Playlist Terakhir Sebelum Kita Asing

Bab 1: Bab 1 - Memulai pekerjaan baru di Kafe Melankolia untuk...

Pengaturan Membaca

Aroma kayu manis dan kertas tua menyambutku saat aku mendorong pintu kaca berbingkai m***ni itu. Sebuah lonceng kecil di atas pintu berdenting, suaranya jernih namun terasa kesepian, seolah-olah menyapa seseorang yang sebenarnya tidak ingin ditemukan. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin dari sisa hujan di luar berganti dengan kehangatan uap kopi yang pekat.

Kafe Melankolia. Nama yang ganjil untuk sebuah tempat usaha, namun bagiku, nama itu adalah sebuah pelukan.

"Elara? Kau datang lebih awal," sebuah suara berat menyambutku dari balik meja bar. Pak Damar, pria paruh baya dengan gurat wajah yang tenang dan apron cokelat tua, sedang mengelap sebuah cangkir porselen.

Aku memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang biasanya aku gunakan untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. "Aku lebih suka menunggu di sini daripada di apartemen, Pak."

Pak Damar meletakkan cangkirnya dan menatapku sejenak. Tatapannya tidak menghakimi, hanya ada empati yang tulus di sana. Mungkin itu sebabnya dia mendirikan tempat ini—sebuah tempat perlindungan bagi orang-orang yang hatinya tertinggal di masa lalu.

"Kau tahu aturannya, kan?" tanya Pak Damar sambil menunjuk sebuah kotak kayu besar di sudut ruangan, di bawah lampu gantung yang cahayanya temaram.

Kotak itu terbuat dari kayu ek gelap dengan ukiran halus di pinggirnya. Di atasnya, sebuah celah kecil terbuka, menunggu rahasia-rahasia yang tak sanggup diucapkan secara langsung. *Kotak Surat Tak Terkirim*.

"Aku tahu, Pak. Jangan pernah membuka kotak itu kecuali saat masa pengarsipan, dan jangan pernah mencoba menghubungi pengirimnya," jawabku pelan.

"Dan yang terpenting, Elara," Pak Damar menjeda, "jangan biarkan kesedihan orang lain menelanmu. Di sini, kita hanya perantara. Kita menyediakan tempat bagi mereka untuk melepaskan beban, bukan untuk kita pikul sendiri."

Aku mengangguk patuh, meski di dalam hati aku tahu itu adalah janji yang sulit kutepati. Bagiku, emosi adalah sesuatu yang merembes seperti tinta di atas kertas basah—sulit dikendalikan dan selalu meninggalkan bekas.

Pekerjaanku dimulai. Aku mengenakan apron serupa milik Pak Damar, mengikat talinya di pinggang dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa. Selama dua jam pertama, kafe ini hanya dikunjungi oleh beberapa pelanggan yang lebih banyak menatap ke luar jendela daripada ke layar ponsel mereka. Aku meracik kopi untuk mereka, mencoba menerka suasana hati dari cara mereka mengetuk-ngetukkan jari di atas meja.

Untuk seorang pria muda yang duduk di pojok, aku menyajikan *flat white* dengan ekstra *foam*—sesuatu yang lembut untuk menenangkan kerutan di dahinya. Untuk perempuan tua yang terus melihat jam tangannya, aku memberikan teh kamomil dengan madu hutan. Aku menyukai bagian ini; memberikan sesuatu yang mungkin bisa menjadi penawar kecil bagi rasa sakit yang tidak mereka ceritakan.

Namun, suasana kafe ini mulai menekanku saat senja tiba. Cahaya oranye yang ma**k lewat jendela besar menciptakan bayangan panjang di lant** kayu. Musik jazz lembut mengalun dari piringan hitam, memenuhi ruangan dengan melodi yang entah mengapa terdengar seperti perpisahan.

