Lampu gantung di sudut Kafe Melankolia berpendar redup, melemparkan bayangan panjang di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas. Di luar, hujan turun tanpa aba-aba, memba**h kaca jendela dengan aliran air yang buram, seolah-olah dunia di luar sana sedang dihapus perlahan. Aku meletakkan dua cangkir *cappuccino* dengan sisa buih yang membentuk pola hati yang tidak sempurna. Satu untukku, dan satu lagi untuk laki-laki yang duduk di hadapanku.
Rian. Nama itu masih terasa seperti duri kecil yang tersangkut di tenggorokanku setiap kali aku ingin mengucapkannya.
Tiga tahun adalah waktu yang c**up lama untuk mengubah cara seseorang memegang cangkir atau cara mereka menyisir rambut dengan jemari saat merasa canggung. Rian yang ada di depanku mengenakan kemeja flanel yang tampak sedikit terlalu besar untuk bahunya yang sekarang lebih tegap. Matanya, yang dulu selalu penuh dengan binar antusiasme, kini tampak seperti telaga tenang yang menyimpan terlalu banyak rahasia di dasarnya.
"Kamu masih ingat cara membuat buihnya tidak terlalu tebal," gumam Rian, suaranya parau, nyaris kalah oleh denting sendok yang beradu dengan porselen.
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma kopi yang biasanya menenangkanku, namun kali ini justru terasa menyesakkan. "Beberapa hal sulit untuk dilupakan, Rian. Meski kita berusaha keras untuk menghapusnya."
Rian menatap kepulan uap dari cangkirnya. "Aku menulis surat-surat itu bukan untuk membuatmu merasa terbebani, El. Aku hanya... aku tidak tahu harus menaruh semua ingatan itu di mana lagi. Kafe ini, kotak surat itu, rasanya seperti satu-satunya tempat yang bisa menampung 'kita' tanpa menghakimiku."
Aku memperhatikan jemarinya yang mengetuk meja secara ritmis. Itu adalah kebiasaan lama. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah bekas luka kecil di pangkal ibu jarinya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sebuah tanda dari tiga tahun yang tidak aku lalui bersamanya.
"Kenapa playlist itu?" tanyaku akhirnya, menyuarakan rasa penasaran yang membakar dadaku selama berminggu-minggu. "Kenapa kamu mema**kkan lagu *'The Night We Met'* di urutan pertama? Kamu tahu persis itu lagu yang kita dengarkan saat ban mobilmu bocor di pinggir jalan menuju Bandung."
Rian terkekeh kecil, namun tidak ada nada jenaka di sana. "Karena itu adalah awal dari segalanya. Dan ironisnya, itu juga terasa seperti lagu pemakaman untuk hubungan kita setiap kali aku mendengarnya di sana. Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar pergi dengan tangan kosong. Aku membawa semua melodi itu bersamaku."
Aku merapatkan jaket rajutku, merasa kedinginan meski pemanas ruangan berfungsi dengan baik. "Tapi kamu pergi tanpa kata, Rian. Kamu membiarkan lagu-lagu itu berhenti berputar di tengah-tengah. Kamu membuatku merasa seperti sebuah kaset yang kusut dan dibuang."
Rian mendongak, matanya bertemu denganku. Untuk sesaat, aku melihat Elara yang berusia dua puluh satu tahun tercermin di sanaβperempuan yang pernah begitu yakin bahwa laki-laki ini adalah pelabuhan terakhirnya. Namun, bayangan itu segera memudar, digantikan oleh pantulan diriku yang sekarang; lebih lelah, lebih waspada.
"Aku minta maaf," ucapnya pelan. Kata-kata itu menggantung di udara, terasa hambar. "Aku pikir dengan menghilang, aku memberimu ruang untuk tumbuh tanpa beban kegagalanku. Aku sedang hancur saat itu, El. Dan aku tidak ingin menghancurkanmu juga."
