Playlist Terakhir Sebelum Kita Asing

Bab 5: Bab 5 - Flashback ke masa tiga tahun lalu saat hubungan...

Pengaturan Membaca

Aroma kopi *mandheling* yang baru saja kuseduh menguar, berbaur dengan bau kertas tua dari tumpukan surat di sudut Kafe Melankolia. Namun, pikiranku tidak berada di sini. Pikiranku terseret tiga tahun ke belakang, ke sebuah sore yang lembap oleh sisa hujan di Jakarta, saat dunia masih terasa seperti milik kami berdua.

Aku ingat betul bagaimana rasanya jemari Aris saat itu. Kasar namun hangat, melingkar sempurna di jemariku saat kami duduk di bangku taman yang masih basah. Aris mengenakan sweter abu-abu yang lengannya sering ia tarik hingga menutupi telapak tanganβ€”sebuah kebiasaan kecil yang selalu membuatku gemas. Kami berbagi satu pasang *earphone* kabel; sisi kiri untukku, sisi kanan untuknya.

"Lagu ini," bisik Aris, kepalanya bersandar di bahuku. "Nanti kalau kita sudah punya rumah sendiri, aku mau lagu ini diputar setiap hari Minggu pagi."

Lagu itu adalah 'The Only Exception' milik Paramore, versi akustik yang lembut. Aku tertawa kecil, merasakan getaran suaranya di pundakku. "Kenapa hari Minggu? Kenapa nggak setiap hari?"

Aris menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah. "Karena Minggu itu hari tenang. Sama seperti kamu. Kamu itu hari Mingguku, Ra."

Aku menoleh, menemukan matanya yang teduh menatapku dengan binar yang begitu jujur. Saat itu, aku percaya seratus persen bahwa binar itu tak akan pernah padam. Bagiku, Aris adalah peta yang tidak akan membiarkanku tersesat. Kami sedang di puncak, di titik di mana setiap lelucon terasa lucu dan setiap diam terasa bermakna.

Aris kemudian mengambil ponselnya, membuka aplikasi musik, dan mulai mengetik sesuatu. "Aku lagi buatkan sesuatu buat kamu. Sebuah daftar lagu. *The Soundtrack of Us*, judulnya."

"Terdengar klise, tapi aku suka," godaku sambil menyenggol lengannya.

"Ini bukan cuma lagu favorit, Ra. Ini kode. Setiap lagu punya pesan yang mungkin aku malu buat bilang langsung ke kamu," Aris tersenyum, tapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata. Ada kilat tipis kecemasan yang lewat begitu cepat, seolah ia baru saja mengingat sesuatu yang berat.

Tepat saat itu, ponselnya bergetar di atas pangkuannya. Sebuah notifikasi muncul. Aku tidak sengaja melihat nama yang muncul di layar: 'Kantor - Urusan Mendesak'. Aris segera membalik ponselnya ke bawah, gerakannya terlalu cepat, terlalu defensif untuk seseorang yang biasanya terbuka padaku.

"Ada masalah?" tanyaku lembut. Tanganku masih di dalam genggamannya, tapi tiba-tiba terasa ada jarak yang membentang di antara kami, meski hanya beberapa milimeter.

"Bukan apa-apa. Cuma kerjaan," jawabnya singkat. Ia memaksakan senyum, lalu mengalihkan pembicaraan. "Eh, kamu mau makan martabak nggak nanti malam? Aku belikan yang paling banyak kejunya."

Aku tahu dia sedang menghindar. Ada sesuatu di nada suaranya yang tidak selaras dengan lagu yang sedang kami dengar. Seharusnya aku bertanya. Seharusnya aku mendesak, "Aris, kamu nggak biasanya begini." Tapi, ketakutanku akan konflik selalu lebih besar daripada rasa ingin tahuku. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk, membiarkan pertanyaanku tertelan kembali ke tenggorokan.

Komunikasi kami mulai terasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis sejak hari itu. Kami tertawa, kami makan bersama, kami merencanakan masa depan, tapi ada ruangan-ruangan di dalam hati Aris yang mulai ia kunci satu per satu. Dan aku, karena terlalu takut merusak kebahagiaan yang kami miliki, memilih untuk tidak mengetuk pintu-pintu itu.

"Ra? Kamu dengar aku?"

Suara Aris membuyarkan lamunanku tentang sore itu. Kembali ke masa lalu, di taman itu, Aris menatapku dengan kening berkerut.

"Kenapa melamun?" tanyanya.

"Nggak apa-apa," dustaku. "Cuma mikir, lagu apa lagi yang bakal kamu ma**kkan ke *playlist* itu?"

Aris terdiam sejenak. Ia memandang ke arah jalanan yang mulai macet. "Mungkin lagu tentang perpisahan. Biar kita tahu rasanya bersyukur karena nggak pernah mengalaminya."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, ringan seperti candaan, tapi terasa dingin di telingaku. Aku merapatkan sweterku. Sesuatu di dalam diriku berbisik bahwa kebahagiaan ini mulai retak, tapi aku memilih untuk menutup telinga. Aku lebih suka hidup dalam ilusi kesempurnaan daripada menghadapi kenyataan yang mungkin menyakitkan.

"Jangan pernah ma**kkan lagu sedih di sana, Ris," kataku akhirnya. "Aku nggak mau lagu-lagu itu jadi kenyataan."

Aris tidak menjawab. Ia hanya mempererat genggaman tangannya, tapi aku merasakannyaβ€”tangannya mulai dingin. Kami duduk di sana, di bawah langit yang mulai menggelap, mendengarkan lagu yang sama namun memikirkan hal yang berbeda. Itulah awal mula kami menjadi orang asing bagi satu sama lain; bukan karena jarak, tapi karena kata-kata yang kami pilih untuk simpan sendiri.

Kembali ke masa kini, di Kafe Melankolia, tanganku gemetar saat memegang surat anonim yang kutemukan di kotak surat tak terkirim. Aku melihat deretan judul lagu yang tertulis dengan tinta hitam yang mulai pudar di atas kertas kusam itu.

Daftar lagu itu. Judul-judulnya. Urutannya. Semuanya persis dengan apa yang Aris tunjukkan padaku di taman sore itu.

Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan keras. Aku membalik kertas itu, berharap menemukan nama atau inisial di baliknya. Namun, yang kutemukan hanyalah sebuah kalimat pendek di bagian paling bawah, ditulis dengan tulisan tangan yang sangat kukenali, tulisan yang dulu sering mengisi kartu ucapan ulang tahunku.

*'Lagu nomor tujuh adalah satu-satunya alasan kenapa aku harus pergi tanpa pamit. Maaf karena aku terlalu pengecut untuk mengatakannya padamu secara langsung.'*

Aku segera mencari lagu nomor tujuh di ingatanku. Napas duniaku seolah berhenti. Lagu itu bukan tentang cinta, bukan tentang masa depan. Lagu itu adalah tentang sebuah rahasia yang selama tiga tahun ini terkubur rapat di bawah tanah, dan kini, rahasia itu menuntut untuk digali kembali.

Siapa yang mengirim surat ini? Dan apakah Aris benar-benar ada di luar sana, memperhatikanku dari balik bayang-bayang masa lalu yang belum usai?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca