Aroma biji kopi Arabika yang terpanggang dan sisa uap susu yang manis biasanya menjadi pelukan hangat bagi Elara. Namun, sore ini, sensasi itu justru mencekik. Di dalam saku celemeknya, secarik kertas yang ia temukan terselip di antara tumpukan arsip 'Kotak Surat Tak Terkirim' terasa seberat bongkahan timah. Kertas itu seolah berdenyut, mengirimkan gelombang kegelisahan yang merambat hingga ke ujung jemarinya.
"El, meja nomor empat minta tambah gula cair," tegur Rian, rekan kerjanya, sambil menepuk bahu Elara pelan.
Elara tersentak. Tangannya refleks menekan saku celemek, memastikan kertas itu masih ada di sana. "Oh, iya. Gula cair. Siap."
Suaranya parau, sesuatu yang untungnya tidak disadari oleh Rian yang sedang sibuk menghaluskan busa susu. Elara bergerak mekanis, mengantarkan pesanan, tersenyum tipis pada pelanggan, lalu dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar tampak ka**al, ia berbelok menuju pintu kayu di sudut belakang kafe. Pintu menuju gudang penyimpanan.
Begitu pintu tertutup, kebisingan mesin espreso dan denting cangkir dari area depan langsung teredam, digantikan oleh keheningan yang lembap dan bau debu yang menempel pada kardus-kardus tua. Elara bersandar pada pintu, napasnya memburu. Cahaya matahari sore yang mulai meredup ma**k melalui ventilasi kecil di langit-langit, menjatuhkan seberkas sinar keemasan yang menyorot lant** semen yang dingin.
Dengan tangan yang gemetar, ia merogoh sakunya. Kertas itu kini sudah agak lecek. Elara membukanya perlahan, seolah-olah jika ia melakukannya terlalu cepat, kata-kata di dalamnya akan menguap atau justru meledak di depan wajahnya.
Tulisan tangan itu miring ke kanan, rapi namun memiliki tarikan garis yang tegas pada setiap huruf 't' dan 'd'. Elara mengenalnya. Jantungnya berdentam kencang, menghantam rongga dada dengan ritme yang menyakitkan.
*Untuk kamu yang mungkin masih mengingat aroma hujan di halte belakang kampus.*
Elara menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun. Ia terus membaca, dan saat matanya turun ke baris berikutnya, dunianya seakan berhenti berputar. Di sana, tertulis sebuah daftar. Sebuah *playlist*.
*1. "Sparks" – Coldplay*
*2. "Wait" – M83*
*3. "The Night We Met" – Lord Huron*
*4. "Rivers and Roads" – The Head and the Heart*
Lutut Elara terasa lemas. Ia merosot, duduk bersimpuh di lant** gudang yang keras tanpa mempedulikan debu yang mungkin mengotori celananya. Matanya memanas, pandangannya mengabur oleh lapisan bening yang siap tumpah kapan saja.
Daftar lagu itu bukan sekadar kumpulan judul. Itu adalah naskah dari kencan pertama mereka tiga tahun lalu.
Elara bisa merasakannya kembali—dinginnya jok motor yang basah karena gerimis, aroma jaket denim yang lembap, dan sepasang *earphone* yang mereka bagi berdua. Saat itu, mereka duduk di sebuah bangku taman yang sepi, mengabaikan dunia yang sibuk berlalu-lalang. Lelaki itu memberinya sebelah *earphone* kanan, lalu berkata, *"Dengarkan ini. Lagu-lagu ini adalah cara duniaku menyapamu."*
Lagu pertama, "Sparks". Elara ingat bagaimana ia tak sengaja menyentuh punggung tangan lelaki itu saat melodi gitar akustik mulai mengalun. Lelaki itu tidak menjauh; ia justru membalikkan telapak tangannya, menautkan jemari mereka dengan erat.
Lagu kedua, "Wait". Saat itu hujan mulai turun lebih deras, memaksa mereka berlindung di bawah kanopi toko buku yang sudah tutup. Mereka tidak bicara, hanya saling menatap dalam diam yang paling nyaman yang pernah Elara rasakan.
Dan sekarang, daftar itu ada di tangannya. Di sebuah kafe yang seharusnya menjadi tempatnya melarikan diri dari masa lalu.
"Nggak mungkin," bisik Elara pada keheningan gudang. "Ini nggak mungkin kebetulan."
