Ujung jari telunjukku menggantung kaku di atas layar ponsel yang menyala redup. Di sana, di kolom pencarian Google, kata "Lapor Polisi Cyber Crime" masih berkedip-kedip, seolah-olah sedang mengejek keragu-raguanku. Keringat dingin merembes dari balik inner hijab yang kukenakan, menciptakan rasa lembap yang tidak nyaman di sekitar pelipis. Sejak teror itu dimulai, aku bahkan tidak berani lagi melepas hijab di dalam kamarku sendiri, seolah-olah kain tipis ini adalah satu-satunya perisai yang tersisa dari mata yang mengint** di luar sana.
Tepat saat aku memberanikan diri untuk menekan tombol cari, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar. Jantungku mencelos, berdentum keras menghantam rongga dada.
*Satu pesan baru dari 'Penonton Setia'.*
Tanganku gemetar hebat. Aku ingin melempar ponsel itu ke dinding, tetapi rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan memaksaku untuk membukanya. Itu adalah sebuah tautan Google Drive, diikuti oleh sebuah pesan singkat yang sanggup membekukan darahku.
"Jangan lakukan hal bodoh, Mira. Satu langkah kakimu menuju kantor polisi, maka satu klik dariku akan membuat seluruh Fakultas Teknik mengenal setiap lekuk tubuhmu tanpa sehelai benang pun."
Napas melompat-lompat di tenggorokan. Aku membuka tautan itu. Layar ponsel segera dipenuhi oleh deretan *thumbnail* foto. Itu aku. Di kamarku. Malam-malam saat aku merasa aman, saat aku hanya ingin membiarkan kulitku bernapas dari ketatnya b** dan lapisan pakaian yang kupakai sepanjang hari. Foto-foto itu diambil dengan lensa yang sangat tajam; aku bisa melihat ekspresi legaku saat melepas kaitan pakaian dalam, butiran keringat di pundakku, dan kelegaan yang kini berubah menjadi aib yang mematikan.
Aku menutup mulut dengan telapak tangan, menahan mual yang tiba-tiba naik ke pangkal kerongkongan. Ruang kos berukuran tiga kali empat meter ini, yang dulunya adalah tempat suciku, kini terasa seperti kotak kaca di tengah pasar. Aku merasa te*******, meskipun saat ini aku mengenakan tunik panjang dan jilbab yang rapi.
*Ping.*
"Kamu pikir polisi akan peduli?" Pesan berikutnya ma**k. "Mereka akan bertanya: 'Kenapa jendelanya dibuka? Kenapa tidak pakai baju di depan jendela?' Kamu tahu bagaimana dunia ini bekerja, Mira. Korban selalu menjadi pihak yang paling menarik untuk disalahkan. Apalagi mahasiswi berhijab sepertimu. Bayangkan apa kata dosen-dosenmu? Apa kata orang tuamu di kampung saat melihat anak kebanggaan mereka jadi bintang p**** di grup WhatsApp angkatan?"
Aku jatuh terduduk di lant** yang dingin. Bayangan wajah Ayah yang keras namun penuh harap melintas di benakku. Beliau bekerja banting tulang di toko kelontong hanya agar aku bisa meraih gelar Arsitek. Jika foto-foto ini tersebar, aku tidak hanya menghancurkan diriku sendiri; aku membunuh mereka secara perlahan dengan rasa malu.
Hukum? Aku teringat beberapa ka**s serupa yang pernah kubaca di berita. Prosesnya panjang, melelahkan, dan seringkali identitas korban malah menjadi konsumsi publik. Masyarakat tidak akan ingat siapa pelakunya, tapi mereka akan selalu ingat det**l tubuh korban yang mereka lihat di layar ponsel mereka. Stigma itu akan melekat selamanya, lebih permanen daripada tinta tato.
"Apa yang kamu mau?" jemariku mengetik dengan gemetar, air mata setetes demi setetes jatuh membasahi layar.
Hening sejenak. Aku bisa mendengar detak jam dinding yang seolah-olah berdetak lebih kencang, menghitung sisa waktu hidupku yang tenang. Di luar, angin malam mendesir, memainkan tirai jendela yang sekarang sudah kututup rapat dan kupaku pinggirannya agar tidak ada celah sedikit pun. Namun, aku tetap merasa ada sepasang mata yang menembus kayu dan semen dinding kamarku.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini sebuah foto terlampir.
Itu adalah foto punggungku yang sedang duduk di lant** saat ini, diambil dari sudut yang sangat tinggi. Aku tersentak, menengadah ke langit-langit kamar dengan mata terbelalak. Tidak ada apa-apa di sana selain lampu neon yang berkedip-kedip. Namun, sudut pengambilan gambar itu... itu bukan dari luar jendela.
"Aku tidak butuh uang, Mira," bunyi pesan itu. "Aku hanya ingin kamu tetap menjadi 'pemandangan' pribadiku. Malam ini, jam dua pagi, buka tiraimu. Biarkan lampu kamar tetap menyala. Jangan pakai apa-apa. Jika aku melihat ada bayangan polisi atau orang lain di sekitar kosmu, kamu tahu apa yang akan terjadi. Tombol 'Send to All' sudah siap di bawah jempolku."
Rasa ngeri yang murni menjalar dari tulang belakang hingga ke ujung kaki. Dia tidak hanya di seberang gedung. Dia ada di suatu tempat yang bisa melihatku *sekarang*. Mungkin dia memasang kamera tersembunyi di dalam kamar ini saat aku sedang kuliah? Atau mungkin dia adalah seseorang yang selama ini punya akses ma**k ke sini?
Aku memeluk lututku, merapatkan tubuh ke sudut ruangan yang paling gelap, mencoba menghilang dari pandangan apa pun yang mungkin sedang mengawasiku. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.45. Aku punya waktu kurang dari tiga jam sebelum aku harus memilih: menyerahkan martabatku pada pengint** itu, atau membiarkan dunia menghakimiku atas kenyamanan yang diam-diam kulakukan di ruang pribadiku.
Tiba-tiba, terdengar suara gesekan halus dari arah jendela. *Sruk... sruk...*
Seolah-olah ada sesuatu yang sengaja digoreskan ke kaca dari luar. Aku menahan napas, mataku terpaku pada tirai abu-abu yang kini tampak seperti monster yang siap menerkam. Suara itu berhenti, berganti dengan suara ketukan pelan. Tiga kali.
*Tok. Tok. Tok.*
Bukan dari pintu depan. Tapi dari jendela di lant** dua ini. Jantungku seakan berhenti berdetak saat sebuah pesan terakhir ma**k, membuat ponselku bergetar di atas lant** kayu.
"Buka sekarang, atau aku yang ma**k untuk membukanya untukmu."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!