Aroma biji kopi yang baru digiling biasanya menjadi pelukan hangat bagi Elara setiap pagi, tetapi hari ini, bau itu terasa menyesakkan. Tangannya sedikit gemetar saat ia memutar kunci pintu kaca Kafe Melankolia. Sinar matahari pagi yang pucat merayap ma**k, menyinari butiran debu yang menari-nari di udara tenang kafe itu.
Langkah Elara terasa berat saat ia berjalan melewati jajaran kursi kayu menuju sudut ruangan. Di sana, tertempel di dinding yang remang, terdapat 'Kotak Surat Tak Terkirim'. Kotak kayu jati tua itu tampak seperti sebuah altar bagi kenangan-kenangan yang mati suri. Elara menelan ludah, dadanya berdenyut pelan. Kemarin, ia menemukan surat pertama. Dan entah mengapa, instingnya mengatakan bahwa keheningan pagi ini membawa sesuatu yang lain.
Ia membuka laci penyimpanan arsip di bawah kotak tersebut—tempat ia memindahkan surat-surat yang sudah penuh. Matanya menyisir tumpukan amplop berbagai warna. Lalu, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Di tumpukan paling atas, sebuah amplop putih bersih tergeletak. Tanpa prangko. Tanpa nama pengirim. Hanya ada satu coretan angka kecil di pojok kanan bawah: *2*.
Elara membawa amplop itu ke balik bar kafe. Ia duduk di kursi tinggi, membiarkan mesin espresso mendesis di latar belakang, mengabaikan rutinitas persiapan paginya. Dengan jari yang dingin, ia merobek pinggiran amplop itu pelan-pelan.
*“Kau ingat malam itu? Di dalam mobil yang kacanya mengembun karena hujan badai di luar?”*
Elara memejamkan mata. Seketika, ia tidak lagi berada di Kafe Melankolia. Ia bisa merasakan dinginnya AC mobil yang menusuk kulitnya, dan bau parfum *sandalwood* yang bercampur dengan aroma aspal basah.
*“Kita tidak bicara selama tiga puluh menit. Hanya ada suara wiper yang bergerak monoton dan lagu itu. Lagu yang kau benci karena menurutmu liriknya terlalu jujur, sementara aku menyukainya karena melodi gitarnya yang terdengar seperti tangisan yang tertahan.”*
Elara mencengkeram pinggiran kertas itu. Ia ingat lagu itu. *'The Night We Met'* dari Lord Huron.
Suara di dalam kepalanya mulai memutar melodi *folk* yang menghantui itu. Ingatan itu menghantamnya seperti ombak. Malam itu adalah puncak dari semua retakan yang selama ini mereka abaikan. Elara ingat bagaimana ia menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang kabur oleh air hujan, sementara di sampingnya, lelaki itu mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.
*“Aku ingin meminta maaf saat bait pertama diputar,”* lanjut tulisan di surat itu. Tulisan tangannya miring ke kanan, tegas namun ada keraguan di setiap tarikan garisnya. *“Tetapi kau justru mengeraskan volumenya. Kau sengaja membiarkan lagu itu menelan suara kita berdua, agar kita tidak perlu saling menyakiti dengan kata-kata yang lebih tajam. Di detik itu, aku sadar bahwa kita sudah menjadi dua orang asing yang kebetulan berbagi ruang sempit yang sama.”*
Napas Elara memburu. Ia ingat bagaimana ia sengaja memutar knop volume hingga suara gitar itu memenuhi kabin mobil, menulikan telinga mereka dari keheningan yang menyakitkan. Saat itu, ia berpikir bahwa diam adalah perlindungan. Ternyata, diam adalah cara tercepat untuk menghancurkan segalanya.
"Elara? Kamu sudah buka?"
Suara denting lonceng di pintu depan membuatnya terlonjak. Elara dengan cepat menyelipkan surat itu ke dalam saku celemeknya, jantungnya berpacu liar. Itu adalah Pak Danu, pemilik toko buku di sebelah kafe yang merupakan pelanggan setianya.
