Jangan Buka Tirai Malam Ini

Bab 3: Bab 3 - Mira mencoba menyelidiki siapa yang tinggal di ...

Pengaturan Membaca

Kamar yang biasanya menjadi tempat perlindungan paling sakral bagi Mira, kini terasa seperti kotak beton yang mencekam. Meskipun tirai kain krep berwarna abu-abu tua itu sudah tertutup rapat—bahkan bagian tepinya telah ia isolasi ke bingkai jendela agar tidak ada celah sekecil apa pun—Mira tetap merasa te*******. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan tangan mendekap erat sebuah bantal sofa ke dadanya. Rasa sesak di paru-parunya bukan karena lilitan b** yang kini ia kenakan dengan sangat ketat, melainkan karena bayangan lensa kamera yang mungkin sedang membidiknya dari balik kegelapan di seberang sana.

Ponselnya tergeletak di atas ka**r, layarnya gelap, namun ia tahu di dalam sana tersimpan pesan-pesan yang bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap.

"Aku harus tahu siapa dia," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya gemetar, tertelan oleh sunyi kamar kosnya yang kini terasa asing.

Sebagai mahasiswi Arsitektur, Mira memiliki kelebihan dalam memetakan ruang. Ia memejamkan mata, memvisualisasikan struktur bangunan di depan kosnya. Gedung itu adalah sebuah apartemen tua berlant** lima dengan fasad yang mulai mengelupas. Jika dihitung dari posisi kamarnya di lant** tiga, maka sang pengint** pasti berada di lant** yang sama, atau satu lant** di atasnya. Kamar dengan jendela yang tepat berhadapan lurus dengan miliknya.

Mira bangkit berdiri. Ia meraih jilbab instan yang tersampir di kursi, memakainya dengan tergesa tanpa sempat bercermin. Ia mengambil buku sketsa besar dan beberapa pensil teknis—peralatan yang biasa ia bawa untuk tugas lapangan. Jika seseorang melihatnya berkeliaran di sekitar gedung seberang, ia akan terlihat seperti mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas studi preseden bangunan. Itu penyamaran terbaik yang ia miliki.

Keluar dari kamarnya, Mira harus melewati lorong kos yang remang-remang. Langkah kakinya yang beralaskan sandal karet terdengar seperti dentuman keras di telinganya sendiri. Setiap kali ia berpapasan dengan penghuni kos lain, ia menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk memeriksa ponsel. Jantungnya berdegup kencang saat ia sampai di pintu gerbang utama.

Langkah Mira membawanya menyeberangi jalan aspal sempit yang memisahkan kosnya dengan apartemen itu. Udara malam yang lembap terasa menusuk kulit, tapi ia tidak peduli. Ia berjalan menyamping, mengambil posisi di sebuah kedai kopi kecil yang terletak sedikit diagonal dari apartemen tersebut. Dari sini, ia bisa melihat seluruh fasad bangunan itu tanpa terlihat mencolok.

Ia membuka buku sketsanya, tangannya mulai menggoreskan garis-garis kasar, namun matanya terus bergerak liar ke arah jendela-jendela di lant** tiga dan empat.

*Satu, dua, tiga...* ia menghitung jendela dari sisi kiri.

Jendela itu. Jendela dengan bingkai aluminium hitam dan kaca film yang c**up gelap. Jika garis lurus ditarik dari kamarnya, maka jendela itulah titik nolnya. Di sana tidak ada lampu yang menyala. Hanya kegelapan pekat yang seolah menatap balik ke arahnya.

"Mencari inspirasi, Mbak?"

Mira tersentak hingga pensilnya terjatuh ke lant**. Ia menoleh cepat dan menemukan seorang pria tua penjaga kedai sedang berdiri di dekatnya sambil membawa nampan.

"Ah, iya... tugas kuliah, Pak," jawab Mira dengan suara yang nyaris hilang. Ia buru-buru memungut pensilnya, jemarinya gemetar hebat.

"Lant** empat itu memang banyak yang kosong sejak bocor bulan lalu," ujar pria itu sant**, seolah bisa membaca arah pandangan Mira. "Tapi kalau lant** tiga, isinya mahasiswa semua. Kayak Mbak juga."

Mira menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. "Yang di ujung itu... yang jendelanya hitam, apa ada yang tinggal di sana, Pak?"

