Ujung jemari Mira gemetar saat menyentuh kait jendela aluminium yang terasa sedingin es. Di luar sana, kegelapan malam Jakarta tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan apa pun. Ia tidak berani melirik ke gedung apartemen di seberang jalan, tempat di mana ia tahuβatau setidaknya merasaβsebuah lensa kamera sedang mengint**, menunggu celah sekecil apa pun untuk menguliti privasinya.
Dengan gerakan sentak yang kasar, Mira menarik daun jendela hingga berdentang keras. *Klik.* Ia mengunci gerendelnya, lalu menyusulnya dengan memutar kunci tambahan yang baru ia pasang tadi sore. Belum c**up. Ia mengambil segulung lakban hitam tebal dari meja belajarnya. Tangan Mira bergerak cepat, hampir kalap, menempelkan selotip itu di sepanjang pinggiran kusen jendela. Ia menutup setiap celah udara, setiap lubang sekecil jarum yang mungkin bisa ditembus oleh cahaya atau pandangan asing.
Setelah jendela itu tertutup rapat dan terbungkus lakban, ia menarik tirai beludru berwarna marun miliknya. Ia menariknya begitu kuat hingga jemarinya memutih, memastikan tidak ada satu pun garis cahaya yang bisa menyelinap ma**k atau keluar.
"Aman," bisiknya. Suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah kesunyian kamar kosnya yang berukuran tiga kali empat meter.
Mira menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Ia masih mengenakan gamis panjang dan hijab instan yang ia pakai sejak kuliah pagi tadi. Keringat dingin merembes di balik kain ciputnya, membuat kulit kepalanya terasa gatal dan panas. Biasanya, hal pertama yang ia lakukan saat ma**k ke kamar adalah melepas segala atribut ini. Ia akan membiarkan kulitnya bernapas, membebaskan dadanya yang sering terasa sesak karena ukuran tubuhnya yang menonjol, dan menikmati kebebasan menjadi dirinya sendiri di balik pintu yang terkunci.
Namun malam ini, tangan Mira tertahan di depan dadanya. Ia tidak berani membuka satu kancing pun. Bayangan foto-foto dirinya yang sedang bersant** tanpa hijabβfoto-foto yang dikirimkan oleh nomor asing ituβmasih menari-nari di depan matanya seperti hantu.
Suasana kamar perlahan berubah. Tanpa ventilasi yang memadai karena jendela yang kini "disegel", udara di dalam ruangan mulai terasa berat dan basi. Bau sisa pengharum ruangan rasa lemon bercampur dengan aroma buku lama dan keringat. Mira mencoba menarik napas dalam-dalam, tetapi paru-parunya seolah menolak oksigen yang semakin tipis.
*Hhh... hhh...*
Bunyi napasnya sendiri mulai terdengar keras di telinganya. Seperti suara embusan angin di lorong kosong. Mira memejamkan mata, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Sebagai mahasiswi Arsitektur, ia tahu betul tentang sirkulasi udara. Ia tahu tindakannya menutup semua celah ini adalah keg***an teknis. Namun, rasa takut jauh lebih berkuasa daripada logika struktur bangunan mana pun.
Tiba-tiba, bulu kuduk di tengkuknya berdiri.
Sensasi itu datang tanpa diundang. Bukan rasa terancam dari luar jendela, melainkan sesuatu yang lebih intim. Sesuatu yang lebih dekat. Seolah-olah ada sepasang mata yang sedang menatap punggungnya dari dalam kegelapan sudut kamar.
Mira membuka matanya lebar-lebar. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan gerakan patah-patah. Kamarnya tampak sama. Lemari kayu di sudut kanan, meja gambar dengan penggaris T yang bersandar, dan tumpukan maket rumah dari karton di rak atas. Namun, perasaan itu tidak hilang. Rasa gatal di kulitnya, seolah ada tatapan yang merayapi lekuk tubuhnya, justru semakin intens.
Ia menatap cermin rias yang menggantung di dinding. Di balik bayangan wajahnya yang pucat dan berantakan, ia melihat bayangan pintu kamar mandinya yang sedikit terbuka. Hanya satu celah hitam kecil di sana.
*Apakah aku sudah mengunci pintu kamar mandi tadi?* pikirnya panik.
Mira mencoba berdiri, tetapi kakinya terasa seperti jeli. Dadanya semakin sesak. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu, digantikan oleh tekanan atmosfer yang mencekik. Ia mencengkeram kerah hijabnya, menariknya sedikit agar bisa bernapas, tetapi kain itu justru terasa seperti jerat yang semakin kencang.
Ia mulai merasa pusing. Penglihatan periferalnya mulai menggelap, menyisakan fokus pada lubang kunci pintu kamar dan celah gelap di bawah tempat tidurnya. Ingatan visualnya yang kuat mulai menyiksa; ia mengingat setiap posisi barang di kamarnya, dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang salah.
Kotak tisu di meja belajarnya. Sore tadi, ia meletakkannya sejajar dengan pinggiran meja. Sekarang, kotak itu bergeser beberapa sentimeter ke kiri, menghadap langsung ke arah tempat tidurnya.
Mira menahan napas. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari kaki. Matanya terpaku pada kotak tisu plastik bermotif bunga yang tampak tidak bersalah itu. Di tengah motif bunga mawar yang rimbun, ada sebuah titik hitam kecil yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Sebuah titik yang tidak memantulkan cahaya lampu kamar, melainkan menyerapnya.
Tenggorokan Mira tercekat. Di tengah sesak napas yang membuatnya nyaris pingsan, sebuah kesadaran mengerikan menghantamnya: ancaman itu tidak lagi berada di seberang jalan.
Ancaman itu sudah ma**k ke dalam bentengnya.
Tepat saat ia hendak melangkah maju untuk memeriksa kotak tisu itu, ponselnya yang tergeletak di atas ka**r bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan ma**k memecah keheningan yang menyesakkan. Mira menyambar ponselnya dengan tangan gemetar.
Layar ponsel itu menyala, menerangi wajahnya yang penuh keringat di tengah remang kamar. Pesan dari nomor tak dikenal itu hanya berisi lima kata:
*"Warna bajumu hari ini sangat serasi."*
Mira jatuh terduduk. Oksigen di paru-parunya benar-benar habis. Ia menatap ke sekeliling kamar dengan histeris, menyadari bahwa menutup jendela rapat-rapat justru telah mengurungnya di dalam perangkap bersama sang predator yang entah ada di mana. Tiba-tiba, ia mendengar suara gesekan halus dari balik lemari pakaiannya. Sesuatu, atau seseorang, baru saja bergerak.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!