Aroma kopi luwak yang baru saja digiling menyeruak, mengisi sela-sela udara Kafe Melankolia yang lembap oleh sisa hujan sore itu. Di balik meja bar yang terbuat dari kayu jati tua, aku menyibukkan diri dengan mengelap cangkir-cangkir porselen, meskipun aku tahu benda-benda itu sudah c**up meng***p untuk memantulkan bayangan wajahku yang kian kusam.
Mataku terus melirik ke sudut ruangan, ke arah kotak kayu berwarna cokelat gelap dengan celah sempit di atasnya. Kotak Surat Tak Terkirim. Bagiku, itu bukan sekadar kotak kayu; itu adalah kotak pandora yang telah mencuri ketenanganku selama dua minggu terakhir.
Ketika suasana kafe mulai lengang dan hanya menyisakan seorang pria tua yang asyik dengan korannya di sudut terjauh, aku memberanikan diri mendekat. Tanganku gemetar saat membuka kunci kecil di bagian samping kotak tersebut. Di dalamnya, tumpukan kertas berserakanβcurhatan tentang cinta yang kandas, penyesalan pada orang tua, hingga kemarahan pada diri sendiri. Namun, jariku seolah memiliki magnet tersendiri. Aku merogoh ke tumpukan paling bawah, tempat aku menemukan dua surat sebelumnya.
Dan di sana, sebuah amplop biru pucat terselip, masih bersih tanpa noda debu.
Jantungku berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke ujung jari. Aku membawa amplop itu kembali ke balik bar, menyembunyikannya di bawah mesin *espresso*. Dengan napas tertahan, aku merobek pinggirannya pelan-pelan. Di dalamnya terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat kukenalβsedikit miring ke kanan, dengan tarikan huruf 'g' yang melengkung tajam, seolah penulisnya selalu terburu-buru mengejar waktu.
*Track 3: "The Night We Met" β Lord Huron.*
*Aku tahu, lagu ini selalu membuatmu menangis. Dulu, aku sering mematikan radionya sebelum bagian refrain dimulai hanya karena aku tidak tahan melihat matamu yang berkaca-kaca. Tapi sekarang, aku justru membiarkannya berputar berulang kali di kepalaku, seperti kaset rusak yang terjepit.*
*El, aku tidak pernah bermaksud menjadi hantu dalam hidupmu. Menghilang bukan pilihanku, tapi itu adalah satu-satunya cara yang kukenal untuk melindungimu dari kehancuranku sendiri. Maafkan aku. Maaf karena aku memilih untuk pengecut. Maaf karena aku membiarkanmu merayakan ulang tahunmu yang ke-22 sendirian di restoran itu tanpa kabar. Maaf karena aku menjadikan kita orang asing tanpa sepatah kata pun untuk pamit.*
*Setiap kali lagu ini ma**k ke bagian bait kedua, aku selalu membayangkanmu berdiri di depan pintu apartemenku, mengetuk dengan irama yang sama seperti detak jantungku saat ini. Aku merindukanmu sampai rasanya sesak, tapi aku tahu aku tidak punya hak lagi untuk sekadar menyebut namamu.*
Pandanganku mengabur. Huruf-huruf di atas kertas itu mulai menari-nari dan meleleh bersama air mata yang tanpa izin jatuh membasahi pipiku. Satu tetes mendarat tepat di atas kata 'maaf', membuat tintanya meluber menjadi noda biru yang kelam.
Rasa sesak itu bukan lagi sekadar kiasan. Dadaku benar-benar terasa seperti dihantam balok kayu yang berat. Selama tiga tahun, aku membangun tembok tinggi agar tidak hancur oleh kenangan tentangnya. Aku meyakinkan diriku bahwa dia hanyalah masa lalu yang tak punya kaki untuk mengejarku. Namun, melalui surat ini, dia seolah menarik kakiku kembali ke dalam lumpur hisap memori yang menyakitkan.
"Mbak? Pesanan saya sudah?"
Suara berat itu memecah kesunyian. Aku tersentak, bahuku berjingkat. Seorang pelanggan pria muda sudah berdiri di depan bar, menatapku dengan kening berkerut.
Cepat-cepat aku menyeka pipiku dengan punggung tangan, lalu merunduk di balik meja bar, berpura-pura mencari sesuatu di rak bawah. "Ah, maaf... sebentar ya, Mas. Saya... saya sedang memeriksa stok biji kopi," suaraku serak, bergetar di ujung kalimat.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menelan isak yang hampir meledak dari tenggorokanku. Mataku panas, dan aku tahu hidungku pasti memerah. Aku tidak boleh terlihat hancur di depan pelanggan. Profesionalisme adalah satu-satunya pegangan yang tersisa dalam hidupku yang berantakan ini.
"Mbaknya nggak apa-apa?" pria itu bertanya lagi, suaranya terdengar lebih lembut, mungkin menyadari sesuatu yang aneh.
"Nggak apa-apa, Mas. Hanya alergi debu," jawabku berbohong, masih membelakanginya sambil mencuci tangan di wastafel, membiarkan air dingin mengalir deras untuk meredam suara isakanku.
Aku mengambil napas panjang sekali lagi, memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa sangat palsu sebelum berbalik menghadapnya. "Mau pesan apa, Mas?"
Pria itu terdiam sejenak, matanya menatap mataku yang sembap dengan rasa ingin tahu yang membuatku tidak nyaman. "Americano dingin satu. Dan... tisu. Sepertinya Mbak lebih butuh tisu daripada saya."
Dia meletakkan selembar uang di atas meja bar lalu kembali duduk di kursinya tanpa menunggu jawaban. Aku terpaku, tangan masih memegang pinggiran meja kayu untuk menopang tubuhku yang terasa lemas.
Tanganku kembali meraba surat di bawah mesin *espresso*. Permintaan maaf itu... kenapa sekarang? Kenapa setelah aku hampir berhasil melupakannya? Dan yang lebih menakutkan adalah kenyataan bahwa dia tahu aku ada di sini. Dia tahu aku bekerja di Kafe Melankolia. Dia sedang mengawasiku dari suatu tempat di kota ini, bersembunyi di balik bayang-bayang, mengirimkan kepingan-kepingan playlist yang dulu pernah menjadi lagu kebangsaan cinta kami.
Aku menyajikan Americano pesanan pria itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Saat aku kembali ke bar, mataku tertuju pada bagian paling bawah surat yang belum sempat kubaca tadi. Ada satu baris tambahan yang ditulis dengan tinta yang lebih gelap, seolah ditekan dengan emosi yang meluap.
*Lagu selanjutnya akan mengingatkanmu pada janji yang kita buat di bawah lampu jalan yang mati itu. Aku akan ada di sana, El. Di lagu keempat.*
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Lagu keempat. Aku tahu persis apa lagu itu. Dan aku tahu di mana "lampu jalan yang mati itu" berada. Sebuah pilihan mustahil kini terbentang di depanku: tetap diam di balik keamanan bar ini, atau melangkah keluar untuk menemui hantu dari masa laluku yang mungkin saja akan menghancurkanku untuk kedua kalinya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!