantul di kornea mata Clara, menciptakan bayangan tajam yang menonjolkan tulang pipinya yang makin tirus. Di luar, langit Jakarta sedang murung; gerimis tipis membasahi kaca jendela apartemen mewahnya, menyamarkan lampu-lampu kota menjadi noktah-noktah cahaya yang buram. Namun, Clara tidak peduli dengan pemandangan mahal di baliknya. Jemarinya menari gelisah di atas *keyboard*, mengetikkan satu nama yang terus menghantuinya sejak ia menemukan sebuah anting perak di celah sofa kemarin pagi.
*Maya Adrianti.*
Nama itu seharusnya ada di mana-mana. Julian pernah menyebutnya sebagai "mahakarya yang belum selesai". Sebagai model yang katanya pernah menjadi wajah utama untuk kampanye *fashion* kelas atas dua tahun lalu, Maya seharusnya meninggalkan jejak digital yang masif. Clara menekan tombol *Enter* dengan harapan yang membubung.
Hasilnya: *0 results found.*
Clara mengerutkan kening. Ia mencoba lagi dengan variasi nama yang berbeda. *Maya Adrianti Model. Maya Adrianti Julian Photography. Maya Adrianti Missing.*
Layar itu hanya berkedip, menampilkan baris teks dingin: *Your search did not match any documents.*
"Tidak mungkin," bisik Clara. Suaranya serak, seolah tenggorokannya tersumbat debu. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan, ritmenya seperti ketukan palu yang menuntut jawaban.
Ia beralih ke situs-situs agensi model ternama. Ia mencari di bagian 'Alumni' atau 'Former Models'. Di mana pun Julian pernah bekerja sama, Maya seharusnya ada di sana. Clara menggulir halaman dengan cepat, matanya memindai barisan foto model yang tersenyum kaku dan berpose dramatis. Namun, wajah yang ia cariβwajah yang ia lihat sekilas di salah satu kliping koran lama di gudang Julianβsama sekali tidak muncul.
Seolah-olah Maya Adrianti tidak pernah terlahir ke dunia.
Clara mencoba mengakses tautan lama dari blog komunitas fotografer yang membahas tentang "Muse Julian". Saat ia mengeklik salah satu tautan yang menjanjikan portofolio lengkap Maya, layar berubah putih bersih sebelum memunculkan angka besar yang terasa seperti tamparan: *404 - Page Not Found.*
"Sial!" Clara memukul meja kerja berbahan marmer itu. Rasa dingin merambat dari permukaan meja ke telapak tangannya.
Ia mencoba ma**k ke Wayback Machine, mencoba memanggil kembali memori internet yang seharusnya tersimpan di server. Ia mema**kkan URL situs pribadi Julian dari dua tahun lalu. Bar kemajuan bergerak lambat, merayap seolah sedang melawan arus yang sangat kuat. Saat halaman itu akhirnya terbuka, Clara menahan napas. Ada bingkai-bingkai kosong dengan ikon gambar yang rusak.
Semua foto yang menampilkan subjek wanita telah dihapus secara manual. Bukan sekadar kedaluwarsa, tapi dihilangkan dengan presisi bedah.
"Julian, apa yang kamu sembunyikan?" gumamnya pelan.
Ia merasa diawasi. Secara refleks, Clara melirik ke sudut plafon, ke arah detektor asap yang ia curigai menyembunyikan lensa kecil di baliknya. Ia segera merapatkan piyama sutranya, seolah kain tipis itu bisa melindunginya dari tatapan tak kasat mata yang mungkin sedang mengint** dari balik tembok. Sejak pindah ke apartemen ini, perasaan "tidak sendirian" itu menjadi bayang-bayang yang permanen.
Clara tidak menyerah. Ia membuka aplikasi pesan singkat dan mencari kontak seorang jurnalis mode yang pernah mewawancarainya bulan lalu, seseorang bernama Rian yang dikenal memiliki arsip gosip industri yang tak ada habisnya.
*Clara: "Rian, kamu ingat model bernama Maya Adrianti? Yang dulu sering sama Julian?"*
Butuh waktu lima menit yang menyiksa sebelum ponselnya bergetar.
