Udara di dalam gedung tua ini terasa jauh lebih dingin daripada angin malam yang biasanya menyelinap ma**k melalui jendela kamar kosku. Bau apak debu yang bercampur dengan aroma logam berkarat memenuhi indra penciumanku, membuat kerongkonganku terasa gatal. Aku merapatkan jaket denimku, berusaha meredam gemetar di ujung jari yang bukan karena suhu, melainkan karena adrenalin yang dipompa paksa oleh rasa takut yang luar biasa.
Langkah kakiku nyaris tak terdengar di atas lant** beton yang retak. Berkat ingatan visualku sebagai mahasiswi Arsitektur, aku sudah memetakan tata letak gedung ini hanya dengan mengamatinya dari seberang jalan selama berhari-hari. Lant** tiga, pintu kayu berwarna abu-abu kusam dengan bekas stiker yang terkelupas. Itulah targetku. Itulah tempat di mana kehormatanku—potongan-potongan privasiku yang ia curi—disimpan dalam sebuah benda kecil bernama *hard drive*.
Saat tanganku menyentuh gagang pintu, sebuah gelombang mual menghantam lambungku. Aku memutar kenopnya perlahan. *Klik.* Tidak dikunci.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh pendar biru dari tiga monitor komputer yang menyala di atas meja panjang. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat apa yang terpampang di layar-layar itu. Foto-fotoku. Ada yang saat aku sedang mengerjakan tugas maket dengan rambut terurai, ada yang saat aku sedang merenggangkan tubuh dengan hanya mengenakan pakaian dalam setelah seharian terikat aturan sosial dan hijab yang ketat. Semua momen paling rapuh dan pribadiku terpampang di sana, dikurasi seperti koleksi mengerikan.
"Indah, bukan? Perspektif dari sudut ini memang yang terbaik."
Suara bariton itu muncul dari kegelapan di sudut ruangan, membuatku tersentak hingga hampir terjatuh. Seorang pria muncul dari balik bayangan. Ia tidak setinggi yang kubayangkan, namun tubuhnya tegap dan matanya—mata itu menatapku dengan binar posesif yang membuat kulit kudukku meremang. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah kabel data.
"Kembalikan *hard drive* itu," suaraku bergetar, tapi ada kemarahan yang mulai membakar rasa takutku.
Pria itu terkekeh, langkahnya maju perlahan, seolah sedang menyudutkan mangsa yang sudah ma**k perangkap. "Kau berani juga datang ke sini, Mira. Tapi kau tahu, kau terlihat jauh lebih cantik tanpa kain-kain yang menutupi lehermu itu."
Rasa jijik yang luar biasa meledak di dadaku. Mataku menyapu meja kerja di depannya, dan di sana, tepat di samping keyboard, terletak sebuah kotak hitam kecil. *Hard drive* itu. Tanpa berpikir panjang, aku menerjang maju.
"Jangan sentuh!" teriaknya.
Tangannya yang kasar mencengkeram bahuku sebelum jemariku sempat menyentuh benda itu. Ia menyentakku ke belakang hingga punggungku menghantam rak buku tua. Rasa sakit menjalar dari tulang belikatku, tapi aku tidak boleh menyerah sekarang. Jika aku gagal, hidupku selesai. Skandal ini akan menghancurkan orang tuaku, masa depanku, segalanya.
Aku menendang tulang keringnya sekuat tenaga. Ia mengerang kesakitan, cengkeramannya mengendur. Aku memanfaatkan detik itu untuk meraih penggaris besi panjang yang tergeletak di meja—alat yang biasa kugunakan untuk memotong karton maket—dan mengayunkannya memb*** buta.
"Kau g***!" umpatnya, menangkis seranganku dengan lengannya. Ia kembali menerjang, kali ini menjatuhkanku ke lant**.
Berat tubuhnya menindihku, membuatku sulit bernapas. Tangan kirinya berusaha menahan kedua tanganku di atas kepala, sementara tangan kanannya meraba saku jaket dan hijabku, berusaha menarik paksa kain yang melindungi identitasku. "Kau pikir kau siapa, hah? Kau itu cuma objek yang kusimpan dalam kotak hitam ini!"
Bau keringat dan napasnya yang busuk berada tepat di depan wajahku. Air mata mulai menggenang, tapi aku menolak untuk membiarkannya jatuh. Dengan sisa tenaga, aku membenturkan dahiku ke hidungnya sekuat mungkin. Suara *krak* terdengar dibarengi dengan teriakan kesakitannya. Darah segar menetes dari hidungnya, mengenai pipiku.
Cengkeramannya lepas. Aku berguling, menyambar *hard drive* itu dari meja dengan gerakan refleks yang didorong oleh kepanikan murni. Aku berlari menuju pintu, tapi ia lebih cepat. Ia menjambak bagian belakang hijabku, menariknya hingga aku tercekik.
"Berikan benda itu, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup!" ancamnya dengan suara parau yang dipenuhi kebencian.
Aku terengah-engah, jemariku mencengkeram *hard drive* itu dengan sangat erat hingga kuku-kukuku memutih. Rasa sakit di leherku akibat tarikan kain hijab semakin menjadi, tapi amarah di dalam diriku jauh lebih besar. Aku menoleh sedikit, menatap matanya yang liar dengan pandangan yang paling tajam yang pernah kuberikan pada siapa pun.
"Kau bisa mengambil nyawaku," desisku di antara gigi yang mengatup, "tapi kau tidak akan pernah memiliki rahasia pribadiku lagi."
Aku menyikut ulu hatinya dengan seluruh berat tubuhku. Saat ia terbungkuk kesakitan, aku menyentakkan kepalaku hingga kain hijab yang ia pegang terlepas sebagian, menyingkap leher dan sebagian rambutku yang selama ini kusembunyikan dari dunia luar. Aku tidak peduli lagi. Aku berlari keluar ruangan, menyusuri lorong gelap dengan napas yang memburu.
Namun, di ujung lorong, langkahku terhenti. Pintu keluar yang tadi kugunakan untuk ma**k kini tertutup rapat dan terdengar bunyi kunci yang diputar dari luar. Di belakangku, langkah kaki pria itu terdengar semakin mendekat, lambat dan berirama, seolah ia sedang menikmati permainan kucing dan tikus ini.
Aku terjepit. Di depanku pintu terkunci, di belakangku ada monster yang terluka. Aku menatap *hard drive* di tanganku, lalu menatap jendela kaca besar di samping lorong yang menghadap langsung ke jalan raya di bawah sana. Ketinggian ini mematikan, tapi aku tidak punya pilihan lain.
Tepat saat pria itu muncul di ujung koridor dengan sebilah pisau lipat yang berkilau di bawah lampu darurat yang berkedip, aku mengangkat *hard drive* itu tinggi-tinggi.
"Berhenti di situ," teriakku, kakiku melangkah mundur mendekati kaca. "Satu langkah lagi, dan benda ini akan hancur bersama denganku di bawah sana!"
Pria itu berhenti, wajahnya yang bersimbah darah tampak ragu. Tapi kemudian, sebuah senyum miring muncul di bibirnya yang robek. "Kau tidak akan berani, Mira. Kau terlalu takut untuk mati."
Ia mulai berlari kencang ke arahku. Aku memejamkan mata, memeluk *hard drive* itu di dadaku, dan menghantamkan punggungku ke kaca jendela. Bunyi kaca pecah yang m****akkan telinga menjadi satu-satunya suara yang kudengar sebelum kegelapan malam menelan tubuhku.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!