Uap tipis mengepul dari cangkir porselen di hadapanku, membawa aroma *earthy* dari biji kopi Mandheling yang baru saja kuseduh. Namun, indra penciumanku seolah mati rasa. Pikiranku tertambat sepenuhnya pada secarik kertas biru yang kini kuselipkan di dalam saku celemek, terasa seberat bongkahan batu. Surat ituβsurat dengan daftar lagu yang menghancurkan benteng pertahanan yang kubangun selama tiga tahunβterus berbisik, menuntut jawaban yang tak kunjung kutemukan.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling Kafe Melankolia. Pukul sepuluh pagi, suasana masih terhitung lengang. Hanya ada seorang pria tua yang sibuk dengan korannya di sudut jendela dan sepasang remaja yang saling melempar senyum malu-malu di dekat pintu ma**k. Mataku kembali tertuju pada kotak kayu jati tua di sudut ruangan yang remang. 'Kotak Surat Tak Terkirim'. Tempat segala rindu yang sekarat diletakkan untuk dibiarkan membusuk atau abadi dalam keheningan.
Siapa yang menaruhnya di sana?
Aku berjalan mendekati meja konter tempat Pak Bagas, pemilik kafe, sedang mengelap gelas-gelas kristal dengan gerakan ritmis. Pak Bagas adalah pria paruh baya yang irit bicara namun memiliki sorot mata yang seolah bisa membaca isi kepala setiap orang.
"Pak," panggilku pelan, nyaris ragu.
Pak Bagas hanya bergumam kecil tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya.
"Mengenai kotak surat itu... apa kita pernah mendata siapa saja yang mema**kkan surat ke sana? Atau mungkin, ada prosedur tertentu?"
Pak Bagas menghentikan gerakannya. Ia meletakkan gelas yang meng***p itu, lalu menatapku dengan kacamata yang melorot di ujung hidung. "Kau tahu peraturannya, Elara. Melankolia dibangun di atas fondasi kerahasiaan. Orang-orang datang ke sini untuk membuang beban, bukan untuk dicatat namanya seperti daftar hadir di kelurahan."
"Aku tahu, Pak. Maksudku... bagaimana jika ada sesuatu yang tertinggal? Atau jika seseorang ingin menarik kembali suratnya?" aku mencoba mencari celah.
Pak Bagas menghela napas panjang, sebuah suara berat yang seakan membawa beban masa lalu kafe ini. "Sekali surat itu ma**k ke lubang kayu tersebut, ia bukan lagi milik si pengirim. Ia menjadi milik dinding-dinding kafe ini. Privasi pelanggan adalah harga mati. Itulah alasan kenapa di sudut sana tidak ada mata elektronik."
Ia menunjuk ke arah sudut kotak surat dengan dagunya. Aku menoleh. Di sana, di bagian atas rak buku tua yang bersandar di samping kotak tersebut, tidak ada benda bulat kecil yang berkedip merah. Tidak ada CCTV. Sudut itu adalah titik buta yang disengaja.
"Jadi... tidak ada cara untuk tahu siapa yang baru saja menaruh surat?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Pak Bagas menyipitkan mata, seolah menyadari kegelisahan yang coba kusembunyikan di balik nada bicaraku yang datar. "Ada apa, Elara? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu."
"Bukan apa-apa, Pak. Hanya rasa ingin tahu yang bodoh," dustaku sambil segera berbalik menuju mesin espresso, pura-pura sibuk mengatur timbangan kopi.
Dadaku terasa sesak. Ketiadaan rekaman visual berarti aku benar-benar buta. Aku mencoba memutar kembali ingatan kemarin. Siapa saja yang duduk di dekat kotak itu? Ada seorang pria berjaket *hoodie* abu-abu yang duduk c**up lama, tapi ia terlihat sibuk dengan laptopnya. Lalu ada seorang wanita paruh baya yang menangis pelan sambil menyesap teh kamomil. Tidak ada satupun dari mereka yang mengingatkanku pada *dia*.
Tapi daftar lagu itu... *Track* nomor empat adalah "The Night We Met" dari Lord Huron. Itu lagu yang kami dengarkan berulang kali di dalam mobil saat hujan deras menjebak kami di pinggir jalan tol tiga tahun lalu. Tidak mungkin itu hanya sebuah kebetulan yang tidak disengaja.
