Uap kopi mengepul dari cangkir porselen putih, menari-nari di udara sebelum akhirnya menghilang ditelan remang lampu Kafe Melankolia. Aku mengelap meja bar untuk yang kelima kalinya dalam sepuluh menit terakhir, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali kegelisahan mulai merayap di bawah kulitku. Di luar, hujan gerimis membungkus kota dengan selimut kelabu, membuat suasana kafe terasa lebih terisolasi dari dunia luar.
Lonceng di atas pintu berdenting kecil. Udara dingin menyelinap ma**k bersama seorang pria yang melangkah dengan kepala tertunduk.
Ia tidak langsung menuju meja kasir. Pria itu berdiri sejenak di ambang pintu, membiarkan tetesan air hujan jatuh dari jaket parkanya yang berwarna biru dongker. Topi bisbol hitam ditarik rendah hingga menutupi dahi, dan masker kain gelap menyembunyikan sebagian besar wajahnya. Ia tampak seperti siluet yang mencoba melebur dengan bayang-bayang.
Tanpa suara, ia berjalan menuju sudut terjauh kafe—Meja Nomor Sembilan. Meja itu terletak di area paling gelap, nyaris tersembunyi di balik rak buku tua dan tanaman monstera yang rimbun. Ia duduk membelakangi jendela, membuat sosoknya semakin sulit dikenali.
"El, pelanggan di meja sembilan," bisik Maya, rekan kerjaku, sambil menyenggol lenganku. "Dia lagi. Ini hari keempat dalam minggu ini, kan?"
Aku mengangguk pelan, jemariku meremas kain lap dengan lebih kencang. "Iya. Dia selalu datang di jam yang sama."
"Aneh, ya? Musim hujan begini tapi dia nggak pernah lepas masker. Apa dia artis?" Maya terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana, tapi aku tidak bisa ikut tertawa.
Ada sesuatu dari cara pria itu menarik kursi—sebuah gerakan menyeret yang halus namun tegas—yang memicu alarm di kepalaku. Sesuatu yang terasa sangat akrab, seperti nada lagu yang sudah lama tidak kudengar tapi tiba-tiba terngiang kembali.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang mulai tidak beraturan. Aku mengambil buku catatan kecil dan melangkah mendekatinya. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah lant** kayu kafe ini berubah menjadi lumpur hisap.
Saat aku sampai di depan mejanya, pria itu tidak mendongak. Ia sedang menatap kosong ke arah Kotak Surat Tak Terkirim yang terletak tak jauh dari mejanya. Tangannya, yang terbungkus sarung tangan tipis, mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme yang lambat.
*Satu, dua, jeda. Satu, dua, tiga.*
Napas daku tertahan. Ritme itu. Itu adalah kebiasaan Aris saat ia sedang melamun atau menunggu sesuatu. Sebuah sinkopasi yang tidak beraturan yang dulu sering ia lakukan di atas punggung tanganku.
"Selamat sore. Mau memesan sesuatu?" suaraku sedikit bergetar, lebih dari yang kuinginkan.
Pria itu terdiam sejenak. Kepalanya sedikit terangkat, namun bayangan dari lidah topinya tetap menyembunyikan matanya. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma samar hutan pinus dan sisa hujan—parfum yang sama yang selalu melekat di jaket Aris tiga tahun lalu.
"Americano panas. Tanpa gula," jawabnya.
Suaranya rendah, teredam oleh masker hitam yang ia kenakan. Namun, bariton itu mengirimkan sengatan listrik ke tulang belakangku. Itu adalah suara yang dulu sering membisikkan janji-janji di telingaku sebelum semuanya hancur menjadi keheningan yang panjang.
"Hanya itu?" tanyaku, berusaha menjaga profesionalisme meski tanganku mulai berkeringat.
Pria itu mengangguk singkat. Ia tetap tidak menatapku langsung. Ia mengeluarkan sebuah buku saku kecil dari saku jaketnya, seolah-olah ingin mengakhiri percakapan kami.
Aku berbalik dan kembali ke bar dengan kaki yang terasa lemas. Saat aku meracik kopinya, mataku tidak bisa berhenti melirik ke arah sudut gelap itu. Apakah itu benar-benar dia? Mengapa dia kembali sekarang? Dan mengapa dia harus bersembunyi di balik masker dan topi seolah-olah aku adalah ancaman?
Aku teringat akan surat anonim yang kubaca beberapa hari lalu di dalam kotak surat itu. Surat yang menyebutkan daftar lagu yang kami susun bersama di bawah pohon akasia kampus. *Playlist* yang ia sebut sebagai "peta jalan pulang".
Saat aku mengantarkan pesanannya, aku memberanikan diri. Aku meletakkan cangkir kopi itu dengan perlahan, lalu sengaja membiarkan jariku menyentuh pinggiran meja, sangat dekat dengan tangannya.
"Kami punya *playlist* baru hari ini di kafe," ujarku pelan, mencoba memancing reaksinya. "Ada satu lagu yang mungkin Anda suka. *'The Night We Met'*."
Pria itu tersentak kecil. Gerakan tangannya yang hendak mengambil cangkir terhenti di udara. Untuk sesaat, suasana di antara kami menjadi sangat pekat, lebih pekat daripada kopi yang baru saja kusajikan. Aku bisa merasakan tatapannya dari balik bayangan topi itu, menelusuri wajahku dengan intensitas yang membuatku sesak napas.
Ia tidak meminum kopinya. Ia hanya menatap uap yang membumbung, sebelum akhirnya suaranya kembali terdengar, lebih tipis kali ini. "Lagu itu... terlalu banyak menyimpan kenangan pahit untuk sore yang hujan seperti ini."
Jantungku mencelos. Pilihan katanya, caranya menjeda kalimat—semuanya menunjuk pada satu nama yang selama ini kucoba kubur dalam-dalam.
"Aris?" bisikku, nyaris tak terdengar.
Pria itu langsung berdiri. Ia merogoh saku, meletakkan selembar uang kertas di atas meja tanpa menunggu kembalian, dan berbalik dengan terburu-buru.
"Tunggu!" seruku, mengabaikan tatapan bingung Maya dan beberapa pengunjung lain.
Namun, pria itu tidak menoleh. Ia mendorong pintu kafe dengan kasar, membuat lonceng berdenting nyaring dan tak beraturan. Ia menghilang ke dalam kegelapan malam dan tirai hujan, meninggalkan aroma pinus yang tertinggal di udara dan secangkir Americano yang perlahan menjadi dingin.
Aku terpaku di tempatku berdiri, napasku memburu. Di atas meja nomor sembilan, di samping cangkir kopi yang tak tersentuh, aku melihat sesuatu yang tertinggal. Sebuah sobekan kertas kecil dengan tulisan tangan yang sangat kukenali, hanya terdiri dari empat kata yang sanggup meruntuhkan pertahananku.
*Lagu keempat belum selesai.*
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!