Bunyi kunci yang berputar di lubangnya terasa seperti dentang lonceng pembebasan bagi Mira. Begitu pintu kayu bercat krem itu tertutup rapat di belakangnya, ia segera menyandarkan punggung pada daun pintu, memejamkan mata, dan mengembuskan napas panjang yang telah ia tahan selama berjam-jam di kampus.
Udara di dalam kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu terasa pengap, sisa panas matahari siang tadi masih terjebak di antara dinding-dinding beton. Namun bagi Mira, ini adalah surga. Di sinilah satu-satunya tempat di dunia di mana ia tidak perlu menjadi "Mira si mahasiswi Arsitektur yang rapi" atau "Mira yang santun berhijab".
Tangannya yang gemetar karena kelelahan mulai melepas jarum pentul di bawah dagu. Ia melakukannya dengan gerakan yang saksama, menancapkan jarum-jarum itu pada bantalan kecil di atas meja gambar yang dipenuhi gulungan kertas kalkir dan penggaris segitiga. Begitu kain pashmina itu terlepas, ia merasakan kulit lehernya akhirnya bisa bernapas. Namun, kelegaan itu belum lengkap.
Mira menatap cermin rias yang retak di sudut ruangan. Bayangannya tampak lusuh; kemeja flanel longgar yang ia kenakan terlihat kusut, menyembunyikan lekuk tubuh yang selama ini selalu menjadi beban baginya. Bagi orang lain, mungkin bentuk tubuhnya adalah anugerah, namun bagi Mira, itu adalah sumber rasa tidak aman yang konstan. Di luar sana, ia merasa setiap mata lelaki seolah memiliki sinar-X yang mencoba menembus lapisan kainnya. Ia benci perhatian itu. Ia benci bagaimana ia harus membungkukkan bahu agar dadanya tidak terlalu menonjol, sebuah kebiasaan yang mulai membuat punggungnya sering terasa nyeri.
"Sakit sekali," gumamnya lirih sambil memijat bahunya yang kaku.
Ia mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. Saat kain itu jatuh ke lant**, ia segera meraih pengait b** di punggungnya. Dengan sekali sentakan ahli, beban berat yang menekan dadanya seharian itu terlepas. Mira mengerang pelan, sebuah suara antara rasa sakit dan nikmat. Ia memandangi bekas kemerahan yang melingkar di bawah dadanya dan jejak tali yang menekan dalam di pundaknya. Kulitnya terasa gatal karena keringat yang terjebak di balik busa dan kawat sepanjang hari.
Kini, ia hanya mengenakan kaus dalam tipis tanpa lengan. Ia membiarkan rambut hitamnya yang sebahu tergerai berantakan. Tanpa lapisan kain yang menyesakkan, ia merasa lebih ringan, seolah-olah beban tugas studio perancangan yang menumpuk di mejanya ikut menguap untuk sejenak.
Namun, hawa panas di kamar itu mulai terasa tidak tertahankan. Keringat kembali merembes di keningnya. Kipas angin kecil di sudut ruangan hanya memutar udara hangat yang sama ke seluruh penjuru. Mira menatap ke arah jendela besar di sisi kamarnya yang tertutup rapat oleh tirai beludru berwarna cokelat tua.
Jendela itu menghadap langsung ke arah gang sempit, dan di seberangnya berdiri sebuah gedung apartemen tua yang jaraknya hanya sekitar sepuluh meter. Biasanya, Mira tidak pernah berani membiarkan jendela itu terbuka lebar. Ia terlalu takut jika ada seseorang yang tidak sengaja melihat ke arah kamarnya.
Tetapi malam ini, udara terasa sangat statis. Paru-parunya seolah meronta meminta oksigen yang lebih segar. Ia merasa tercekik dalam kotak beton ini.
Mira mendekati jendela dengan ragu. Ia mematikan lampu utama kamarnya, menyisakan hanya cahaya remang-remang dari lampu belajar di atas meja arsitekturnya. Dalam kegelapan, ia merasa memiliki perisai. Logikanya berkata, jika lampu mati, orang di luar sana hanya akan melihat kegelapan.
Dengan tangan yang sedikit lembap, ia menyibakkan tirai beludru itu sedikit. Ia menunggu sebentar, mengamati gedung di seberang. Sebagian besar jendela di sana tertutup, hanya ada beberapa lampu yang menyala redup. Jalanan di bawah sunyi, hanya sesekali terdengar deru motor dari kejauhan.
"Cuma sebentar," bisiknya pada diri sendiri.
Ia membuka kunci gerendel jendela dan mendorong daun jendela kacanya ke luar. Seketika, angin malam yang sejuk menerobos ma**k, membelai kulit leher dan bahunya yang te*******. Mira memejamkan mata, membiarkan rambutnya tertiup pelan. Rasanya luar biasa. Seolah-olah beban yang menumpuk di dadanya benar-benar luruh bersama angin itu.
Ia berdiri di sana selama beberapa menit, menikmati sensasi kebebasan yang langka ini. Ia membiarkan dirinya berdiri tegak, membusungkan dada tanpa rasa takut atau malu, menghirup aroma tanah setelah hujan yang terbawa angin malam. Di dalam kegelapan kamarnya, Mira merasa seperti ratu di istananya sendiri, tak tersentuh oleh penilaian dunia.
Ia menoleh ke arah meja gambarnya, menatap draf denah bangunan yang harus ia selesaikan besok. Dengan energi baru dari udara segar ini, mungkin ia bisa terjaga beberapa jam lagi untuk menyelesaikan det**l fasadnya.
Mira baru saja hendak berbalik menuju mejanya ketika sebuah kilatan kecil menangkap sudut matanya.
Itu hanya berlangsung sepersekian detik. Sebuah pantulan cahaya yang sangat tajam, seolah-olah ada kaca yang memantulkan cahaya lampu jalan di gedung seberang. Mira membeku. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan keras.
Ia menyipitkan mata, menatap ke arah salah satu jendela di lant** tiga gedung apartemen seberang. Jendela itu gelap, tertutup rapat, tapi ada sesuatu yang janggal di sana. Sesuatu yang tampak lebih gelap daripada kegelapan di sekitarnya. Sebuah bentuk siluet yang statis, tidak bergerak, namun terasa sangat intens menatap ke arahnya.
Mira menahan napas. Apakah itu kamera? Ataukah hanya bayangan dari struktur bangunan?
Rasa aman yang baru saja ia rasakan seketika hancur berkeping-keping. Udara yang tadi terasa sejuk kini terasa dingin menggigit, membuat bulu kuduknya meremang. Ia merasa tiba-tiba te*******, meski ia berada di dalam kamarnya yang gelap.
Dengan gerakan cepat yang hampir panik, ia menarik daun jendela dan menguncinya kembali. Ia menyentakkan tirai beludru hingga tertutup rapat, memastikan tidak ada celah sedikit pun yang tersisa.
Mira berdiri bersandar pada tembok di samping jendela, napasnya memburu. Ia memeluk tubuhnya sendiri, meraba kulit bahunya yang tadi terasa bebas. Pikirannya mulai berputar liar. *Apakah ada yang melihatku? Tidak, lampunya mati. Tidak mungkin ada yang bisa melihat ke dalam.*
Ia mencoba menenangkan dirinya, menyalahkan imajinasinya yang terlalu aktif karena kelelahan mengerjakan tugas kuliah. Ia berjalan menuju tempat tidur dengan langkah gont**, berusaha mengabaikan perasaan tidak enak yang merayap di tengkuknya.
Namun, tepat saat ia hendak merebahkan tubuhnya, ponselnya yang tergeletak di atas bantal bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal.
Mira meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Layarnya menyala terang di tengah kegelapan kamar, menyilaukan matanya sejenak. Ia membuka pesan itu, dan seketika dunianya seolah berhenti berputar.
Pesan itu berisi sebuah foto.
Foto dirinya sendiri yang sedang berdiri di depan jendela terbuka beberapa saat lalu. Meski kamarnya gelap, sensor kamera itu tampaknya c**up canggih untuk menangkap siluet tubuhnya dengan sangat jelas, memperlihatkan garis bahunya yang terbuka dan rambutnya yang tergerai.
Di bawah foto itu, sebuah baris teks muncul:
*βTernyata arsitektur tubuhmu lebih menarik daripada gambar denah di mejamu, Mira. Jangan tutup tirainya dulu, malam masih panjang.β*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!