Detak jarum jam di dinding kamar seolah berubah menjadi suara palu yang menghantam paku ke dalam peti mati. Setiap detik yang berlalu membuat Mira merasa semakin sesak. Sejak pesan teror itu ma**k ke ponselnya, udara di dalam kamarnya sendiriβruang yang dahulu ia anggap sebagai tempat perlindungan paling suciβkini terasa beracun. Ia melirik ke arah jendela yang tertutup rapat, tertutup gorden tebal yang sengaja ia pasang berlapis-lapis. Namun, rasa diawasi itu tetap ada, merayap di bawah kulitnya seperti serangga.
Mira menarik napas panjang, mencoba menenangkan jemarinya yang bergetar saat merapikan ujung jilbab marunnya di depan cermin. Ia harus keluar. Ia tidak bisa hanya berdiam diri menunggu sang pengint** mengambil langkah selanjutnya. Ingatan visualnya yang tajam mulai memutar kembali kejadian-kejadian kecil yang sebelumnya ia abaikan.
Wajah itu muncul dalam benaknya: Pak Jaja, penjaga kos yang sudah bekerja di sini selama lima tahun.
Laki-laki paruh baya itu selalu ada di posnya yang terletak di sudut area parkir, tepat di bawah posisi jendela kamar Mira. Akhir-akhir ini, Mira menyadari tatapan Pak Jaja berubah. Ada sesuatu yang lengket dan tidak nyaman dalam cara pria itu memandangnya setiap kali ia pulang kuliah. Tatapan yang seolah-olah tahu apa yang ada di balik lapisan pakaian yang Mira kenakan.
Mira melangkah keluar kamar, mengunci pintu dengan tangan yang masih gemetar, lalu menuruni tangga beton yang dingin. Suasana kos sore itu sepi; sebagian besar penghuni mungkin masih berada di kampus atau sedang tidur siang. Di lant** bawah, ia melihat pintu pos penjaga sedikit terbuka. Radio tua milik Pak Jaja mendesiskan suara wayang kulit yang monoton.
"Pak Jaja?" panggil Mira pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh bising kendaraan dari jalan raya.
Tidak ada jawaban. Mira mendekat dengan langkah yang dijaga agar tidak menimbulkan suara. Melalui celah pintu yang terbuka, ia bisa melihat bagian dalam pos yang sempit. Bau rokok kretek murah dan aroma kopi basi menyeruak. Di atas meja kayu yang kusam, terdapat monitor CCTV tua yang layarnya berkedip-kedip, menampilkan sudut-sudut koridor kos yang remang-remang.
Namun, bukan itu yang menarik perhatian Mira. Di sudut meja, sebagian tertutup oleh tumpukan koran bekas, ia melihat sebuah lensa kamera yang berkilat tertimpa cahaya lampu neon yang berkedip. Jantung Mira berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras. Kamera profesional? Mengapa seorang penjaga kos memiliki peralatan seperti itu?
Ia mendorong pintu perlahan. Bunyi derit engselnya terasa seperti ledakan di telinga Mira. Dengan kewaspadaan yang memuncak, ia menyelinap ma**k. Tangannya meraih tumpukan koran itu. Benar saja, di bawahnya terletak sebuah kamera DSLR dengan lensa tele yang c**up panjangβjenis lensa yang bisa menangkap det**l wajah seseorang dari jarak puluhan meter.
"Sedang cari apa, Neng Mira?"
Suara serak itu datang dari belakang, membuat Mira tersentak hingga hampir menjatuhkan kamera tersebut. Ia berbalik dengan cepat, punggungnya menab**k meja kayu. Pak Jaja berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya sore yang ma**k. Tubuhnya yang kurus tampak seperti bayangan hitam yang mengancam. Di tangannya, ia memegang sebuah kunci cadangan dengan gantungan nomor kamar 304βnomor kamar Mira.
"E-eh, Pak Jaja. Saya... saya mau tanya soal air di kamar mandi atas yang agak mampet," dalih Mira. Suaranya melengking karena panik, jauh dari nada bicaranya yang biasanya tenang.
Pak Jaja tidak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah tangan Mira yang masih berada di dekat kamera, lalu beralih menatap wajah Mira. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai matanya yang keruh. "Kamera itu? Itu punya anak saya. Dia baru pulang tadi pagi, nitip di sini."
Mira menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti pasir. "Oh, begitu. Bagus ya, Pak. Kelihatannya mahal."
"Mahal memang. Bisa lihat hal-hal yang tidak bisa dilihat mata biasa," kata Pak Jaja sambil melangkah ma**k ke dalam pos yang sempit. Ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih kecil. Pak Jaja berdiri sangat dekat, hingga Mira bisa mencium bau tembakau yang menempel di bajunya yang kumal. "Neng Mira belakangan ini pucat sekali. Sering begadang ya? Atau... sering lupa tutup jendela?"
Kalimat terakhir itu seperti siraman air es bagi Mira. Ia merasa te******* di bawah tatapan pria itu. Apakah Pak Jaja orangnya? Apakah selama ini ia yang memegang kamera dari seberang jalan, atau mungkinkah ada kerja sama antara dia dan orang lain? Sebagai penjaga kos, Pak Jaja punya akses ke segala sudut gedung ini. Ia punya kunci cadangan. Ia tahu kapan Mira pergi dan kapan Mira pulang.
"Saya harus pergi, Pak. Ada kelas sore," ucap Mira cepat-cepat, mencoba melewati Pak Jaja.
Namun, tangan pria itu tiba-tiba mencengkeram lengan Mira. Tidak keras, tapi c**up kuat untuk menghentikannya. "Tunggu dulu, Neng. Tadi Neng bilang soal air mampet, kan? Biar Bapak cek sekarang. Neng ikut ke atas, ya? Bapak takut salah cek kalau tidak ditunjukkan langsung."
"Tidak usah, Pak! Bisa nanti saja setelah saya pulang," Mira mencoba menarik lengannya, namun Pak Jaja justru mempererat pegangannya.
"Cuma sebentar. Bapak ini cuma mau membantu. Neng Mira jangan curigaan begitu sama orang tua." Mata Pak Jaja menyipit, dan untuk sesaat, keramahan palsunya luntur, menyisakan tatapan dingin yang penuh intimidasi. "Nanti kalau airnya tidak lancar, Neng susah mandi, kan? Kasihan kalau kulit mulusnya jadi gatal-gatal."
Darah Mira seolah berhenti mengalir. Kalimat itu bukan sekadar tawaran bantuan; itu adalah ancaman tersembunyi. Ia tahu Pak Jaja sedang mempermainkannya. Ia ingin berteriak, tapi suaranya seolah tertahan di pangkal kerongkongan. Dalam kepanikannya, Mira memperhatikan sesuatu yang janggal di saku kemeja Pak Jaja. Sebuah benda persegi kecil berwarna hitam yang berkedip dengan cahaya merah yang sangat kecil.
Itu bukan sekadar kunci cadangan. Itu adalah alat p****am suara.
Mira menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan saat ini sedang direkam. Pak Jaja sengaja memancingnya, menjebaknya dalam situasi yang membuatnya tampak bersalah atau mencurigakan jika ia melawan. Dengan sekuat tenaga, Mira menyentakkan lengannya hingga terlepas dan mundur ke arah pintu.
"Saya telat, Pak!" serunya sambil berlari keluar dari pos penjaga, mengabaikan pangg***n Pak Jaja yang memintanya kembali.
Mira terus berlari menuju gerbang depan, jantungnya berpacu seirama dengan langkah kakinya di atas aspal. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, yang ia tahu hanyalah ia tidak boleh kembali ke kamarnya saat ini. Namun, saat ia sampai di trotoar depan gedung kos, ponsel di saku gamisnya bergetar.
Sebuah notifikasi pesan ma**k. Dengan tangan gemetar, ia membukanya.
*Lari yang cantik, Mira. Tapi kamu lupa satu hal: Pak Jaja punya kunci cadangan kamarmu, dan aku baru saja mengiriminya pesan untuk 'membersihkan' sesuatu di dalam sana sementara kamu pergi.*
Mira terpaku di pinggir jalan yang ramai. Ia menoleh ke belakang, ke arah jendela kamarnya di lant** tiga. Di sana, di balik tirai yang tadinya ia tutup rapat, ia melihat sebuah bayangan bergerak. Seseorang baru saja membuka gordennya lebar-lebar dari dalam.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!