Lensa kamera ini adalah satu-satunya jendela yang jujur di dunia ini. Melalui lubang intip kecil ini, aku tidak melihat manusia sebagai tumpukan daging dan emosi yang merepotkan, melainkan sebagai komposisi cahaya, garis, dan—yang terpenting—kerapuhan.
Aku mengusap permukaan lensa Leica milikku dengan kain mikrofiber, gerakannya repetitif dan menenangkan. Di luar sana, di balik pintu kedap suara Studio 404, dunia berputar dengan kacau. Namun di sini, aku adalah tuhan yang menentukan kapan waktu berhenti.
Clara adalah kanvas terbaik yang pernah kutemukan dalam satu dekade terakhir. Ada sesuatu dalam struktur tulang pipinya yang menangkap bayangan dengan cara yang hampir... puitis. Tapi dia mulai menjadi tidak sabar. Aku bisa merasakannya dari caranya berjalan ma**k ke ruangan pagi ini. Langkah kakinya tidak lagi seringan biasanya; ada beban keraguan yang menyeret tumitnya.
"Kita mulai lebih awal hari ini, Clara," kataku tanpa mengalihkan pandangan dari lampu studio yang sedang kusetel. Aku menggeser payung reflektor, menciptakan sudut tajam yang akan membelah wajahnya menjadi dua sisi: terang yang palsu dan gelap yang jujur.
"Bukankah jadwal untuk sesi 'Intimitas' baru lusa, Julian?" Suara Clara terdengar sedikit bergetar. Dia berdiri di ambang cahaya, mengenakan jubah sutra tipis yang kusediakan.
"Inspirasi tidak mengenal kalender," jawabku datar. Aku berbalik, menatapnya lurus. Aku bisa melihat denyut nadi di lehernya yang jenjang. Cepat. Gugup. "Keindahan yang kucari darimu adalah keindahan yang spontan. Jika kita menunggu lusa, kau mungkin sudah belajar bagaimana cara berpura-pura di depan kameraku. Aku tidak butuh akting. Aku butuh jiwamu yang te*******."
Aku melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum melatinya yang bercampur dengan sedikit bau keringat dingin. Aku mengangkat tangan, jemariku berhenti tepat beberapa milimeter dari dagunya. Aku tidak menyentuhnya; sentuhan fisik terlalu kasar. Aku lebih suka menyentuhnya dengan cahaya.
"Naik ke platform. Gunakan kursi kayu itu. Aku ingin kau merasa kecil, terpojok, namun tetap... memikat," instruksiku.
Clara menurut, meski gerakannya kaku. Dia duduk di kursi tanpa sandaran itu, di tengah lingkaran cahaya putih yang dingin. Aku mulai membidik. *Klik. Klik.* Bunyi rana kamera adalah musik bagiku.
"Duduk lebih tegak. Biarkan bahumu jatuh. Jangan menatapku, tataplah kekosongan di belakangku," bisikku.
Dia melakukan apa yang kuminta, tapi ada sesuatu yang salah. Matanya. Matanya tidak lagi menunjukkan kepasrahan yang murni. Ada kilatan menyelidik di sana.
"Julian," dia memulai, suaranya memecah keheningan yang sakral ini. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Kau sedang berpose, Clara. Pertanyaan hanya akan merusak garis bibirmu."
Dia tidak berhenti. "Tentang model-model sebelum aku... Elena, misalnya. Ke mana mereka pergi setelah sesi terakhir mereka? Foto-foto mereka di galeri bawah tanahmu... mereka terlihat sangat nyata. Terlalu nyata."
Tanganku yang berada di ring fokus mendadak membeku. Ruangan itu seolah menyusut. Udara terasa berat oleh bau bahan kimia kamar gelap yang entah bagaimana merembes ma**k. Aku menurunkan kamera perlahan, membiarkannya tergantung di leherku seperti beban timah.
"Elena?" aku mengulang nama itu. Rasanya seperti mengunyah kaca. "Dia mencapai puncaknya di sini. Dia menjadi abadi. Itulah yang diinginkan setiap model, bukan? Agar tidak terlupakan?"
