Aroma biji kopi yang terpanggang sisa sore tadi masih menggantung tipis di udara Kafe Melankolia, bercampur dengan bau kertas lama dari pojok 'Kotak Surat Tak Terkirim'. Aku duduk di kursi tinggi di belakang meja bar, tempat yang biasanya menjadi perisai amanku dari dunia luar. Di depanku, sebuah ponsel tergeletak dengan layar yang menyala, menampilkan sebuah tautan *playlist* digital yang baru saja berhasil kurangkai kepingannya dari surat-surat anonim itu.
Tanganku gemetar saat meraih *headphone*. Selama tiga tahun, aku membangun dinding kemarahan yang kokoh sebagai mekanisme pertahanan diri. Aku membenci Aris karena ia pergi tanpa kata. Aku membencinya karena ia membiarkanku terjebak dalam teka-teki yang tidak pernah kuminta untuk pecahkan. Namun, saat jempolku menekan tombol *play* pada lagu urutan keenam—sebuah lagu instrumental piano yang melankolis namun memiliki denting ambisi yang kuat—dinding itu mulai retak.
Musik itu mengalun, memenuhi rongga telingaku, merayap ma**k ke dalam sela-sela ingatan yang coba kukubur. Itu adalah melodi yang sering ia gumamkan saat kami masih bersama, saat ia masih bergulat dengan sketsa-sketsa arsitekturnya yang selalu ia anggap tak c**up layak.
Bersamaan dengan musik itu, aku membuka lipatan kertas terakhir yang kutemukan terselip di balik tumpukan arsip tahun 2021. Tulisan tangannya—sedikit miring dan terburu-buru, namun sangat kukenali—mulai berbicara padaku.
*“Ra, aku tahu kau pasti benci melihatku pergi tanpa pamit. Tapi saat itu, aku merasa seperti jangkar yang hanya akan menahanmu di pelabuhan yang sepi. Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain mimpi-mimpi yang belum tentu jadi nyata. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau banggakan, Ra. Aku ingin mengejar semua kegagalan ini sendirian, agar kau tidak perlu ikut menanggung bebannya. Aku tidak ingin kau melihatku hancur saat aku mencoba membangun duniaku.”*
Aku tertegun. Napas yang tadi tertahan di dada kini keluar dalam satu embusan gemetar. Selama ini, aku mengira kepergiannya adalah bentuk pengkhianatan, sebuah tanda bahwa aku tidak lagi c**up berharga untuk dipertahankan. Ternyata, yang terjadi justru sebaliknya. Dia pergi karena dia merasa dirinya sendiri tidak c**up berharga untukku.
"Bodoh," bisikku pada kesunyian kafe. Suaraku pecah, tertelan oleh denting piano di telingaku. "Aris, kamu benar-benar bodoh."
Rasa marah yang selama ini membakar hatiku tiba-tiba padam, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang. Itu adalah kesedihan yang jauh lebih menyesakkan daripada kemarahan. Kemarahan memberiku energi untuk bertahan, tapi kesedihan ini... ia membuatku merasa hampa.
Aku membayangkan Aris di kota lain, mungkin di bawah lampu jalan yang remang-remang, berjuang mati-matian dengan ambisinya sementara aku di sini, merutukinya setiap malam. Dia pikir dia sedang melindungiku dengan menjauh, padahal dia hanya sedang mencuri waktu kami. Tiga tahun. Seribu seratus hari lebih yang seharusnya bisa kami lalui bersama, entah dalam keadaan sulit maupun senang.
"Kenapa kau tidak membiarkanku memilih, Aris?" tanyaku pada secarik kertas di tanganku, seolah kertas itu bisa menjawab. "Kenapa kau merasa berhak memutuskan apa yang terbaik untukku dengan cara menghilang?"
Air mata pertama jatuh, membasahi tinta di kertas itu hingga sedikit meluber. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat; tawa kami di kedai bakmi pinggir jalan, perdebatan tentang warna cat dinding rumah impian yang hanya ada di kepala, dan tatapan matanya yang selalu tampak lelah namun penuh kasih.
Semua waktu itu hilang. Menguap begitu saja menjadi debu sejarah karena egonya yang terbungkus rapi dalam dalih 'pengorbanan'. Aku merasa sesak. Bukan karena dia meninggalkanku, tapi karena alasan di baliknya terasa begitu sia-sia. Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk dicint**, tapi Aris tidak pernah memahami itu.
Lagu di *headphone*-ku berganti ke lagu berikutnya dalam daftar. Intro gitarnya terdengar lebih cerah, namun bagiku, melodi itu justru terdengar seperti sebuah perpisahan yang lebih definitif. Aku menyadari sesuatu yang menyakitkan: kebenaran ini tidak menyembuhkanku. Kebenaran ini justru membuat lubang di hatiku semakin lebar karena sekarang aku tahu bahwa kami saling kehilangan bukan karena kurangnya cinta, tapi karena kurangnya keberanian untuk saling mengandalkan.
Tiba-tiba, lonceng di pintu kafe berdenting. Aku tersentak, cepat-cepat menghapus air mata dengan punggung tangan dan melepas *headphone*. Siapa yang datang selarut ini? Jam operasional sudah berakhir sejak satu jam yang lalu.
Aku berdiri, mencoba mengatur napas dan ekspresi wajahku. Seorang pria berdiri di ambang pintu yang remang. Dia mengenakan jaket gelap yang lembap karena gerimis di luar. Cahaya lampu jalan di belakangnya membuatnya tampak seperti siluet yang keluar dari masa laluku.
Pria itu tidak melangkah ma**k. Ia hanya berdiri di sana, memegang gagang pintu dengan tangan yang tampak ragu. Debaran jantungku mendadak liar, menghantam rusukku dengan keras. Aroma hujan yang terbawa angin ma**k ke dalam kafe, membawa serta sebuah perasaan familier yang sangat menyesakkan.
"Ra," suara itu rendah, parau, dan sangat nyata. Bukan sekadar imajinasi dari rekaman lagu atau tulisan di kertas.
Aku terpaku di balik meja bar, tanganku masih meremas surat terakhir dari kotak itu. Di antara keremangan kafe dan detak jantung yang m****akkan telinga, aku menyadari satu hal: daftar lagu ini belum selesai diputar, dan bagian tersulitnya baru saja dimulai. Karena di depanku, tiga tahun waktu yang terbuang itu kini menatapku dengan mata yang sama letihnya seperti saat ia pergi.
"Kamu terlambat, Aris," ucapku, meski suaraku nyaris tak terdengar, terjepit di antara kerinduan dan luka yang mendalam.
Ia melangkah satu kaki ke dalam, dan saat cahaya lampu kafe menyentuh wajahnya, aku melihat sesuatu yang lebih mengejutkan daripada sekadar kehadirannya. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kusam—kotak yang seharusnya tidak ada di sana.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!