Udara malam di Jakarta Selatan terasa seperti selimut basah yang menempel di kulit—lembab, berat, dan menyesakkan. Begitu pintu kamar kos nomor 302 itu terkunci rapat, Mira menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang mulai mengelupas catnya. Ia mengembuskan napas panjang, sebuah pelepasan yang lebih bermakna daripada sekadar membuang karbondioksida. Di sinilah, di ruang berukuran 3x4 meter ini, topengnya retak dan hancur dengan sukarela.
Tangan Mira yang gemetar kecil mulai melepas jarum pentul di bawah dagunya. Kain jilbab berbahan voal itu meluncur jatuh ke pundak, menampakkan rambut hitam yang lepek karena keringat. Namun, kelegaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia melepas kancing kemeja flanelnya yang kebesaran.
Ia bergerak menuju cermin rias yang buram di pojok ruangan. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip manja, Mira mulai melonggarkan pengait b** yang sejak tadi pagi terasa seperti jerat besi yang membelit dadanya. Bagi orang lain, ukuran payudara yang besar mungkin dianggap sebagai anugerah estetik, namun bagi Mira, itu adalah beban ganda—beban fisik yang membuat punggungnya pegal luar biasa setelah seharian meringkuk di depan meja gambar, dan beban sosial yang membuatnya harus mengenakan pakaian berlapis-lapis demi menutupi lekuk tubuh yang tak ingin ia pamerkan.
"Akhirnya," bisiknya lirih.
Saat kain elastis itu terlepas sepenuhnya, Mira memejamkan mata. Ia merasakan sirkulasi darahnya kembali lancar, rasa sesak di diafragma itu menguap. Ia hanya mengenakan kaos dalam tipis tanpa lengan yang longgar, membiarkan kulitnya bernapas. Di kamar ini, ia tidak perlu menjadi Mira sang mahasiswi Arsitektur yang kaku dan selalu menunduk. Di sini, ia hanya seorang perempuan yang ingin merasa nyaman di dalam kulitnya sendiri.
Ia melangkah menuju jendela satu-satunya di kamar itu. Sesuai kebiasaannya setiap malam, ia membuka lebar-lebar daun jendela kayu tersebut. Kamarnya berada di lant** tiga, menghadap ke arah gang sempit yang memisahkan kosnya dengan sebuah gedung tua berlant** empat di seberang sana. Gedung itu adalah bangunan semi-kantor yang tampak kusam, dengan jendela-jendela kaca gelap yang sebagian besar selalu tertutup rapat.
Mira menyandarkan lengannya di ambang jendela, membiarkan angin malam yang tipis mengusap kulit bahunya yang terbuka. Ia menatap deretan jendela di gedung seberang. Pikirannya melayang pada tugas Studio Perancangan yang tak kunjung selesai. Sebagai calon arsitek, ia selalu terpesona dengan ritme jendela dan bayangan yang tercipta pada fasad bangunan saat malam hari. Matanya yang tajam mulai memindai det**l arsitektural gedung seberang secara tidak sadar—sebuah kebiasaan profesional yang sulit dihilangkan.
Namun, di tengah lamunannya tentang struktur beton, sesuatu yang asing tertangkap oleh sudut matanya.
Di lant** tiga gedung seberang, tepat sejajar dengan posisinya sekarang, ada sebuah jendela yang tirainya tidak tertutup sepenuhnya. Di balik celah sempit itu, ada sesuatu yang tidak pas. Sesuatu yang terlalu dingin dan keras untuk sekadar bagian dari furnitur kantor.
*Kilat.*
Hanya sepersekian detik. Sebuah kilatan cahaya kecil yang tajam, seperti pantulan kaca yang terkena sinar lampu jalan. Mira mematung. Jantungnya memberikan satu dentuman keras di balik tulang rusuknya.
Ia mengerjapkan mata, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi akibat kelelahan. *Mungkin itu hanya pantulan lampu mobil yang lewat di bawah,* pikirnya rasional. Namun, gang ini terlalu sempit untuk dilewati mobil, dan sudut pantulannya tidak ma**k akal.
