Tanganku gemetar saat ujung obeng kecil itu menyentuh sekrup di sudut bingkai jendela. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang seolah ingin melompat keluar dari rusuk. Di atas meja gambar yang biasanya dipenuhi penggaris T dan kalkun, kini tergeletak sebuah perangkat kecil yang kusamatkan di sela-sela tumpukan buku arsitektur tebal. Sebuah kamera pengint** mini yang kubeli secara daring dengan akun anonim, tersembunyi di dalam lubang kecil yang kubuat pada punggung buku *Neufert*.
Ini adalah wilayah privasiku. Kamar kos berukuran tiga kali empat meter ini seharusnya menjadi benteng. Namun, sejak pesan-pesan teror itu ma**k ke ponselku—menampilkan foto-foto diriku dari balik kaca ini—setiap jengkal udara di sini terasa beracun.
Aku melirik jam dinding. Pukul 21.15. Waktu di mana predator itu biasanya mulai mengint**.
Aku berdiri di depan cermin besar, masih mengenakan gamis dan jilbab instan yang longgar. Bayanganku tampak kaku. Di bawah kain-kain ini, tubuhku terasa berat. Rasa tidak nyaman yang biasanya kuhilangkan dengan melepas segala atribut saat pintu terkunci, kini berganti menjadi rasa jijik karena aku tahu ada sepasang mata di luar sana yang menguliti setiap gerak-gerikku.
"Kamu harus tenang, Mira," bisikku pada diri sendiri. Suaraku parau, nyaris tak terdengar di antara deru kipas angin tua.
Aku melangkah menuju sakelar lampu pusat dan mematikannya. Kini, hanya lampu meja belajar yang menyala, memberikan pencahayaan dramatis yang sudah kuperhitungkan sudutnya. Sebagai mahasiswi Arsitektur, aku tahu persis bagaimana cahaya bekerja. Aku telah memetakan posisi gedung tua di seberang jalan itu. Dari lant** tiga kamarku, sudut pandang paling optimal bagi pengint** itu adalah dari jendela koridor lant** empat gedung apartemen kumuh tersebut.
Tanganku meraih tali gorden. Kain beludru berwarna krem itu terasa dingin dan kasar di ujung jariku. Aku bisa merasakan keringat dingin merembes di balik jilbabku. Malam ini, aku bukan hanya mangsa. Aku adalah umpan.
Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, seolah-olah aku sedang menikmati kesendirianku, aku menarik tirai itu. *Sret.*
Hembusan angin malam langsung menyapu wajahku, membawa aroma aspal basah dan debu kota. Aku berdiri mematung di dekat jendela, membiarkan tubuhku terpapar oleh kegelapan di luar sana. Mataku menyisir fasad gedung seberang. Gelap. Hanya ada beberapa lampu balkon yang berkedip sekarat. Namun, aku tahu dia ada di sana. Aku bisa merasakan sensasi geli yang menusuk di tengkukku—perasaan seperti diawasi yang tak pernah salah.
Aku mulai menjalankan skenario. Aku bergerak ke arah lemari, membelakangi jendela, lalu perlahan tanganku meraih ritsleting belakang gamisku. Aku tidak benar-benar membukanya; aku hanya menyentuhnya, memberikan ilusi bahwa 'pertunjukan' akan segera dimulai. Ini adalah bagian yang paling berbahaya. Jika aku terlalu cepat, dia mungkin tidak akan mendekat ke lensa. Jika aku terlalu lambat, aku mungkin akan kehilangan nyaliku.
Ponselku yang diletakkan telungkup di atas ka**r bergetar. Satu getaran pendek yang tajam.
Jantungku berdegup kencang. Dengan tangan yang masih berada di ritsleting, aku melirik layar ponsel dari sudut mata. Sebuah notifikasi pesan muncul.
*“Malam ini kamu terlihat ragu, Mira. Apa ada yang mengganggumu? Jangan malu, tirainya sudah terbuka lebar.”*
Mual seketika menghantam perutku. Dia benar-benar sedang menonton. Ba****** itu ada di sana, di suatu tempat di kegelapan, mungkin dengan lensa tele 600mm yang bisa menangkap helai rambutku.
Aku berbalik perlahan, berpura-pura hendak mengambil sesuatu di meja dekat jendela. Di sinilah 'jebakan' itu berada. Aku telah meletakkan sebuah cermin kecil dengan sudut kemiringan empat puluh lima derajat di balik tumpukan maket. Cermin itu sejajar dengan kamera pengint**mu yang tersembunyi di buku *Neufert*. Tujuanku sederhana: jika dia menggunakan lampu fokus atau jika ada pantulan cahaya dari lensanya, kamera miniku akan menangkap titik koordinatnya dengan jelas.
Aku menarik napas, lalu melakukan gerakan yang paling kubenci. Aku melepas jilbab instanku, membiarkan rambut hitamku terurai jatuh ke bahu. Aku merasa te*******, meskipun aku masih mengenakan pakaian lengkap di balik bayangan remang-remang. Aku memposisikan diriku tepat di depan jendela, seolah-olah sedang menghirup udara malam.
"Ayo," bisikku dalam hati, menatap tajam ke arah gedung seberang yang gelap. "Tunjukkan dirimu."
Detik demi detik berlalu seperti siksaan. Aku merasa seperti binatang yang diikat di tengah hutan, menunggu serigala menerkam. Kemudian, aku melihatnya. Sebuah kilatan kecil. Sangat tipis, nyaris tak terlihat jika aku tidak sedang mencarinya. Itu adalah pantulan cahaya bulan—atau mungkin lampu jalan—yang mengenai permukaan kaca lensa di lant** empat gedung seberang.
Kamera miniku di dalam buku *Neufert* berkedip sekali. Sensor gerakannya menangkap sesuatu. Perangkat itu terhubung langsung ke laptopku yang layarnya sengaja kumatikan.
Tiba-tiba, ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan pesan teks. Sebuah pangg***n ma**k. *Unknown Number*.
Tanganku gemetar hebat saat aku meraih ponsel itu. Aku menekan tombol hijau dengan ragu, lalu menempelkannya ke telinga. Aku tidak bersuara. Hanya ada suara napas berat di ujung sana. Suara yang ritmis, tenang, namun penuh intimidasi.
"Kamu pikir kamu pintar, Mira?" suara itu rendah, serak, dan terdistorsi oleh alat pengubah suara.
Duniaku seolah runtuh. Bagaimana dia tahu?
"Kamu memasang kamera di dalam buku itu," lanjutnya. "Sangat kreatif untuk seorang mahasiswi Arsitektur. Tapi kamu lupa satu hal."
Aku terpaku, kakiku terasa lemas seperti jeli. Mataku mencari-cari di kegelapan gedung seberang, tapi kilatan lensa itu sudah hilang.
"Apa?" suaraku keluar sebagai bisikan yang hancur.
"Kamu lupa menutup pintu kamarmu dengan benar sebelum mematikan lampu."
Darahku mendadak dingin. Aku tidak berani menoleh. Namun, dari pantulan kaca jendela yang gelap di depanku, aku melihat bayangan pintu kamarku yang tadinya tertutup rapat, kini sedikit terbuka. Sebuah celah hitam yang memperlihatkan lorong kos yang remang-remang.
Dan di celah itu, sebuah tangan pucat yang mengenakan sarung tangan hitam perlahan-lahan mendorong pintu.
Ponsel di telingaku kembali mengeluarkan suara, kali ini dengan nada yang hampir menyerupai tawa kecil.
"Jangan buka tirai malam ini, Mira... karena aku sudah berada di dalam."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!