Ujung amplop berwarna biru pucat itu terasa dingin di bawah jemariku, seolah-olah kertas itu baru saja dikeluarkan dari lemari es, bukan dari tumpukan arsip berdebu di pojok Kafe Melankolia. Aku bisa merasakan tekstur kertasnya yang sedikit kasar—jenis kertas mahal yang tidak akan dibeli oleh sembarang orang hanya untuk sekadar corat-coret. Di dalamnya, barisan kata yang ditulis dengan tinta hitam pekat itu seperti berdenyut, memanggil-manggil namaku tanpa benar-benar menyebutkannya.
*Track 3: “The Night We Met” – Lord Huron.*
Judul lagu itu tertulis di sana, di antara paragraf yang menceritakan tentang aroma hujan di aspal panas dan bagaimana seseorang merindukan versi dirinya yang dulu, sebelum segalanya hancur. Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering seperti baru saja menelan segenggam pasir. Itu adalah lagu yang kami dengarkan di mobil tua miliknya, saat kami tersesat di pinggiran kota tiga tahun lalu.
*Tap. Tap. Tap.*
Suara langkah kaki yang berat dan ritmis itu menghantam lant** kayu tua kafe, memecah keheningan ruang arsip yang sempit. Jantungku mencelos. Aku tahu persis irama langkah itu. Itu adalah langkah kaki Pak Danu, pemilik kafe ini, sekaligus pria yang memberikan perlindungan padaku saat aku tidak punya tempat untuk pulang.
“Elara?”
Suaranya yang berat dan serak bergema dari balik pintu kayu yang hanya tertutup separuh.
Panik menyergapku seperti ombak pasang. Jika ada satu aturan tak tertulis yang paling suci di Kafe Melankolia, itu adalah: *Jangan pernah menyentuh, apalagi membaca, isi dari Kotak Surat Tak Terkirim.* Tempat ini adalah tempat suci bagi mereka yang patah hati. Membaca surat-surat ini adalah bentuk pengkhianatan paling rendah terhadap kepercayaan pelanggan.
Dengan gerakan canggung yang hampir membuatku menjatuhkan kotak kayu di depanku, aku melipat surat biru itu dengan tergesa-gesa. Saking gemetarnya tanganku, sudut kertas itu justru menyayat ujung ibu jariku. Aku merintih pelan, rasa perih yang tajam menusuk saraf, tapi aku tidak punya waktu untuk mengeluh. Aku segera menyelipkan surat itu ke dalam saku celemek kerjaku, tepat saat pintu kayu itu berderit terbuka sepenuhnya.
Pak Danu berdiri di sana. Cahaya remang dari koridor membentuk siluet tubuhnya yang tinggi dan sedikit membungkuk dimakan usia. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, dan matanya yang tajam seolah bisa menembus ke dalam pikiranku yang sedang kacau.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini, El? Bel depan berbunyi dua kali, tapi tidak ada yang menyambut pelanggan,” tanyanya. Suaranya tidak membentak, tapi ada nada ketegasan yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku memaksakan diri untuk berdiri tegak, berusaha menutupi saku celemekku dengan tangan kiri. “Maaf, Pak. Saya... saya tadi melihat ada tumpukan kotak yang hampir jatuh. Saya hanya ingin merapikannya sebentar.”
Pak Danu melangkah ma**k ke dalam ruangan yang hanya berukuran dua kali tiga meter itu. Bau kopi yang menempel di pakaiannya bercampur dengan aroma kertas tua yang apek. Ia memandang ke arah rak-rak yang berisi ratusan, mungkin ribuan, amplop dari berbagai tahun. Tatapannya kemudian beralih ke wajahku, meneliti setiap inci ekspresiku.
“Kamu tampak pucat,” komentarnya. Ia mendekat, tangannya yang keriput terangkat untuk membetulkan letak kacamata. “Dan tanganmu bergetar.”
Aku mengepalkan tanganku di balik kain celemek. Aku bisa merasakan ujung amplop biru itu menusuk telapak tanganku, seolah-olah ia sengaja ingin menunjukkan keberadaannya. “Hanya sedikit kedinginan, Pak. AC di sini sepertinya terlalu rendah.”