Mira tidak bergerak. Ia menahan napas, matanya menyipit, memfokuskan seluruh memori visualnya pada celah tirai di seberang sana. Ia tahu sudut itu. Ia tahu bagaimana cahaya seharusnya jatuh di sana. Dan apa yang ia lihat sekarang tidak mengikuti hukum fisika yang ia pelajari.
Lalu, itu terjadi lagi.
Kali ini bukan sekadar pantulan pasif. Ada gerakan samar di balik kaca yang gelap itu. Sebuah benda bulat kecil yang menonjol keluar dari kegelapan, menangkap sisa cahaya dari lampu kamarnya yang terang benderang. Bentuknya sangat familiar bagi siapa pun yang pernah menyentuh kamera profesional.
Lensa.
Darah Mira seolah berhenti mengalir. Rasa dingin merayap dari ujung kakinya, menjalar naik hingga ke tengkuknya. Ia tiba-tiba merasa te******* secara harfiah, meski ia masih mengenakan kaos. Ia merasa seperti spesimen di bawah mikroskop.
"Enggak, enggak mungkin," gumamnya, suaranya serak.
Ia mencoba merasionalkan keadaan lagi. Mungkin itu hanya seseorang yang sedang memotret pemandangan kota? Tapi pemandangan apa yang bisa diambil dari gang sempit dan kumuh ini selain dinding kos-kosan dan jendela kamarnya?
Mira bergerak mundur perlahan, tanpa melepaskan pandangannya dari jendela seberang. Kakinya menyentuh kaki meja gambar, membuat pensil-pensil di atasnya bergetar. Pada saat itulah, ia melihat gerakan di balik lensa itu—sebuah gerakan menyesuaikan fokus. Dan di sana, di tengah kegelapan ruangan seberang, ia seolah bisa merasakan sepasang mata sedang mengamatinya dengan intensitas yang mengerikan.
Panic merayap seperti ribuan serangga di bawah kulitnya. Mira meraih pinggiran tirainya dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Ia ingin segera menutupnya, namun tangannya seolah lumpuh. Pikiran perfeksionisnya mulai bekerja liar—jika ia menutup tirai sekarang secara tiba-tiba, si pengint** akan tahu bahwa Mira sudah menyadarinya. Jika ia tidak menutupnya, ia akan terus menjadi tontonan.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya yang berpacu liar. Dengan gerakan yang diusahakan tampak senatural mungkin—seolah-olah ia hanya merasa sedikit kedinginan—Mira menarik kain tirai bermotif bunga-bunga kusam itu.
*Srek.*
Suara rel tirai yang beradu terdengar begitu nyaring di telinganya, seolah-olah seluruh dunia bisa mendengarnya. Begitu kain itu menutupi seluruh pandangannya ke luar, Mira langsung merosot ke lant**. Ia memeluk lututnya, napasnya tersengal-sengal.
Ia teringat betapa sant**nya ia tadi melepas pakaian. Ia teringat bagaimana ia berdiri c**up lama di depan jendela tanpa merasa curiga. Berapa banyak malam yang sudah ia lewatkan seperti ini? Sejak kapan lensa itu ada di sana? Apakah orang itu sudah melihat segalanya?
Kamar yang tadinya merupakan satu-satunya tempat ia merasa aman, kini terasa seperti kotak kaca yang terpajang di tengah keramaian. Dinding-dindingnya seolah menipis, menjadi transparan. Mira menatap pintu kamarnya yang terkunci, lalu kembali menatap tirai yang hanya berupa selembar kain tipis. Ia merasa tidak ada lagi yang melindunginya.
Tiba-tiba, suara *ping* yang nyaring memecah kesunyian.
Ponsel Mira yang tergeletak di atas tempat tidur menyala. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Mira merangkak menuju tempat tidur, tangannya gemetar saat meraih perangkat plastik itu. Layarnya memancarkan cahaya putih yang menyakitkan mata.
Pesan itu hanya berisi satu baris kalimat, namun c**up untuk membuat Mira merasa dunianya runtuh seketika:
*"Ternyata arsitektur tubuhmu jauh lebih menarik daripada gambar-gambar di mejamu, Mira. Jangan tutup tirainya dulu, aku belum selesai."*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!