Pikiranku melayang pada alasan mengapa aku berada di sini. Tiga tahun lalu, hidupku bukan tentang keheningan ini. Hidupku adalah tentang tawa di kursi belakang motor, tentang pembagian *earphone* di bus kota, dan tentang janji-janji yang diucapkan dengan begitu yakin seolah waktu tidak akan pernah berani mengkhianati kami. Lalu, dalam satu malam, semuanya lenyap. Tanpa pamit, tanpa penjelasan. Hanya ada ruang kosong yang kini kucoba isi dengan aroma kopi dan debu kertas.

"Elara, bisa tolong pindahkan tumpukan arsip di bawah meja kasir ke ruang penyimpanan belakang? Aku harus memeriksa stok di gudang atas," pinta Pak Damar.

"Baik, Pak."

Aku berjongkok di balik meja bar, menarik sebuah kotak kardus yang c**up berat. Di dalamnya terdapat ratusan amplop dari berbagai warna dan ukuran—surat-surat dari tahun lalu yang sudah dipindahkan dari kotak utama untuk diarsipkan secara permanen. Beberapa amplop terlihat lusuh, sudut-sudutnya terlipat, sementara yang lain masih berbau parfum yang memudar.

Saat aku mengangkat tumpukan itu, sebuah amplop berwarna biru pucat terjatuh. Amplop itu tidak tertutup rapat; lemnya mungkin sudah mengering dimakan usia. Tanpa sengaja, isinya terselip keluar.

Jantungku berdegup kencang. *Jangan dibaca*, bisik nuraniku. Tapi mataku sudah lebih dulu menangkap tulisan tangan di sana. Tulisan yang sangat kukenali. Tulisan dengan huruf 'g' yang ekornya selalu ditarik terlalu panjang ke bawah.

Tanganku gemetar saat meraih kertas itu. Di sana, tidak ada paragraf panjang. Hanya ada sebuah daftar yang ditulis dengan tinta hitam yang mulai kecokelatan.

*Playlist Untuk Yang Tak Pernah Benar-benar Pergi:*

1. *Slow Dancing in a Burning Room - John Mayer*

2. *The Night We Met - Lord Huron*

3. *Fix You - Coldplay*

4. *...*

Daftar itu berlanjut hingga sepuluh lagu. Nafasku tertahan di tenggorokan. Ini bukan sekadar daftar lagu acak. Ini adalah *playlist* yang kami susun bersama di perpustakaan kampus suatu sore, sebuah kompilasi lagu yang hanya kami berdua yang tahu maknanya. Lagu pertama adalah lagu saat kami pertama kali bertengkar hebat, dan lagu kedua adalah lagu yang kami putar saat kami berbaikan di bawah guyuran hujan.

Aku membalik kertas itu dengan jari yang dingin. Di sudut bawah, terdapat sebuah catatan kecil, hampir seperti bisikan yang tertinggal di atas kertas:

*"Lagu nomor sepuluh akan aku putar saat kau akhirnya menemukanku kembali. Aku masih menunggu di frekuensi yang sama, El."*

Darahku terasa membeku. 'El' adalah pangg***n khususnya untukku. Tidak ada orang lain yang menggunakan nama itu. Aku menatap amplop biru pucat itu sekali lagi. Tidak ada nama pengirim, tidak ada tanggal yang jelas, namun bau samar kayu cendana—parfum yang selalu ia pakai—seolah menguar dari serat kertasnya, menampar kesadaranku.

Dia tidak menghilang begitu saja. Dia meninggalkan jejak di sini, di tempat yang baru saja kujadikan tempat persembunyian.

Tiba-tiba, lonceng pintu berdenting lagi. Aku tersentak, hampir menjatuhkan seluruh isi kardus. Aku menoleh dengan cepat ke arah pintu, berharap—sekaligus takut—akan melihat sosok pria dari masa laluku itu melangkah ma**k dengan senyum yang dulu sangat kucint**.

Namun, di sana hanya ada kegelapan malam yang mulai turun dan jalanan yang basah. Tidak ada siapa-siapa. Hanya angin dingin yang menyelinap ma**k, membuat daftar lagu di tanganku bergetar pelan.

Siapa yang meninggalkan surat ini di sini? Dan yang lebih menakutkan lagi, apakah dia tahu bahwa suatu hari nanti, akulah yang akan menemukannya?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca