Semburat jingga yang merayap di dinding Kafe Melankolia mulai memudar, digantikan oleh warna ungu pekat yang perlahan menelan sudut-sudut ruangan. Aku mengelap meja kayu di barisan paling pojok dengan gerakan mekanis. Mataku, bagaimanapun, tak benar-benar fokus pada serat kayu yang meng***p, melainkan pada sebuah kursi kosong di dekat jendela yang sudah dua jam terakhir tak berpenghuni.
Di atas meja itu, aku menemukan sebuah alas gelas kertas yang basah. Ada sisa lingkaran cokelat dari dasar cangkir kopi, tetapi bukan itu yang membuat jantungku berdegup tidak keruan. Di pinggir alas gelas itu, tertulis sebuah catatan kecil dengan tinta hitam yang hampir luntur: *Track 07: Rehat.*
Tanganku gemetar. Itu bukan sekadar judul lagu. Itu adalah lagu ketujuh dalam daftar putar yang dulu sering kami dengarkan saat mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam. Cara penulisan angka '7' dengan garis horizontal kecil di tengahnya... itu gaya tulisan tangan Aris. Aku mengenalnya seperti aku mengenal letak tahi lalat di punggung tanganku sendiri.
"El, kamu melamun lagi?"
Suara Raka memecah keheningan. Rekan kerjaku itu sedang melepas celemeknya di balik bar, bersiap-siap untuk pulang. Jam dinding besar di atas pintu ma**k menunjukkan pukul 21.45. Lima belas menit lagi Kafe Melankolia harus berhenti beroperasi.
"Ah, tidak. Aku cuma... merasa meja ini masih agak lengket," kilahku, sambil terus menggosok meski permukaannya sudah bersih sempurna.
Raka tertawa kecil, suara yang biasanya menenangkan tapi kali ini terasa seperti gangguan. "Sudahlah, besok juga kotor lagi. Ayo bersiap, aku yang kunci pintu depan hari ini. Kamu bisa pulang lebih awal kalau mau."
Aku menelan ludah. Lidahku terasa kelu. Jika aku pergi sekarang, aku mungkin akan melewatkan sosok yang baru saja meninggalkan jejak di atas alas gelas ini. Firasatku mengatakan dia tidak benar-benar pergi jauh. Dia sedang menunggu. Menunggu kafe ini sepi, atau menunggu aku benar-benar sendirian.
"Sebenarnya, Ka," aku berdehem, mencoba menormalkan suaraku yang tiba-tiba serak. "Aku rasa aku perlu tinggal sebentar lagi. Aku ingin merapikan Kotak Surat Tak Terkirim di belakang. Tadi siang ada banyak pengunjung, arsipnya berantakan sekali."
Raka mengerutkan kening, melirik kotak kayu besar yang terletak di sudut remang kafe. "Bukannya itu tugas mingguan setiap hari Minggu? Ini baru hari Rabu, El."
"Aku tahu. Tapi aku sulit tidur belakangan ini kalau tahu ada sesuatu yang tidak rapi. Lagipula, aku ingin menyortir beberapa surat yang mungkin salah ma**k kategori," aku mencari alasan sekenanya, tanganku meremas kain lap di balik punggung. "Kamu pulang saja duluan. Biar aku yang mengunci pintu nanti. Aku bawa kunci cadangan, kok."
Raka menatapku lamat-lamat. Matanya yang tajam seolah sedang membedah kebohonganku. Aku menahan napas, berusaha menjaga ekspresi wajahku tetap datar, meski di dalam dada, jantungku sedang menabuh genderang perang.
"Kamu yakin? Kamu kelihatan pucat," ujar Raka lembut.
"Hanya lelah sedikit. Kopi terakhir yang kubuat tadi terlalu kuat, sepertinya aromanya membuatku pening," jawabku sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang kupaksakan agar terlihat meyakinkan.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Raka akhirnya menghela napas dan mengambil tas punggungnya. "Baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Kalau sudah lewat tengah malam dan kamu masih di sini, aku akan meneleponmu untuk memastikan kamu tidak diculik hantu penunggu kotak surat itu."
Aku tertawa hambar. "Janji. Hanya tiga puluh menit."
Begitu pintu depan berdentang dan suara motor Raka menjauh, keheningan di Kafe Melankolia terasa menekan. Aku mematikan lampu utama, menyisakan lampu-lampu gantung kecil yang memancarkan cahaya kuning redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di lant**.
Aku berjalan menuju Kotak Surat Tak Terkirim. Kotak itu tampak seperti peti harta karun kuno yang menyimpan ribuan luka yang tak tersembuhkan. Aku mema**kkan tangan ke dalamnya, meraba tumpukan amplop berbagai warna. Namun, mataku tetap terjaga, melirik ke arah pintu kaca yang gelap di depan sana.
Di luar, gerimis mulai turun, membasahi aspal jalanan yang sepi.
Tiba-tiba, lonceng di atas pintu berdentang sekali. Lemah, seolah seseorang membukanya dengan sangat hati-hati. Udara dingin malam menyelinap ma**k, membawa aroma tanah basah dan... aroma parfum yang sangat kukenal. Cengkeh dan cendana.
Aku membeku di tempat. Tanganku masih berada di dalam kotak surat, menggenggam sebuah amplop tanpa nama. Napas duniaku seolah berhenti saat aku melihat bayangan seorang pria berdiri di ambang pintu, tertutup oleh keremangan cahaya.
Dia mengenakan jaket parka berwarna gelap yang basah oleh sisa hujan. Ia tidak melangkah ma**k lebih jauh, hanya berdiri di sana, menatapku dari kejauhan. Wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang tudung jaket, tapi aku bisa merasakan tatapannyaβtatapan yang sama yang dulu selalu membuatku merasa menjadi satu-satunya orang yang ada di dunia ini.
"Sudah tutup?" suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang menyatu dengan deru angin di luar.
Suara itu. Suara yang selama tiga tahun ini hanya bergema dalam mimpi buruk dan rekaman memori yang sengaja kusimpan rapat-rapat. Lututku terasa lemas, dan amplop yang kupegang terjatuh kembali ke dalam kotak.
"Aris?" panggilku, suaraku nyaris tak terdengar, terjepit di antara ketakutan dan kerinduan yang meledak secara bersamaan.
Sosok itu bergeming sebentar, lalu perlahan tangannya bergerak merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sesuatuβsebuah kertas kecil yang dilipat rapiβdan meletakkannya di atas meja paling depan, tepat di bawah sorot lampu kecil yang masih menyala.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah kembali ke kegelapan malam, membiarkan pintu kafe berayun terbuka, mendatangkan angin dingin yang menerbangkan helai rambutku.
Aku berlari menuju meja itu, mengabaikan rasa perih di kakiku yang tersandung kaki kursi. Di atas meja, terdapat sebuah kertas memo kecil. Aku membukanya dengan tangan bergetar hebat. Di sana, tertulis satu kalimat pendek yang membuat duniaku runtuh seketika:
*Lagu kedelapan dalam playlist itu selalu tentang permintaan maaf yang terlambat. Apa kamu masih mendengarkannya, Elara?*
Aku mendongak ke arah pintu, tapi jalanan di depan kafe sudah kosong melongpong. Hanya ada lampu jalan yang berkedip-kedip dan suara hujan yang kian menderu. Ia menghilang lagi, meninggalkan aku dalam keheningan yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. Namun kali ini, aku tahu dia tidak akan jauh. Dia ada di sini, di kota ini, memutar kembali lagu-lagu yang seharusnya sudah lama aku lupakan.
Pertanyaannya sekarang, apakah aku c**up berani untuk memutar lagu selanjutnya, ataukah aku akan membiarkan playlist ini berhenti di sini sebelum segalanya hancur kembali?
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!