"Tapi tidak ada yang melihatnya lagi setelah itu," potong Clara. Dia sekarang mencondongkan tubuh ke depan, keluar dari zona cahaya yang kusiapkan. "Aku menemukan sebuah bros di laci meja rias apartemen. Bros perak berbentuk sayap. Itu milik Elena, kan? Kenapa barang-barangnya masih ada di sana seolah dia pergi dengan terburu-buru?"
Aku merasakan kedutan di pelipis kiriku. Sebuah irama yang tidak sinkron mulai menabuh di dalam kepalaku. Berani-beraninya dia menggeledah? Berani-beraninya dia merusak tatanan yang sudah kubangun dengan begitu rapi?
"Setiap muse meninggalkan jejak," kataku, suaraku naik satu oktav, lebih tajam dari yang kukira. "Dan kau tidak punya hak untuk mempertanyakan proses kreatifku atau apa yang ditinggalkan oleh mereka yang sudah lewat."
"Aku hanya merasa... ada yang tidak beres," gumamnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Ketidakstabilan itu menghantamku seperti gelombang. Aku berjalan cepat ke arahnya, membuat Clara tersentak dan hampir jatuh dari kursi. Aku mencengkeram lengan kursi di kedua sisi tubuhnya, mengurungnya. Wajahku hanya beberapa inci dari wajahnya. Aku bisa melihat pantulan diriku yang tampak gelap dan terdistorsi di pupil matanya.
"Kau tahu apa yang tidak beres, Clara?" bisikku dengan suara yang serak oleh amarah yang tertahan. "Ketidakpatuhanmu. Kau di sini karena kau ingin menjadi seseorang. Kau ingin dicitrakan sebagai mahakarya. Tapi mahakarya tidak bertanya. Mahakarya tidak punya rasa ingin tahu yang dangkal tentang masa lalu. Mahakarya hanya... ada."
Aku melepaskan cengkeramanku dan mundur selangkah, napas dan emosiku masih berantakan. Aku benci ketika kontrolku lepas. Aku benci ketika mereka mulai bertingkah seperti manusia, bukan seperti objek seni.
"Kita selesaikan sesi ini sekarang juga," kataku sambil menyambar kamera lagi. Tanganku sedikit gemetar saat mengganti lensa ke ukuran 85mm—lensa potret yang paling intim. "Lepaskan jubahmu. Aku ingin sesi 'Intimitas' ini mencapai puncaknya malam ini. Aku tidak peduli jika kau belum siap."
"Tapi, Julian, lampunya... kau belum mengatur ulang lampunya," Clara menyadari bahwa aku mulai bekerja dengan serampangan, sebuah anomali bagi seorang Julian yang perfeksionis.
"Cahaya tidak penting lagi!" teriakku, membuat suaraku menggema di dinding-dinding studio yang dingin. "Rasa takutmu... ekspresi kecemasan itu... itu adalah cahaya yang terbaik! Jangan bergerak!"
Aku membidikkan kamera padanya seperti moncong senjata. Di dalam kepalaku, suara-suara dari masa lalu—suara Elena, suara Sofia, suara mereka semua—mulai berbisik, menuntut agar Clara segera bergabung dengan mereka di dalam bingkai kaca yang beku.
Clara menatapku dengan horor yang murni, dan di saat itulah, aku menekan tombol rana berkali-kali. Cahaya lampu kilat meledak berulang-ulang, membutakan, seperti petir di dalam ruangan tertutup.
"Satu sesi lagi," gumamku pada diri sendiri, mengabaikan isak tangis kecil yang mulai keluar dari bibir Clara. "Hanya perlu satu pose terakhir yang sempurna, dan kau akan tetap cantik selamanya, Clara. Kau tidak akan pernah menua, tidak akan pernah bertanya lagi, dan tidak akan pernah meninggalkanku."
Aku menatap layar kecil di kamera, melihat gambar-gambar yang baru saja kuambil. Bayangan Clara tampak seperti hantu yang terperangkap. Aku tersenyum tipis. Jadwal harus dipercepat. Aku tidak bisa membiarkannya melarikan diri sebelum frame terakhir terisi.
Saat aku mendongak, aku melihat Clara sedang menatap pintu keluar yang terkunci rapat, dan aku tahu, dia baru saja menyadari bahwa studio ini bukan tempat untuk memulai karier, melainkan sebuah peti mati yang dilapisi beludru mewah.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!