*Rian: "Maya? Wah, itu nama yang sudah lama tidak kudengar. Dia menghilang dari peredaran, kan? Katanya dia pindah ke luar negeri untuk sekolah desain. Kenapa nanya?"*
*Clara: "Aku butuh lihat portofolionya buat referensi pose. Tapi aneh, aku nggak bisa temukan satu pun fotonya di internet. Semuanya hilang."*
*Rian: "Masa sih? Tunggu bentar."*
Clara menunggu dengan kaki yang terus bergerak gelisah di bawah meja. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit. Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela dengan suara yang terdengar seperti bisikan-bisikan parau.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini Rian mengirimkan pesan suara. Clara mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Clara, ini aneh banget," suara Rian terdengar berbisik, ada nada cemas yang tidak bisa disembunyikan. "Aku baru cek *database* kantor dan arsip digital majalah kita. Semua artikel yang ada nama Maya-nya sudah ditarik. Bahkan foto-fotonya di server internal kami pun hilang. Katanya ada 'permintaan privasi dari pihak hukum'. Seseorang dengan uang dan kekuasaan besar sudah membersihkan jejaknya, Clar. Saranku? Jangan terlalu dalam mencarinya. Julian bukan orang yang suka privasinya diganggu."
Ponsel itu hampir jatuh dari tangan Clara. Dingin merayap naik ke tengkuknya. Ini bukan sekadar masalah persaingan antar model. Ini adalah penghapusan eksistensi. Maya bukan hanya hilang; dia sedang "ditiadakan".
Tiba-tiba, suara kunci pintu apartemen berputar.
*Ceklek.*
Clara tersentak. Ia segera menutup semua tab di browsernya dan mematikan layar laptop dengan gerakan panik. Ia bangkit berdiri tepat saat pintu terbuka, menampakkan sosok tinggi Julian yang berdiri di ambang pintu. Pria itu masih mengenakan *turtleneck* hitam favoritnya, wajahnya yang simetris dan pucat tampak kontras dengan kegelapan lorong di belakangnya.
"Belum tidur, Clara?" suara Julian berat dan tenang, namun bagi Clara, itu terdengar seperti suara pisau yang diasah.
Julian melangkah ma**k, matanya langsung tertuju pada laptop Clara yang masih hangat di atas meja. Ia berjalan mendekat, gerakannya luwes seperti predator yang sudah tahu di mana mangsanya berada.
"Aku... aku hanya sedang mencari inspirasi untuk pemotretan besok," dalih Clara, berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar memburu.
Julian berdiri sangat dekat dengannya. Clara bisa mencium aroma kayu cendana dan bahan kimia kamar gelap yang selalu melekat pada pria itu. Julian meletakkan tangannya di atas laptop Clara, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh punggung tangan Clara sejenak.
"Jangan terlalu lelah. Kecantikanmu adalah asetku, dan aku tidak suka melihat ada kantung mata di 'mahakaryaku'," Julian berbisik, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Clara, seolah ia bisa membaca sisa-sisa pencarian internet yang baru saja dilakukan gadis itu.
Julian kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah kartu memori SD.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Julian dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Foto-foto sesi kemarin sudah kuedit. Kamu ingin melihatnya?"
Clara mengangguk kaku, takut untuk menolak. Julian mema**kkan kartu itu ke slot laptop Clara dan menyalakannya kembali. Layar yang tadinya gelap kini menyala, menampilkan foto-foto Clara dalam berbagai pose dramatis di Studio 404.
Namun, saat Julian menggulir foto-foto itu, pada satu bingkai yang berkedip cepat karena gangguan teknis, Clara melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Di latar belakang foto dirinya yang sedang berpose di atas kursi antik, di area bayangan yang seharusnya gelap total, ada pantulan di cermin tua yang ada di sudut ruangan.
Bukan pantulan dirinya. Melainkan pantulan seorang wanita dengan gaun yang sama, namun dengan wajah yang pucat pasi dan mata yang terlihat seperti sedang menjerit minta tolong.
"Julian... itu apa?" suara Clara tercekat.
Julian dengan tenang mengklik foto berikutnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Itu hanya masalah pencahayaan, Clara. Efek lensa yang sempurna sering kali menciptakan ilusi yang indah, bukan?"
Clara tahu itu bukan ilusi. Ia mengenal wajah itu dari kliping yang ia lihat. Itu Maya. Dan dalam foto itu, Maya tidak sedang berpose. Dia sedang ketakutan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!