"Eh, iya, Pak. Sebentar, saya siapkan kopinya," sahut Elara dengan suara yang sedikit parau. Ia segera bangkit, tangannya bergerak mekanis menyiapkan cangkir, namun pikirannya tertinggal di baris terakhir surat itu.
Siapa yang menulis ini? Bagaimana orang itu bisa tahu tentang det**l volume radio? Tentang hujan badai itu? Tidak ada orang lain di mobil itu selain dia dan... Aris.
Nama itu terasa seperti duri di tenggorokannya. Aris, yang menghilang tiga tahun lalu tanpa sepatah kata pun. Aris, yang meninggalkannya tepat saat Elara merasa mereka baru saja mulai mengerti arti komitmen.
Sepanjang pagi, Elara bekerja layaknya robot. Ia menyajikan *latte*, membersihkan meja, dan tersenyum tipis pada pelanggan, namun telinganya terus terngiang bait-bait lagu Lord Huron itu. Setiap kali ia menyentuh saku celemeknya, kertas itu terasa panas, seolah-olah kata-kata di dalamnya memiliki denyut nadi sendiri.
Saat kafe sedikit lengang di jam makan siang, Elara kembali ke sudut kotak surat itu. Ia merasa diawasi. Matanya menyisir setiap sudut kafe, menatap para pengunjung satu per satu. Seorang pria berkacamata yang sibuk dengan laptopnya, sepasang remaja yang saling menggenggam tangan, dan seorang wanita tua yang duduk melamun di pojok. Tak satu pun dari mereka tampak mencurigakan.
Elara kemudian menyadari sesuatu. Ia berjalan menuju tablet yang terhubung dengan sistem audio kafe. Dengan jari gemetar, ia mengetikkan judul lagu itu di kolom pencarian daftar putar digital.
*The Night We Met.*
Lagu itu mulai mengalun di seluruh penjuru kafe. Suara petikan gitar yang melankolis itu mengisi udara, membuat beberapa pelanggan menoleh perlahan, terhanyut dalam suasana yang tiba-tiba berubah sendu.
Elara mematung di balik meja bar, menunggu. Jika pengirim surat itu ada di sini, jika ia memang sedang memperhatikannya, ia pasti akan bereaksi. Namun, yang didapatkan Elara justru sesuatu yang lebih mengejutkan.
Seorang kurir ma**k ke dalam kafe, membawa sebuah buket bunga krisan putih yang dibungkus kertas cokelat sederhana. Kurir itu melangkah menuju meja bar.
"Atas nama Elara?" tanya kurir itu.
Elara mengangguk perlahan, matanya terpaku pada s****gkai kartu kecil yang terselip di antara bunga-bunga itu. Ia mengambil kartu itu dengan tangan yang kini benar-benar bergetar. Di sana, tertulis satu kalimat pendek yang membuat dunianya seakan runtuh:
*“Lagu ini belum selesai, Elara. Kita hanya sedang berada di bagian jeda yang terlalu lama.”*
Elara segera berlari ke arah pintu, mengabaikan tatapan bingung para pelanggan. Ia keluar ke trotoar, menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok yang mungkin baru saja pergi. Namun, yang ia temukan hanyalah kerumunan orang asing yang berlalu lalang di bawah langit kota yang mendung, tak satu pun dari mereka menoleh ke arahnya.
Ia kembali ma**k ke dalam kafe dengan napas tersengal, dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang luput dari perhatiannya. Di daftar putar lagu yang sedang berjalan di tablet, judul lagu selanjutnya bukanlah pilihan otomatis dari sistem. Seseorang telah meretas atau mengakses akun daftar putar kafenya secara jarak jauh, dan judul lagu berikutnya adalah: *'Hanya Isyarat'.*
Lagu yang mereka dengarkan saat pertama kali mereka bertemu. Elara menyadari, orang ini tidak hanya mengirim surat. Orang ini sedang memutar kembali seluruh hidupnya, satu lagu demi satu lagu. Dan ia tidak tahu apakah ia harus merasa takut atau justru merindu.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!