Lampu strobo merah-biru yang berputar-putar di langit-langit kamarku terasa seperti hantaman palu yang berdenyut di pelipis. Suara sirene itu sudah mati, tapi gaungnya masih tersisa di telingaku, bercampur dengan detak jantung yang memacu adrenalin hingga ke ujung jari. Aku meremas ujung khimar hitamku, memilin kainnya sampai buku jariku memutih.
Di luar, lorong kos yang biasanya tenang kini riuh oleh langkah kaki berat dan bisik-bisik tetangga kamar yang terbangun. Ruang pribadiku, benteng terakhir yang kupunya, kini terasa asing karena kehadiran dua orang pria berseragam cokelat dan Rian yang berdiri canggung di ambang pintu.
"Ini koordinat pastinya, Pak," suara Rian terdengar parau. Ia menyodorkan laptopnya kepada seorang polisi paruh baya yang nametag-nya tertulis 'Baskoro'. "Sinyal pengiriman data terakhir berasal dari gedung apartemen di seberang, lant** empat, unit 402. Tepat sejajar dengan jendela kamar Mira."
Pak Baskoro mengangguk, lalu beralih menatapku. Tatapannya tidak kasar, tapi sangat menyelidik, seolah-olah dia sedang mencoba membaca lapisan rahasia di balik ekspresi datarku. "Mbak Mira, kami butuh pernyataan resmi sekarang. Saya tahu ini sulit, tapi kami butuh det**lnya."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti disumpal segenggam pasir. "Det**l... yang seperti apa, Pak?"
"Semuanya," sahut rekan Pak Baskoro, seorang polisi muda yang sibuk mencatat. "Kapan pertama kali Mbak merasa diawasi? Dan, maaf jika ini menyinggung, tapi sejauh mana pelaku... mengambil gambar Mbak?"
Pertanyaan itu menghantamku tepat di ulu hati. Aku melirik ke arah jendela yang kini tertutup rapat oleh tirai tebal yang kupasang dua hari lalu. Bayangan tentang kilatan lensa dari kegelapan itu kembali muncul. Rasa malu yang panas merayap dari leher hingga ke pipi. Bagaimana aku harus mengatakannya? Bagaimana aku harus menjelaskan bahwa pria asing itu telah melihatku dalam keadaan paling rentan, tanpa hijab, tanpa pelindung, di tempat yang seharusnya menjadi satu-satunya ruang di mana aku bisa bernapas lega?
"Dia... dia mengambil foto saat saya sedang bersiap untuk tidur," suaraku bergetar, nyaris tidak terdengar. Aku membuang muka, tak sanggup melihat ekspresi kasihan di wajah Rian. "Saat saya... sedang tidak mengenakan pakaian lengkap."
Ruangan itu mendadak hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti bom waktu. Pak Baskoro berdehem, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
"Mbak Mira, kami akan melakukan penggerebekan ke lokasi yang diberikan Mas Rian sekarang juga. Saya minta Mbak tetap di sini bersama petugas lain. Setelah ini, Mbak harus ikut ke kantor untuk pembuatan BAP secara mendalam. Kami akan mengamankan perangkat milik pelaku sebagai barang bukti."
"Sekarang?" tanyaku dengan nada panik. "Harus ke kantor polisi malam ini juga?"
"Lebih cepat lebih baik, Mbak. Jika kita menunda, ada risiko pelaku menghapus jejak digitalnya atau melarikan diri," jelas Pak Baskoro tegas.
Aku mengangguk lemah. Kepalaku pening. Proses hukum ini terasa seperti mesin giling yang siap melumatku. Aku ingin ini semua berakhir, tapi di saat yang sama, aku takut pada apa yang akan ditemukan polisi di dalam komputer pria itu. Berapa banyak fotoku yang tersimpan di sana? Ke mana saja foto-foto itu dikirim?
Rian mendekat selangkah, suaranya pelan dan penuh simpati. "Mir, aku ikut ke kantor. Aku bakal bantu jelaskan bagian teknisnya supaya kamu nggak perlu terlalu banyak bicara kalau nggak kuat."
Aku hanya bisa menatapnya dengan rasa terima kasih yang tak terucap. Namun, ketakutan itu tidak hilang. Saat Pak Baskoro dan timnya bergegas menuju gedung seberang, aku berdiri di dekat jendela, memberanikan diri menyingkap sedikit celah tirai.
Dari sini, aku bisa melihat lampu di unit 402 menyala terang. Polisi mendob**k pintu. Ada keributan kecil, teriakan, dan bayangan-bayangan yang berkelebat di balik kaca jendela apartemen itu. Hatiku mencelos. Selama berbulan-bulan, dari jendela itulah seseorang telah 'memilikiku' tanpa izin.
Tak lama kemudian, mereka membawa seseorang keluar. Seorang pria dengan jaket hoodie gelap, wajahnya tertutup rapat. Tangannya diborgol. Saat pria itu digiring ma**k ke dalam mobil patroli, ia mendongak. Entah itu hanya perasaanku atau kenyataan, tapi kepalanya menoleh tepat ke arah jendelaku. Meskipun jaraknya jauh, aku bisa merasakan tatapan dingin itu menembus kaca, menembus tirai, dan menusuk langsung ke jantungku.
"Mari, Mbak Mira. Mobil sudah siap," petugas polisi muda itu menyentuh pundakku pelan, membuatku tersentak.
Aku mengambil tas dan memakai jaket panjang untuk menutupi tubuhku, meski aku sudah memakai hijab yang rapi. Aku merasa te*******. Aku merasa setiap pasang mata di koridor kos ini sedang menghakimiku saat aku berjalan keluar menuju mobil polisi.
Sesampainya di kantor polisi, bau kopi instan yang menyengat dan asap rokok menyambutku. Suasananya dingin dan tidak ramah. Aku didudukkan di sebuah kursi kayu keras di depan meja penyidik. Seorang polwan duduk di hadapanku, siap dengan komputer dan tumpukan kertas.
"Kita mulai ya, Mira. Ceritakan pelan-pelan," kata polwan itu dengan nada lebih lembut. "Kita mulai dari pesan teror pertama yang Mbak terima."
Aku mulai bicara. Satu per satu, kata-kata itu keluar seperti nanah yang diperas dari luka yang terinfeksi. Menyakitkan, memuakkan, tapi harus dilakukan. Aku menceritakan tentang perasaan tidak nyaman yang awalnya kuanggap paranoia, tentang bayangan lensa di balik kegelapan, hingga pesan-pesan eksplisit yang membuatku tidak bisa tidur berhari-hari.
Namun, saat polwan itu mulai menanyakan det**l tentang foto-foto yang mungkin sudah tersebar, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Pak Baskoro ma**k dengan wajah yang tampak lebih tegang dari sebelumnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kantong plastik transparan berisi sebuah hard drive eksternal dan beberapa lembar foto yang baru saja dicetak.
Ia meletakkan barang-barang itu di atas meja di depanku.
"Mbak Mira," suara Pak Baskoro terdengar berat, "kami menemukan ini di apartemen pelaku. Tapi ada sesuatu yang janggal."
Aku menunduk untuk melihat foto-foto yang berserakan di meja. Napasku tercekat. Itu memang fotoku di dalam kamar. Tapi di pojok salah satu foto, ada bayangan seseorang yang berdiri di sudut gelap kamarkuβdi dalam kamarku sendiriβmengambil gambar dari sudut yang tidak mungkin bisa diambil dari gedung seberang.
"Pelakunya bukan cuma orang di seberang itu, Mbak," bisik Pak Baskoro. "Ada seseorang yang punya akses ma**k ke kamar Mbak secara fisik."
Darahku terasa membeku. Dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Jadi, selama ini, dia tidak hanya menonton dari jauh. Dia pernah berada di sini. Di dekatku. Saat aku tidur.
Dan kunci cadangan kamarku... hanya ada di satu tempat.
Pikiranku langsung tertuju pada satu nama, dan saat itulah aku menyadari bahwa mimpi buruk ini baru saja mema**ki babak yang jauh lebih mengerikan.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!