Aroma cat baru yang masih tajam menusuk hidung biasanya akan membuat Mira pening, namun sore ini, bau kimiawi itu justru terasa seperti aroma kebebasan. Ia menyeka keringat yang membasahi dahi dengan punggung tangan, meninggalkan jejak debu tipis di kulitnya. Di sekelilingnya, kardus-kardus cokelat bertumpuk tidak beraturan, berisi potongan-potongan hidupnya yang berhasil ia selamatkan dari neraka sebelumnya.
Kamar kos baru ini tidak lebih luas dari yang lama. Namun, ada satu perbedaan krusial yang membuatnya rela membayar deposit dua kali lipat: jendela satu-satunya di ruangan ini menghadap langsung ke sebuah dinding bata kosong dari gudang tua yang tak berpenghuni. Tidak ada balkon seberang. Tidak ada lensa kamera yang bisa bersembunyi di balik kegelapan gedung tinggi. Hanya ada tembok mati yang bisu.
Mira berjalan mendekati jendela itu. Jari-jarinya yang gemetar menyentuh kain gorden berwarna biru tua yang baru saja ia pasang. Kain itu tebal, tipe *blackout* yang tidak akan membiarkan seberkas cahaya pun lolos, apalagi bayangan. Ia menariknya pelan, memastikan setiap senti bingkai jendela tertutup rapat.
"Sudah c**up," bisiknya pada sunyi. Suaranya terdengar serak, seolah ia baru saja belajar bicara lagi setelah sekian lama bungkam oleh ketakutan.
Ia duduk di tepi tempat tidur yang masih terbungkus plastik. Jantungnya berdegup kencang saat ia mulai melakukan rutinitas yang selama beberapa bulan terakhir menjadi sumber traumanya. Ia melepas peniti hijabnya satu per satu, meletakkannya di atas meja nakas dengan tangan yang masih sedikit tremor. Saat kain kerudung itu luruh ke bahunya, Mira menarik napas panjang. Udara di kamar ini terasa lebih jujur.
Namun, ketegangan itu belum sepenuhnya sirna. Kepalanya secara refleks menoleh ke arah sudut ruangan, mencari-cari lubang kecil atau kilatan lensa yang mungkin tersembunyi di balik sensor asap atau lubang ventilasi. Ingatan visualnya yang kuat sebagai mahasiswi Arsitektur justru menjadi kutukan sekarang; ia bisa memetakan setiap sudut ruangan dengan presisi, menghitung sudut pandang yang mungkin digunakan seseorang untuk mengintipnya.
Ia berdiri di depan cermin lemari yang retak di sudut. Ia menatap pantulan dirinyaβseorang perempuan yang tampak lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tak bisa disembunyikan oleh bedak setebal apa pun. Tangannya bergerak ke arah kancing kemeja flanelnya.
Satu kancing terbuka. Dua. Tiga.
Saat kemeja itu tersampir di sandaran kursi, Mira merasakan sesak yang biasa menghimpit dadanya. Bukan hanya sesak karena ukuran dadanya yang besar yang selalu ia sembunyikan di balik pakaian longgar dan hijab lebar, tapi sesak oleh rasa malu yang ditanamkan oleh teror sang pengint**. Selama ini, ia merasa bahwa kenyamanan fisiknya adalah sebuah dosa. Ia merasa bahwa keinginannya untuk bernapas lega tanpa kawat b** yang menusuk kulit adalah sebuah undangan bagi orang jahat.
Mira memejamkan mata erat-erat. Air mata hangat merembes dari sudut matanya.
"Ini hakku," ia bergumam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Ini ruanganku. Ini tubuhku."
Dengan gerakan pelan namun tegas, ia melepas b** yang terasa mencekik itu. Seketika, beban fisik itu terangkat, namun beban mentalnya masih terasa berat. Ia memeluk dirinya sendiri, merasakan kulitnya bersentuhan dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Selama beberapa menit, ia hanya berdiri di sana, di tengah remang kamar, mencoba merebut kembali kedaulatan atas dirinya sendiri yang sempat dicuri.
Privasi bukan sesuatu yang harus ia minta maafkan. Keinginannya untuk merasa nyaman di ruang pribadinya bukanlah sebuah kejahatan. Sang pengint**lah yang jahat, bukan dirinya.
Ia mulai membongkar salah satu kardus, mengambil beberapa buku sketsa dan alat tulisnya. Ia mencoba memfokuskan pikirannya pada tugas studio yang sudah tertunda berminggu-minggu. Tangannya mulai menggoreskan pensil di atas kertas putih, menciptakan garis-garis perspektif sebuah bangunan yang idealβbangunan dengan sistem keamanan terbaik, tanpa celah bagi mata asing.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas ka**r bergetar.
*Drrt... Drrt...*
Mira tersentak, pensilnya tertekan terlalu keras hingga patah. Ia menatap layar ponsel itu dari kejauhan dengan mata terbelalak. Selama seminggu terakhir, ia telah mengganti nomor telepon dan menghapus semua akun media sosialnya. Tidak ada yang tahu ia pindah ke sini kecuali pemilik kos dan ibunya di kampung.
Ia mendekat dengan hati-hati, seolah ponsel itu adalah bom yang siap meledak. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Hanya satu baris kalimat, namun c**up untuk membuat seluruh keberanian yang baru saja ia bangun runtuh seketika.
*βGorden biru yang cantik, Mira. Tapi kau lupa, suara gesekan kainnya terdengar jelas sampai ke bawah.β*
Mira membeku. Oksigen di sekitarnya seolah mendadak hilang. Matanya terpaku pada jendela yang tertutup rapat. Jika sang pengint** bisa mendengar gesekan gordennya, berarti dia tidak berada di gedung seberang.
Dia berada di dalam gedung yang sama.
Lutut Mira lemas, ia jatuh terduduk di lant** yang dingin sementara suara langkah kaki pelan terdengar berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Seseorang sedang berdiri di sana, hanya terpisah oleh selembar kayu tipis yang kini terasa tidak ada artinya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!