Uap panas mengepul dari cangkir porselen di hadapanku, membawa aroma *bergamot* dan sedikit sentuhan kayu manis yang seharusnya menenangkan. Namun, jemariku yang melingkari cangkir itu justru gemetar. Di sudut paling remang Kafe Melankolia, tersembunyi di balik bayangan tanaman palem dalam pot besar, seorang pria duduk sendirian.
Dia mengenakan jaket *parka* berwarna hijau zaitun yang pudar—persis seperti milik Aris. Potongan rambutnya yang sedikit berantakan di bagian belakang, cara bahunya merosot saat ia menulis sesuatu di atas secarik kertas, bahkan caranya menyesap kopi hitam tanpa gula dengan gerakan lambat yang mekanis, semuanya menarik paksa ingatanku ke masa tiga tahun lalu.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan ritme yang menyakitkan. Di latar belakang, *speaker* kafe sedang memutarkan lagu instrumental melankolis, namun di telingaku, yang terdengar hanyalah lagu kelima dari playlist rahasia itu: *‘Ghost in the City’*. Lagu yang selalu Aris putar saat dia merasa dunia terlalu bising untuk dihadapi.
"El, meja nomor tujuh minta *bill*," suara Rian, rekan kerjaku, memecah lamunanku.
Aku mengerjapkan mata, mencoba mengusir kabut yang menyelimuti pikiranku. "Ah, iya. Sebentar."
Aku memberikan *bill* pada pelanggan di meja nomor tujuh dengan tangan yang masih dingin. Mataku kembali terlempar ke sudut kafe itu. Pria itu kini sedang melipat kertasnya dengan sangat hati-hati, sebuah gerakan presisi yang sangat kukenali. Aris selalu melipat surat atau catatan menjadi persegi kecil yang sempurna sebelum menyimpannya atau memberikannya padaku.
Rasa ingin tahu itu bukan lagi sekadar percikan, melainkan api yang membakar habis sisa-sisa profesionalismeku. Selama berminggu-minggu, surat-surat anonim di 'Kotak Surat Tak Terkirim' telah menghantuiku. Baris-baris kalimat yang menyebutkan det**l kecil tentang hidup kami—kebiasaan makan malamku, ketakutanku pada petir, hingga daftar lagu yang hanya kami berdua yang tahu.
Jika benar itu dia, mengapa dia bersembunyi di balik bayang-bayang? Mengapa dia tidak langsung menyapaku?
Aku mengambil nampan perak kecil, meletakkan segelas air putih di atasnya—alasan klasis untuk menghampiri pelanggan—dan mulai melangkah. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang terjal. Kakiku berat, napas pendek-pendek, dan pandanganku terkunci pada punggung pria itu.
Aku berhenti tepat di samping mejanya. Aroma parfumnya tercium—campuran pinus dan hujan. Jantungku seolah berhenti berdetak. Itu aroma Aris.
"Permisi, Tuan. Ini air putih tambahan untuk Anda," suaraku keluar dengan nada yang lebih tipis dari yang kuharapkan. Getarannya tidak bisa kusembunyikan.
Pria itu terdiam sejenak. Tangannya yang sedang memegang pena berhenti bergerak. Aku menahan napas, menanti ia menoleh, menanti mata cokelat gelap yang selalu menatapku dengan kehangatan yang meluluhkan itu kembali menatapku.
"Terima kasih," jawabnya rendah.
Suara itu. Berat, namun sedikit serak. Apakah itu suara Aris? Tiga tahun bisa mengubah vokal seseorang, bukan?
Pria itu perlahan mendongak, memutar kepalanya untuk menatapku.
Duniaku seolah runtuh dalam satu detik yang sunyi. Harapan yang kubangun setinggi langit dalam hitungan menit tadi hancur berkeping-keping, menghantam lant** kafe yang dingin.
Pria itu bukan Aris.
Wajahnya lebih tirus, dengan garis rahang yang lebih tegas dan sepasang mata yang terlihat jauh lebih lelah daripada yang pernah kulihat pada Aris. Dia mungkin seusiaku, atau sedikit lebih tua. Ada kesedihan yang mendalam di matanya, jenis kesedihan yang membuat seseorang terlihat seperti jiwa yang tersesat di tengah keramaian.
"Ada yang lain?" tanyanya, keningnya berkerut tipis melihatku yang mematung dengan wajah pucat.
Aku tersedak ludahku sendiri, buru-buru menunduk. "Ma—maaf. Saya pikir Anda... saya salah orang. Maafkan saya."
Aku berbalik dengan cepat, hampir menab**k meja di belakangku. Malu, kecewa, dan sesak berkumpul menjadi gumpalan di tenggorokanku. Aku kembali ke balik bar, berpura-pura sibuk mengelap konter yang sebenarnya sudah bersih mengkilap. Bodoh. Benar-benar bodoh, Elara. Bagaimana mungkin kau begitu yakin hanya karena sebuah jaket dan cara duduk?
Dari kejauhan, aku melihat pria itu menghela napas panjang. Dia berdiri, meletakkan selembar uang di bawah cangkir kopinya, dan berjalan menuju 'Kotak Surat Tak Terkirim' di dekat pintu keluar. Dia mema**kkan lipatan kertas persegi itu ke dalam celah kotak kayu tua tersebut, lalu pergi menembus gerimis yang mulai membasahi kota.
Rian mendekatiku, menyenggol bahuku pelan. "El? Kamu oke? Kamu kayak habis lihat hantu."
Aku memaksakan sebuah senyum kecut. "Hanya kurang tidur, Yan."
Namun, mataku tetap tertuju pada kotak surat itu. Rasa kecewaku perlahan berganti dengan rasa penasaran yang baru. Pria itu bukan Aris, tapi ada sesuatu yang janggal. Cara dia menulis, cara dia melipat kertas... itu terlalu identik.
Saat kafe mulai sepi dan Rian sedang sibuk di gudang belakang, aku melangkah mendekati kotak surat itu. Tanganku merogoh ke dalam tumpukan kertas di dalamnya, mencari lipatan persegi yang paling baru.
Begitu jemariku menyentuh kertas yang masih terasa hangat itu, aku menariknya keluar. Dengan tangan gemetar, aku membuka lipatannya. Bukannya deretan kalimat panjang berisi penyesalan seperti biasanya, hanya ada satu baris kalimat di tengah kertas putih itu, ditulis dengan tinta hitam yang tegas.
*“Lagu keenam dalam playlist itu adalah 'The Art of Letting Go', tapi sepertinya kau masih terjebak di lagu pertama, Elara.”*
Darahku terasa membeku. Pria tadi memang bukan Aris. Tapi dia tahu siapa aku. Dan yang lebih mengerikan, dia tahu apa yang sedang kupikirkan. Aku menoleh ke arah pintu kafe yang berdentang tertiup angin, menyadari bahwa orang asing itu baru saja memulai permainan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar rindu yang tak tersampaikan.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!