Tangan Mira gemetar hebat saat ia menyesuaikan *ring zoom* pada lensa kamera DSLR miliknya. Di dalam kamar yang gelap gulita, satu-satunya cahaya berasal dari layar kecil di belakang kamera dan kerlip lampu jalan yang menembus celah sempit tirai. Keringat dingin merembes dari balik jilbab instan yang ia kenakan terburu-buru, membasahi tengkuknya. Ia merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri, bernapas sependek mungkin agar suara parunya tidak mengacaukan keheningan yang mencekam.
Malam ini, ia tidak akan menjadi mangsa lagi.
Gedung tua di seberang jalan itu tampak seperti raksasa hitam yang penuh lubang mata. Di lant** empat, pada jendela ketiga dari sudut kiri, Mira tahu sang pengint** berada di sana. Selama berminggu-minggu, sosok itu telah mencuri privasinya, mengambil potret-potret dirinya dalam keadaan paling rentan, dan mengirimkan pesan-pesan yang membuat Mira merasa kotor bahkan di bawah kucuran air mandi yang paling panas sekalipun.
*Klik.*
Suara halus dari gerakan di seberang sana membuat jantung Mira seolah melompat ke tenggorokan. Ia menempelkan matanya ke *viewfinder*. Melalui lensa tele 200mm yang ia pinjam dari laboratorium kampus dengan alasan tugas maket, dunia di seberang sana menjadi begitu dekat.
Sosok itu muncul.
Awalnya hanya siluet kabur yang bergerak di balik bayangan balkon. Sosok itu tampak sedang mengatur sesuatuβsebuah tripod, pikir Mira dengan geram. Amarah mulai membakar rasa takutnya. Berani-beraninya orang itu menganggap tubuhnya sebagai objek yang bisa dikoleksi seperti piala.
Mira menahan napas, jarinya tertahan di atas tombol rana. Ia membutuhkan satu momen saja. Satu sapuan cahaya lampu jalan yang tepat, atau pantulan lampu dari kendaraan yang lewat, untuk mengungkap siapa pengecut di balik lensa itu.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV melintas di jalan bawah, lampunya menyapu fasad gedung seberang dengan cahaya putih yang menyilaukan. Pada detik yang sama, sosok di balkon itu mencondongkan tubuh ke depan, seolah ingin memastikan apakah Mira benar-benar sudah tidur atau sedang mengintip dari balik kain gordennya.
*Ceklek-ceklek-ceklek!*
Mira menekan tombol rana dalam mode *burst*. Cahaya dari layar kamera sempat menyinari wajahnya selama sepersekian detik, namun ia tidak peduli. Ia terus memotret hingga sosok itu tersentak, menyadari ada kilatan dari arah kamar Mira, dan segera mundur kembali ke dalam kegelapan.
Pintu balkon di seberang tertutup dengan bantingan yang meski tak terdengar, bisa dirasakan getarannya oleh Mira.
Mira terduduk lemas di lant** ubin yang dingin. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Ia merasa mual, namun rasa ingin tahunya lebih kuat. Dengan tangan yang masih menggigil, ia memutar roda navigasi pada kamera, mencari hasil foto terakhir yang diambilnya dalam mode rentetan tadi.
"Dapat..." bisiknya dengan suara serak. "Tolong, biarkan gambarnya jelas."
Ia memperbesar foto itu pada layar LCD kecil. Foto pertama: hanya siluet hitam. Foto kedua: buram karena guncangan tangannya. Foto ketiga: cahaya lampu mobil tadi menghantam tepat ke arah balkon.
Mira menarik napas tajam. Ia memperbesar lagi gambarnya. Piksel demi piksel mulai membentuk kontur wajah yang tidak asing. Garis rahang itu, kacamata berbingkai tipis itu, dan jaket almamater yang tersampir di bahunya.
Dunia seolah berhenti berputar. Mira merasa oksigen di dalam kamarnya mendadak lenyap.
"Tidak mungkin..." gumamnya. Suaranya pecah menjadi isak kecil yang tertahan.
Wajah yang tertangkap di layar kameranya bukan wajah orang asing yang menyeramkan. Bukan pula wajah penjaga kos yang sering menatapnya aneh, atau orang mesum dari jalanan.
Itu adalah Kak Arlan.
Arlan, asisten dosen di jurusannya yang selama ini dikenal paling sopan. Pria yang dua hari lalu membantunya membawakan maket yang berat ke lant** tiga. Pria yang selalu memuji ketelitian Mira dalam merancang bangunan, yang selalu tersenyum ramah setiap kali mereka berpapasan di koridor kampus. Arlan, yang baru tadi sore mengirimkan pesan singkat menanyakan apakah Mira baik-baik saja karena terlihat pucat saat kelas Studio Arsitektur.
Rasa jijik yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala Mira. Ternyata, tangan yang sama yang membantunya merapikan garis gambar itu adalah tangan yang sama yang memegang kamera untuk mengint**nya saat ia melepas hijab dan pakaiannya di kamar ini.
Tiba-tiba, ponsel Mira yang tergeletak di atas ka**r bergetar. Cahaya layarnya menerangi langit-langit kamar yang gelap.
Satu notifikasi pesan ma**k. Dari nomor yang tidak dikenal, namun Mira tahu itu adalah *dia*.
Mira merangkak mendekat, jemarinya yang dingin menyentuh layar ponsel. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek, namun c**up untuk membuat seluruh bulu kuduk Mira berdiri.
*βHasil fotonya bagus, kan, Mira? Tapi sayangnya, kameramu tidak secepat milikku. Lihat ke bawah jendela sekarang.β*
Jantung Mira berdentum kencang. Dengan keberanian yang tersisa, ia menggeser sedikit tirai dan melirik ke arah trotoar tepat di bawah jendela kamarnya.
Di sana, di bawah lampu jalan yang temaram, berdiri sesosok pria. Ia tidak lagi berada di gedung seberang. Ia sudah menyeberang. Arlan berdiri diam, menengadah tepat ke arah jendela Mira. Ia tidak mencoba bersembunyi. Sebaliknya, ia perlahan mengangkat ponselnya ke telinga, seolah sedang melakukan pangg***n.
Detik berikutnya, ponsel di tangan Mira berdering. Nama yang muncul di layar adalah: **Kak Arlan (Asdos).**
Suara dering itu terasa seperti alarm kematian di dalam kamar yang sunyi itu. Mira terpaku, menatap ponselnya yang terus berteriak, sementara di bawah sana, Arlan tersenyum lebar ke arah jendelanyaβsebuah senyuman yang kini tampak begitu predator. Arlan perlahan menggerakkan jarinya, memberi isyarat agar Mira membuka tirai lebar-lebar.
Pilihan Mira sekarang hanya dua: menjawab telepon itu dan mendengar suara sang monster, atau tetap diam sementara sang monster tahu persis di mana ia berada.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!