Ia membalik kertas itu, berharap menemukan nama, inisial, atau setidaknya tanggal penulisan. Namun, bagian belakang kertas itu bersih. Kosong. Hanya ada satu kalimat tambahan di bagian paling bawah daftar lagu tersebut, ditulis dengan tinta yang sedikit lebih tebal:
*Aku masih berada di lagu kelima, El. Lagu yang belum sempat kita selesaikan karena duniamu tiba-tiba menjadi sunyi.*
Elara menutup mulutnya dengan tangan, menahan isakan yang hampir lolos. Lagu kelima. Ia ingat betul. Mereka tidak pernah sampai ke lagu kelima karena saat itu ponsel lelaki itu berdering, sebuah pangg***n yang mengubah segalanya, sebuah pangg***n yang membuatnya pergi dan tak pernah kembali. Menjadikan mereka dua orang asing yang hanya terhubung oleh ingatan-ingatan yang membusuk.
Siapa yang mengirim ini? Bagaimana orang itu tahu dia bekerja di sini? Dan yang paling menakutkan: apakah dia sedang diawasi dari balik kaca jendela kafe yang lebar?
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekati pintu gudang. Elara tersentak berdiri, buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangannya dan melipat kertas itu sekecil mungkin, menyembunyikannya kembali ke dalam saku.
Pintu terbuka. Sosok Pak Damar, pemilik kafe yang berwajah teduh, berdiri di sana. Ia menatap Elara dengan dahi berkerut.
"El? Kamu di sini? Rian bilang kamu tadi ma**k ke gudang tapi nggak keluar-keluar." Pak Damar memperhatikan wajah Elara yang sembap. "Kamu nggak apa-apa? Kamu pucat sekali."
Elara mencoba menarik napas panjang, meski dadanya terasa sesak. "Saya... saya cuma merasa sedikit pusing, Pak. Mungkin karena tadi belum sempat makan siang."
Pak Damar menghela napas, sorot matanya dipenuhi simpati. "Pulanglah lebih awal. Biar Rian yang pegang meja bar sampai malam. Kamu butuh istirahat."
"Tapi, Pak—"
"Jangan membantah. Kamu sudah bekerja keras minggu ini." Pak Damar tersenyum tipis, lalu matanya beralih ke deretan rak 'Kotak Surat Tak Terkirim' di belakang Elara. "Oh, omong-omong, tadi ada seseorang yang menitipkan amplop lagi di kotak depan. Sepertinya untuk kategori 'Masa Lalu'. Nanti tolong kamu sortir kalau sudah merasa lebih baik, ya?"
Elara membeku. Kepalanya berdenyut. "Siapa yang menitipkannya, Pak? Laki-laki?"
Pak Damar tampak berpikir sejenak. "Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Dia memakai jaket *hoodie* gelap dan masker. Tapi dia sempat bertanya satu hal padaku sebelum pergi."
"Tanya apa, Pak?" suara Elara hampir menghilang.
Pak Damar menatap Elara lurus-lurus. "Dia bertanya apakah lagu-lagu di kafe ini bisa dipesan sesuai permintaan pengunjung. Katanya, dia ingin mendengar lagu kelima dari sebuah daftar lama."
Darah Elara seolah berhenti mengalir. Ia tidak lagi peduli dengan perintah Pak Damar untuk pulang. Dengan langkah terburu-buru, ia melewati atasannya itu, berlari menuju area depan kafe. Matanya menyisir setiap sudut ruangan, setiap meja, setiap wajah yang ada di sana.
Namun, yang ia temukan hanyalah kerumunan orang asing, kepulan asap kopi, dan alunan musik latar kafe yang sedang memutar lagu jaz instrumental yang asing. Lelaki itu tidak ada. Tapi di atas meja *counter*, tepat di samping mesin kasir, tergeletak sebuah amplop biru tua yang masih segar, kontras dengan tumpukan surat usang lainnya.
Elara tahu, jika ia membuka amplop itu, ia tidak akan bisa kembali lagi menjadi Elara yang tenang di balik meja bar. Namun, rasa ingin tahu itu kini jauh lebih besar daripada ketakutannya. Tangannya terjulur, menyentuh permukaan amplop yang dingin, sementara di telinganya, melodi lagu kelima yang pernah ia lupakan mulai terngiang kembali secara samar.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!