Aku menghabiskan sisa sif pagi dengan kewaspadaan yang berlebihan. Setiap kali lonceng di atas pintu berdenting, jantungku seolah melompat. Aku memperhatikan setiap pelanggan yang ma**k. Cara mereka berjalan, cara mereka memesan kopi, hingga aroma parfum yang tertinggal saat mereka melewatiku.
Seorang pria dengan jaket denim ma**k sekitar pukul dua siang. Postur tubuhnya tegap, sedikit membungkuk saat melihat menu, persis seperti kebiasaan *dia* jika sedang bimbang memilih antara Americano atau Latte. Jemariku yang sedang memegang *portafilter* gemetar. Aku menundukkan kepala, membiarkan rambutku menutupi sebagian wajah, sembari mencuri pandang melalui sela-sela helainya.
Pria itu berjalan menuju sudut kotak surat. Jantungku berpacu g***-g***an. Ia berdiri di sana c**up lama, tangannya meraba permukaan kayu kotak yang kasar. Apakah itu dia? Apakah ia akan mema**kkan surat lagi?
Aku meletakkan kain lap dan berjalan keluar dari balik bar dengan dalih ingin membersihkan meja yang kosong di dekat sana. Semakin dekat aku melangkah, semakin kuat aroma kayu cendana bercampur tembakau samar terciumβaroma yang sangat familiar, aroma yang dulu sering kuhirup dari kerah kemejanya.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku dengan suara seserak mungkin.
Pria itu berbalik. Waktunya seolah melambat. Aku menahan napas, siap menghadapi kenyataan yang telah menghantuiku selama bertahun-tahun. Namun, saat wajahnya tertangkap sepenuhnya oleh mataku, kekecewaan pahit menghantamku. Dia bukan orang yang kucari. Pria ini lebih tua, dengan garis-garis halus di sekitar mata yang menunjukkan kelelahan yang berbeda.
"Ah, tidak," jawabnya ramah, suaranya berat dan asing. "Saya hanya... teringat mendiang istri saya. Dia dulu sering menulis surat, tapi tak pernah berani mengirimnya."
Aku memaksakan sebuah senyum kecil, sebuah topeng profesionalisme yang terasa retak. "Saya mengerti. Silakan luangkan waktu Anda, Pak."
Aku kembali ke bar dengan kaki lemas. Rasa malu menyergapku. Aku mulai merasa g*** karena selembar kertas biru itu. Aku terlalu banyak bera**msi, terlalu banyak berharap pada bayang-bayang.
Sore menjelang, dan hujan mulai turun membasahi kaca jendela kafe, menciptakan aliran air yang menyerupai air mata. Saat aku hendak merapikan tumpukan koran di meja panjang, mataku menangkap sesuatu yang ganjil di lant**, tepat di bawah celah antara kotak surat dan rak buku.
Sebuah benda kecil berkilau tertimpa cahaya lampu kafe yang mulai meremang.
Aku berlutut dan memungutnya. Itu adalah sebuah *pick* gitar berbahan seluloid warna kura-kura, dengan inisial yang terukir manual di permukaannya: *R*.
Napas setinggi paru-paruku seolah tersangkut. Inisial itu bukan sekadar huruf. Itu adalah tanda pengenal yang kubuat sendiri menggunakan pisau lipat kecil di malam ulang tahunnya yang ke-21. *R* untuk Rian.
Tanganku mengepal erat, menyembunyikan *pick* itu seolah-olah itu adalah jantung yang masih berdetak. Dia ada di sini. Dia baru saja berada di sini, atau mungkin sedang mengawasiku dari suatu tempat di luar sana, di antara tirai hujan dan lampu jalan yang mulai menyala.
Aku baru saja akan berdiri ketika lonceng pintu kembali berdenting, sekali lagi, diikuti oleh langkah kaki yang berat dan terburu-buru ma**k ke dalam kafe yang kini mulai gelap. Aku menoleh ke arah pintu, dan di sana, berdiri sesosok bayangan yang terengah-engah, basah kuyup oleh hujan, menatap lurus ke arahku dengan mata yang menyimpan seribu satu rahasia yang tak sempat terucap.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!