"Tapi kamu tidak memberiku pilihan," balasku dengan suara yang mulai bergetar. "Kamu memutuskan segalanya sendirian. Dan sekarang, setelah tiga tahun, kamu kembali melalui surat-surat anonim seolah-olah kita bisa melanjutkan lagu yang terputus itu begitu saja?"
Aku meraih cangkir kopiku, namun tanganku gemetar hebat hingga cairannya hampir tumpah. Rian refleks menjulurkan tangannya, seolah ingin menggenggam jemariku untuk menenangkannya, namun ia berhenti di tengah jalan. Jarak sepuluh sentimeter di antara tangan kami terasa seperti jurang yang tak berdasar.
Ia menarik kembali tangannya. "Aku melihatmu tadi, El. Saat kamu melayani pelanggan di depan. Cara kamu tersenyum, cara kamu menjelaskan menu... kamu bukan lagi Elara yang dulu selalu ragu untuk bicara pada orang asing. Kamu sudah tumbuh."
"Begitu juga kamu," kataku, menatap bekas luka di tangannya lagi. "Kamu punya cerita yang tidak aku tahu. Kamu punya luka yang tidak aku obati. Kita... kita bukan lagi potongan *puzzle* yang sama, Rian. Meski kita mencoba memaksa untuk ma**k ke bingkai yang lama, sudut-sudut kita sudah berubah."
Rian terdiam c**up lama. Di latar belakang, lagu *'Vienna'* milik Billy Joel mulai mengalun lembut dari *speaker* kafeβlagu kelima dalam playlist rahasia itu. Lagu tentang menyadari bahwa hidup akan terus berjalan, tidak peduli seberapa keras kita berusaha menahannya.
"Cinta itu masih ada, kan?" tanya Rian dengan nada yang sangat rapuh, hampir seperti bisikan.
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari kejujuran yang sama. "Mungkin. Tapi cinta saja tidak c**up untuk mengenali orang asing yang duduk di depanku saat ini. Aku mencint** Rian yang dulu, yang hobi menulis puisi di tisu kafe. Tapi aku tidak tahu siapa Rian yang menulis surat-surat sedih di kotak itu."
Rian menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak seolah-olah sebuah beban besar baru saja dijatuhkan ke pundaknya. "Jadi, kita benar-benar telah menjadi asing?"
"Kita adalah versi terbaru dari diri kita sendiri," jawabku tegas, meski hatiku terasa seperti diremas. "Dan versi itu tidak saling mengenal."
Aku berdiri, merasa percakapan ini telah mencapai titik di mana kata-kata tidak lagi bisa memperbaiki apa pun. Aku mengambil cangkir kosong milikku, namun sebelum aku berbalik menuju bar, Rian mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
Sebuah amplop biru pucat. Tanpa nama. Tanpa prangko.
"Ini yang terakhir," katanya, meletakkan amplop itu di atas meja. "Aku tidak akan menulis lagi setelah ini. Tapi ada satu hal di dalam sana yang harus kamu lihat sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk menutup buku ini."
Aku mematung, menatap amplop itu seolah-olah benda itu bisa meledak kapan saja. Rian bangkit, mengenakan jaketnya, dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. Lonceng kafe berdenting saat ia keluar, menyatu dengan suara hujan yang masih menderu.
Aku duduk kembali, perlahan membuka amplop itu dengan tangan yang masih dingin. Di dalamnya bukan hanya sepuc** surat, melainkan sebuah kunci kecil dengan gantungan berbentuk not balok yang sangat kukenalβkunci loker rahasia kami di studio musik tua yang dulu sering kami datangi. Di balik kertas surat itu, tertulis satu baris kalimat yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak:
*Lagu terakhir dalam playlist itu bukan untuk di dengar, El. Tapi untuk ditemukan. Perg***h ke sana, satu kali saja.*
Aku menatap kunci di tanganku, menyadari bahwa meski kami telah menjadi asing, masa lalu belum sepenuhnya melepaskan cengkeramannya padaku. Dan lagu terakhir itu baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!