Pak Danu tidak menjawab. Matanya menyipit, lalu perlahan turun ke arah saku celemekku. Ada sedikit bagian dari amplop biru itu yang menyembul keluar—hanya beberapa milimeter, tapi di mata seorang pria yang telah menjaga rahasia-rahasia ini selama puluhan tahun, itu mungkin terlihat seperti gunung yang menjulang.
Duniaku seolah berhenti berputar. Aku membayangkan skenario terburuk: Pak Danu memintaku menyerahkan surat itu, ia akan kecewa, lalu ia akan memintaku meletakkan kunci kafe di atas meja bar dan pergi selamanya. Kehilangan pekerjaan ini bukan hanya berarti kehilangan penghasilan, tapi kehilangan satu-satunya tempat di mana aku merasa aman dari dunia luar yang menuntutku untuk menjadi 'normal' setelah kepergiannya.
“Elara,” Pak Danu memanggil namaku dengan nada yang lebih lembut, namun penuh peringatan. “Kamu tahu mengapa aku membangun tempat ini? Bukan untuk mencari keuntungan dari kopi yang kita jual.”
Aku hanya bisa mengangguk pelan, tidak berani bersuara karena takut suaraku akan pecah.
“Tempat ini ada karena orang butuh tempat untuk melepaskan beban mereka tanpa takut dihakimi. Jika privasi di sini ternoda, walau hanya sedikit, maka Kafe Melankolia tidak ada bedanya dengan pasar loak yang menjual kesedihan orang lain.”
Ia melangkah satu kaki lebih dekat. Jarak kami sekarang hanya satu lengan. Aku bisa melihat pantulan diriku yang ketakutan di kacamatanya. Tangannya bergerak menuju saku celemekku. Napasnya terdengar berat di udara yang pengap. Aku memejamkan mata, bersiap untuk kata-kata pemecatan yang akan segera terlontar.
Namun, alih-alih menarik surat itu, aku merasakan tangannya hanya menepuk bahuku dengan pelan.
“Perg***h ke depan. Ada pelanggan yang memesan *V60* dengan biji kopi Flores. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama,” ucapnya tenang.
Aku membuka mata, bingung. Pak Danu sudah berbalik arah, membelakangiku. Namun, sebelum ia benar-benar keluar dari ruang arsip, ia berhenti sejenak di ambang pintu.
“Dan Elara... pastikan apa pun yang ada di sakumu itu kembali ke tempat asalnya sebelum kamu pulang malam ini. Jangan biarkan rasa ingin tahu menghancurkan tempat yang paling kamu butuhkan.”
Suara langkah kakinya menjauh, meninggalkan aku sendirian di antara ribuan surat yang membisu. Aku merosot ke lant**, punggungku bersandar pada rak kayu yang dingin. Napasku memburu, keluar ma**k dengan tidak teratur.
Aku merogoh saku celemekku, mengeluarkan amplop biru yang kini sedikit terlipat itu. Di ujung jariku, noda darah kecil tertinggal di sudut kertas, mewarnai warna birunya dengan setitik merah gelap yang kontras.
Pak Danu tahu. Dia pasti tahu.
Aku memandang ke arah kotak surat di sudut ruangan, lalu beralih ke pintu keluar. Pilihan itu kini terasa seperti pisau bermata dua. Jika aku mengembalikan surat ini, aku mungkin menyelamatkan pekerjaanku, tapi aku akan selamanya dihantui oleh pertanyaan tentang siapa yang menulisnya. Namun jika aku menyimpannya, aku sedang berjalan menuju jurang yang bisa menghancurkan segalanya.
Ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak. Aplikasi pemutar musikku mendadak aktif sendiri, menampilkan sebuah daftar putar otomatis yang tidak pernah kubuat sebelumnya.
Di layar itu, lagu pertama yang muncul adalah lagu yang sama dengan yang tertulis di surat ini. Dan di bawahnya, ada satu pesan singkat dari nomor tak dikenal yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak:
*“Kamu masih mendengarkan, kan? Lagu selanjutnya akan segera dimulai.”*
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!