Lant** tiga perpustakaan pusat biasanya sunyi, namun bagi Mira, kesunyian itu justru terasa mencekik. Ia duduk di sudut paling remang, merapatkan kardigan rajutnya meski pendingin ruangan tidak sedang bekerja maksimal. Jarinya gemetar saat mengusap layar ponsel yang sengaja ia letakkan tertelungkup di atas meja kayu. Setiap kali ada notifikasi berbunyi, jantungnya mencelos, seolah-olah denting itu adalah suara pisau yang menggores kaca.
Ia menunggu Reza. Cowok itu adalah mahasiswa Teknik Informatika angkatan mereka yang dikenal sebagai 'hantu laboratorium'βjenius, pendiam, dan jarang bersosialisasi. Mira mengenalnya karena mereka pernah berada dalam satu kelompok mata kuliah umum tahun lalu. Hanya Reza yang terpikirkan olehnya saat ini. Ia butuh seseorang yang ahli, tapi juga seseorang yang tidak akan banyak bertanya atau bergosip.
"Mir? Tumben ngajak ketemu di sini."
Mira terlonjak. Reza sudah berdiri di depannya, menyampirkan tas ransel yang tampak berat di satu bahu. Rambutnya berantakan, tipikal mahasiswa yang baru saja begadang menyelesaikan *coding*.
"Rez, makasih sudah datang," bisik Mira. Suaranya serak, hampir hilang di antara deru mesin AC.
Reza duduk di kursi kayu di hadapan Mira. Ia memperhatikan wajah Mira yang pucat dan kantung mata yang menghitam di balik kacamata frame bulatnya. "Kamu kelihatan... kacau. Ada masalah sama tugas studio?"
Mira menggeleng cepat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang c**up dekat untuk menguping. Jemari Mira mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku butuh bantuanmu. Secara teknis. Ini soal... privasi."
Alis Reza bertaut. Ia meletakkan laptopnya di meja, tapi belum membukanya. "Privasi gimana maksudnya?"
Mira menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Rasa malu itu datang lagi, menyumbat tenggorokannya. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa ada seseorang yang memotretnya dalam keadaan paling rapuh dan tidak pantas di kamarnya sendiri? Bagaimana ia harus mengakui bahwa hijab yang ia kenakan sekarang seolah tidak ada gunanya karena si pengint** sudah melihat apa yang seharusnya tersembunyi?
"Ada yang mengirimkan pesan teror ke aku," Mira memulai, suaranya bergetar. "Dia... dia punya akses ke privasiku. Dia mengirim foto-foto yang diambil tanpa seizinku dari jendela kamar kos."
Ekspresi Reza berubah serius. Sifat sant**nya lenyap, digantikan oleh ketajaman mata seorang analis. "Stalker?"
Mira mengangguk pelan. "Dia mengancam akan menyebarkannya. Aku mau tahu siapa dia, Rez. Aku mau tahu dari mana pesan-pesan itu dikirim. Bisakah kamu melacak alamat IP-nya? Atau setidaknya mencari tahu apakah dia pakai VPN atau semacamnya?"
Reza menarik napas panjang, tangannya mulai membuka layar laptop. "Aku perlu lihat pesannya, Mir. Dan kalau bisa, file asli yang dia kirim ke kamu. Metadata di file itu bisa jadi kunci."
Darah Mira seolah berhenti mengalir. "Lihat pesannya?"
"Iya. Aku harus bedah *header* email atau protokol komunikasinya."
Mira mematung. Ini adalah hambatan terbesarnya. Jika ia menunjukkan pesan itu, Reza akan melihat apa yang dilihat si pengint**. Reza akan melihat sisi dirinya yang selama ini ia jaga dengan sangat ketat. Rasa mual melilit perut Mira. Ia membayangkan mata Reza memindai layar ponselnya, melihat foto-foto yang menghancurkan harga dirinya.
"Nggak bisa kalau cuma alamat emailnya aja?" tanya Mira putus asa.
"Email sekarang pintar, Mir. Kalau dia pakai layanan terenkripsi seperti ProtonMail atau sejenisnya, alamat email saja nggak akan c**up. Aku butuh data mentah dari pesan yang ma**k ke perangkatmu," jelas Reza pelan, seolah menyadari ketakutan Mira. "Dengar, aku nggak akan tanya soal isi fotonya. Aku cuma butuh *source code*-nya."
Mira ragu. Tangannya perlahan meraih ponselnya. Di bawah meja, kakinya gemetar hebat. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, dan Reza adalah satu-satunya orang yang bisa menariknya kembali, meski itu berarti Reza harus melihat betapa kotornya lumpur yang menjerat Mira.
Dengan gerakan lambat, Mira membuka aplikasi pesan rahasia yang digunakan si peneror. Ia menutupi bagian tengah layar dengan telapak tangannya, hanya memperlihatkan bagian atas pesan yang berisi informasi pengirim.
"Ini," bisik Mira, menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar.
Reza mengambil ponsel itu. Ia tidak mencoba mengintip di balik tangan Mira. Ia dengan cekatan menyambungkan ponsel Mira ke laptopnya menggunakan kabel data. Jemarinya menari di atas keyboard, barisan kode hijau dan putih mulai memenuhi layar hitam di hadapannya.
Suasana hening menyelimuti mereka selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi Mira. Ia terus menunduk, memperhatikan ujung sepatunya, tidak berani menatap layar laptop Reza atau wajah cowok itu. Ia merasa te*******, meski pakaiannya tertutup sempurna.
"Orang ini pintar," gumam Reza tiba-tiba. Dahinya berkerut dalam. "Dia pakai *proxy* berlapis. Tapi dia melakukan satu kesalahan kecil."
Mira mendongak, matanya melebar. "Apa?"
"Dia nggak sadar kalau setiap kali dia mengirim pesan lewat platform ini saat dia terhubung ke jaringan tertentu, ada *handshake* digital yang tertinggal. Tunggu sebentar..." Reza mempercepat ketikannya. "Aku mencoba melakukan *ping* balik ke jalur yang dia gunakan."
Tiba-tiba, mata Reza memicing. Ia berhenti mengetik dan menatap layar dengan intens.
"Mir," suara Reza berubah lebih rendah, ada nada kecemasan di sana. "Pesan terakhir yang dia kirim... itu baru saja ma**k tiga menit yang lalu, kan?"
Mira mengecek ponselnya yang masih tersambung. "Iya, kenapa?"
Reza memutar laptopnya ke arah Mira. Di sana, sebuah peta digital sederhana menunjukkan sebuah titik merah yang berkedip-kedip. Titik itu berada di sebuah area yang sangat familiar bagi Mira.
"IP ini bukan datang dari gedung seberang kosmu, Mir," kata Reza pelan. "Sinyal ini berasal dari jaringan Wi-Fi kampus ini. Di gedung ini."
Jantung Mira serasa berhenti berdetak. Ia refleks berdiri, kursi kayunya berderit keras di lant** perpustakaan yang sunyi. Ia memandang sekeliling dengan liar. Rak-rak buku yang tinggi, lorong-lorong gelap di antara jajaran buku arsitektur, dan beberapa mahasiswa yang duduk tersebar jauh dari mereka.
"Dia ada di sini?" bisik Mira, suaranya tercekat.
"Tunggu, ada satu lagi," Reza kembali berkutat dengan laptopnya. "Dia baru saja mengirim file baru. Tapi ukurannya kecil, sepertinya cuma teks atau..."
Ponsel Mira di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar, tepat di mana tangan Mira tidak lagi menutupinya.
*βReza kelihatannya sangat serius membantu ya, Mira? Apa kamu sudah cerita padanya betapa indahnya pemandangan dari jendela kamarmu tanpa sehelai benang pun?β*
Mira merasakan dunianya runtuh. Ia melihat Reza tertegun, matanya terpaku pada layar ponsel Mira yang kini terbuka sepenuhnya. Rahasia itu, kehancuran itu, kini bukan lagi milik Mira sendiri. Dan yang lebih mengerikan, si pengint** sedang memperhatikan mereka saat ini juga, entah dari balik rak buku mana.
"Mir..." Reza menatap Mira dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara terkejut, kasihan, dan ngeri.
Sebelum Mira sempat menjawab, lampu di sudut perpustakaan itu tiba-tiba padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh cahaya pucat dari layar laptop Reza yang masih berkedip-kedip memperlihatkan titik merah yang kini bergerak mendekat.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!