Pria itu menyipitkan mata, mencoba melihat ke arah yang ditunjuk Mira dengan isyarat dagu. "Oalah, itu. Setahu saya baru ada yang ma**k seminggu lalu. Laki-laki, kalau tidak salah. Jarang keluar. Kenapa, Mbak? Temannya?"

"Bukan... cuma... bangunannya menarik untuk digambar," dusta Mira. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. *Seminggu lalu.* Tepat saat teror pesan itu dimulai.

Mira mencoba kembali fokus pada kertasnya, tapi matanya justru menangkap sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Di jendela lant** tiga yang ia curigai tadi, tirainya bergerak sedikit. Sangat tipis, seolah tersapu angin, atau mungkin sengaja disingkap oleh ujung jari.

Lalu, sebuah kilatan kecil muncul. Bukan lampu ruangan, melainkan pantulan cahaya yang sangat singkat—seperti cahaya yang memantul pada permukaan lensa kaca yang besar.

Mira membeku. Paranoia yang sejak tadi ia tekan kini meledak memenuhi kepalanya. Apakah orang itu sedang mengawasinya sekarang? Apakah sang pengint** tahu bahwa ia sedang berusaha menyelidikinya?

Ponsel di saku jaketnya bergetar. Satu getaran panjang yang terasa seperti sengatan listrik.

Dengan tangan yang mati rasa, Mira merogoh ponselnya. Sebuah notifikasi pesan baru muncul di layar yang terkunci. Tanpa nama pengirim, hanya deretan angka yang sama seperti sebelumnya.

*“Sketsamu bagus, Mira. Tapi proporsi jendelaku salah. Mau naik ke sini agar bisa melihatnya lebih jelas? Aku masih menyimpan foto-fotomu yang kemarin. Sangat... artistik.”*

Napas Mira tersengat. Ia segera menoleh ke arah jendela hitam itu lagi, tapi kali ini tirainya sudah tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Seolah-olah gedung itu adalah monster bisu yang baru saja menelan rahasianya bulat-bulat.

Mira menutup buku sketsanya dengan kasar hingga menimbulkan suara *plak* yang keras. Ia tidak memedulikan tatapan heran penjaga kedai. Ia berdiri dan mulai berlari kembali menuju kosnya. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah jalanan aspal itu berubah menjadi lumpur hisap.

Ia merasa ada ribuan mata yang menatapnya dari setiap sudut gelap bangunan. Saat ia sampai di depan gerbang kosnya, ia tidak sengaja menab**k seseorang yang baru saja hendak keluar.

"Mira? Kamu kenapa? Kok pucat banget?"

Itu adalah Dimas, penghuni kos putra di sebelah gedung mereka yang sesekali menyapa Mira di area parkir. Dimas tampak memegang kunci motor, menatap Mira dengan kerutan di dahi yang tampak tulus—atau begitulah kelihatannya.

Mira mundur selangkah, napasnya memburu. Ia menatap Dimas, lalu menatap gedung apartemen di seberang, lalu kembali ke wajah Dimas. Di mata Mira, setiap orang kini menjadi tersangka. Setiap keramahan adalah kedok. Setiap senyuman adalah ancaman.

"Aku... aku tidak apa-apa," jawab Mira singkat, suaranya parau. Ia langsung melesat melewati Dimas tanpa menunggu balasan, berlari menaiki tangga menuju lant** tiga.

Begitu sampai di dalam kamar, Mira langsung mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Ia merosot hingga terduduk di lant**, mendekap lututnya sendiri. Kamar yang ia harapkan menjadi tempat aman, kini terasa seperti perangkap yang ia buat sendiri.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintunya. Bukan ketukan keras orang yang terburu-buru, melainkan ketukan berirama yang sangat tenang.

*Tok. Tok. Tok.*

Mira menahan napas, matanya terbelalak menatap daun pintu kayu di depannya. Tidak ada suara langkah kaki sebelumnya. Tidak ada suara orang memanggil namanya. Hanya ketukan itu.

Lalu, sebuah carik kertas putih perlahan diselipkan melalui celah bawah pintu.

Mira gemetar saat meraih kertas itu. Di sana, tertulis satu kalimat pendek dengan tinta hitam yang rapi:

*“Jangan lupa pakai b**nya, Mira. Dingin.”*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca