Lampu meja arsitektur yang berpendar kekuningan menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar itu. Di bawah sorotnya, jemari Mira tampak gemetar saat ia berusaha menyejajarkan penggaris T pada kertas kalkir. Suasana senyap, hanya detak jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu yang menghakimi. Biasanya, ini adalah momen favoritnya—saat ia bisa melepas jilbabnya, membiarkan rambutnya tergerai, dan menanggalkan b** ketat yang selalu membuat sesak demi kenyamanan maksimal. Namun malam ini, kain panjang itu tetap melilit kepalanya dengan rapat, menyerap peluh dingin yang terus mengucur dari pelipisnya.
Setiap beberapa detik, matanya melirik ke arah jendela yang tertutup rapat oleh tirai beludru berwarna biru tua. Di balik kain tebal itu, ia tahu ada sepasang mata—atau mungkin sebuah lensa tajam—yang menanti celah sekecil apa pun.
*Bzzzt.*
Getaran ponsel di atas meja kayu itu membuatnya tersentak hingga ujung rapido yang ia pegang menggores kertas kalkirnya, merusak garis denah yang ia kerjakan selama dua jam. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah organ itu ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia meraih benda pipih itu.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
*“Garisnya miring di sudut kiri bawah, Mira. Kamu biasanya lebih teliti dari itu.”*
Darah seolah surut dari wajah Mira. Ia membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Bagaimana orang ini tahu? Ia bangkit berdiri dengan kasar hingga kursi belajarnya berderit keras di lant** keramik. Ia memandang sekeliling kamar yang hanya berukuran tiga kali empat meter itu dengan tatapan liar. Apakah ada kamera tersembunyi? Di balik tumpukan buku? Di sela-sela maket bangunan? Di dalam lubang ventilasi?
Tangannya mulai meraba-raba dinding, menyisir setiap sudut dengan kepanikan yang memuncak. Namun, nihil. Tidak ada benda asing yang mencurigakan. Ia kembali menatap layar ponselnya. Jempolnya gemetar saat ia mengetik balasan.
*Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa tahu nomor teleponku?!*
Satu menit berlalu. Sunyi kembali menyelimuti, tapi kali ini terasa lebih menekan. Seolah-olah udara di kamar itu perlahan-lahan dihisap keluar, meninggalkannya dalam kehampaan yang mencekik.
*Bzzzt.*
*“Nomor teleponmu ada di formulir pendaftaran asrama yang kamu pegang tadi sore di meja lobi. Kamu ceroboh membiarkannya terbuka saat mengobrol dengan ibu kos.”*
Mira menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan isakan yang hampir lolos. Pengint** itu tidak hanya mengawasinya dari jauh; dia ada di dekatnya. Dia memperhatikan gerak-geriknya bahkan di luar kamar ini.
*“Jangan terus-menerus menutupi dirimu seperti itu,”* pesan baru muncul, beruntun. *“Aku tahu kamu kepanasan. Jilbab itu pasti terasa gatal karena keringatmu. Kenapa tidak dilepas saja? Seperti malam-malam biasanya.”*
Pesan itu terasa seperti sentuhan dingin di tengkuknya. Mira merasa te******* meski pakaiannya tertutup sempurna. Ruang privasi yang ia jaga mati-matian, tempat ia biasanya merasa bebas menjadi dirinya sendiri tanpa beban ekspektasi sosial, kini telah dicemari. Seseorang di luar sana sedang mendiktenya, menikmati setiap tetes ketakutannya seolah itu adalah tontonan hiburan.
*“Buka tirainya, Mira. Aku tidak suka melihat kain biru itu. Aku ingin melihatmu yang asli. Aku ingin melihat apa yang kamu sembunyikan di balik baju longgar itu.”*
Mira melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu lemari kayu. "Pergi... pergi kamu!" bisiknya parau, suaranya pecah. Air mata mulai mengalir, membasahi kain jilbab di pipinya.
Ia mencoba meyakinkan diri untuk mematikan ponselnya, tapi sebuah pesan baru ma**k dengan lampiran foto. Dengan ragu, ia membukanya.
Duniaya seakan runtuh saat gambar itu muncul di layar. Itu adalah foto dirinya dari dua malam yang lalu. Foto itu diambil dari sudut tinggi, memperlihatkan Mira yang sedang berdiri di depan jendela yang terbuka sedikit, tanpa hijab, hanya mengenakan kaus tipis tanpa b**—menunjukkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas di bawah cahaya lampu kamar yang terang. Ekspresinya dalam foto itu tampak begitu tenang, begitu tidak sadar bahwa kehormatannya sedang diint**.
*“Kalau kamu tidak membuka tirainya dalam hitungan ketiga, foto ini akan menjadi konsumsi grup WhatsApp kampusmu. Pilihlah, Mira. Mau aku yang melihatnya sendiri, atau seluruh dunia?”*
Mira merosot ke lant**, memeluk lututnya erat-erat. Ponsel itu tergeletak di sampingnya, masih menyala, menampilkan hitungan mundur yang dikirimkan oleh sang pengint**.
*“Satu.”*
Setiap angka terasa seperti dentuman lonceng kematian. Mira menatap tirai biru yang tertutup rapat itu dengan rasa benci dan takut yang bercampur aduk. Di balik tirai itu ada ancaman nyata, tapi di dalam ponselnya ada kehancuran yang lebih besar. Nama baik keluarganya, impiannya menjadi arsitek, harga dirinya sebagai perempuan—semuanya bergantung pada sehelai kain tipis yang menutupi jendela.
*“Dua.”*
Tangannya meraih tepian meja, berusaha menyeret tubuhnya yang lemas untuk berdiri. Ia berjalan mendekati jendela dengan langkah terseret. Jari-jarinya menyentuh permukaan dingin kain beludru itu. Ia bisa merasakan angin malam yang berhembus sedikit lewat celah bawah jendela, membawa aroma tanah basah yang biasanya menenangkan, namun kini terasa busuk.
*“Tiga. Waktunya habis, Mira. Tanganmu sudah di sana, kan? Tarik sekarang, atau tekan tombol 'Send' untuk seluruh kampus.”*
Mira memejamkan mata rapat-rapat, memegang pinggiran tirai dengan kuku yang memutih karena tekanan. Ia menarik napas panjang yang gemetar, lalu dengan satu sentakan kasar, ia menyibak tirai itu lebar-lebar.
Cahaya kamar langsung tumpah ke kegelapan malam, menyiram gedung tua di seberang jalan yang tampak seperti raksasa hitam dengan ratusan mata gelap. Mira berdiri mematung di tengah cahaya, membiarkan dirinya terekspos sepenuhnya. Ia menatap ke arah kegelapan di gedung seberang, mencari-cari kilatan lensa atau bayangan manusia.
Hening.
Lalu, ponselnya bergetar lagi. Bukan teks, melainkan sebuah pangg***n video dari nomor yang sama.
Layar ponsel itu menampilkan wajahnya sendiri yang sedang ketakutan di depan jendela, namun diambil dari sudut pandang di luar sana—lensa itu tepat mengarah ke wajahnya sekarang. Dan di sudut kecil layar pangg***n itu, ia bisa melihat sebuah tangan yang mengenakan sarung tangan hitam, sedang memegang ponsel yang merekamnya, sementara di latar belakangnya terdapat deretan botol kimia dan peralatan fotografi yang tampak asing.
Lalu, sebuah suara berat yang terdistorsi ma**k lewat speaker ponselnya, berbisik sangat pelan, seolah orang itu sedang berdiri tepat di belakang telinganya.
"Sekarang, lepaskan kancing pertamamu, Mira. Atau aku yang akan datang ke sana untuk melakukannya."
Mata Mira membelalak saat ia melihat gagang pintu kamarnya mulai bergerak turun dengan perlahan, seolah ada seseorang di sisi lain yang mencoba membukanya dengan kunci duplikat.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!