Ujung pena hitam itu tertahan beberapa milimeter di atas permukaan kertas putih yang masih bersih. Elara bisa merasakan denyut nadinya berpindah ke ujung jari, berdetak seirama dengan detak jarum jam dinding di Kafe Melankolia yang biasanya ia abaikan. Di luar, rintik hujan mulai membasahi kaca jendela, menciptakan efek buram yang membuat lampu-lampu jalanan tampak seperti cat air yang lumer.
Sudah satu jam sejak pelanggan terakhir pergi. Kafe ini sekarang hanya menyisakan aroma kopi sisa dan keheningan yang menyesakkan. Di hadapannya, secarik kertas itu seolah-olah menantangnya.
"Hanya beberapa kata, El. Hanya balasan singkat," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak dan penuh keraguan.
Ia menarik napas panjang, menghirup aroma kayu manis yang tertinggal di udara. Bayangan tentang surat tanpa nama yang ia temukan kemarin kembali berputar di kepalanya. Daftar lagu ituβ*playlist* yang terdiri dari lima lagu folk melankolis yang hanya ia dan laki-laki itu dengarkan saat mereka terjebak macet di tengah Jakarta tiga tahun lalu. Tidak mungkin ada orang lain yang menyusun urutan lagu sekhas itu. Tidak mungkin.
Jari-jarinya mulai bergerak.
*Aku tidak tahu apakah ini benar-benar kamu. Atau mungkin, aku hanya sedang menciptakan hantu untuk menemaniku di kafe yang sepi ini,* tulisnya.
Ia berhenti sejenak, menatap deretan kata itu dengan dahi berkerut. Terlalu puitis. Terlalu jujur. Elara meremas kertas itu hingga membentuk bola kecil dan melemparkannya ke bawah meja. Ia mengambil lembar baru.
*Lagu ketiga dalam daftar itu... kita selalu berdebat tentang maknanya, bukan? Kamu bilang itu tentang melepaskan, tapi aku bersikeras itu tentang menunggu. Sekarang, duduk di sini, aku mulai berpikir bahwa mungkin kamu benar. Melepaskan terkadang adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.*
Elara terpaku pada kalimat terakhirnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia bisa merasakan dadanya sesak, seolah-olah kenangan-kenangan yang selama ini ia kunci rapat di dasar kotak hitam dalam benaknya mendadak mendob**k keluar. Ia teringat bagaimana cara laki-laki itu tertawa di balik kemudi, bagaimana aroma parfumnya bercampur dengan bau hujan, dan bagaimana ia menghilang tanpa satu pun kata perpisahanβmeninggalkan Elara dalam sebuah keheningan yang panjang dan menyakitkan.
Ia melipat kertas itu menjadi persegi kecil yang rapi. Sudut-sudutnya tajam, setajam rasa penasaran yang menggerogoti logikanya.
Elara berdiri dari kursi tinggi di balik bar. Langkah kakinya terasa berat saat ia berjalan menuju sudut ruangan, tempat sebuah kotak kayu tua bertuliskan 'Kotak Surat Tak Terkirim' berada. Kotak itu tampak sangat tenang, seolah tidak memikul beban ribuan patah hati di dalamnya.
Ia mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh bibir lubang kotak tersebut. Namun, tepat sebelum ia melepaskan surat itu, sebuah pikiran buruk menghantamnya seperti ombak dingin.
*Bagaimana jika aku salah?*
Pikiran itu membuatnya membeku. Elara menarik kembali tangannya dengan cepat, mendekap surat itu di dadanya.
*Bagaimana jika ini semua hanya kebetulan? Bagaimana jika ada pasangan lain di dunia ini yang memiliki playlist yang sama? Bagaimana jika penulis surat itu sama sekali bukan dia, dan aku hanyalah perempuan menyedihkan yang terlalu percaya diri hingga menganggap diri sebagai pusat dari semesta seseorang?*
Bayangan tentang dirinya sendiri yang terlihat bodoh di mata orang lain membuat wajahnya memanas. Jika ia mema**kkan surat ini, dan ternyata pemilik surat asli membacanya, orang itu akan tahu betapa putus asanya seorang Elara. Ia akan menertawakan pramusaji kafe ini yang masih terjebak di masa lalu sementara dunia sudah bergerak maju ribuan kilometer darinya.
"Elara?"
Elara terlonjak, hampir menjatuhkan suratnya. Ia menoleh cepat dan menemukan Pak Bondan, pemilik kafe, berdiri di dekat pintu dapur sambil memegang serbet.
"Belum pulang? Sudah lewat jam sepuluh," ujar Pak Bondan dengan suara berat yang kebapakan. Matanya melirik ke arah tangan Elara yang disembunyikan di balik punggung.
"Ah, iya, Pak. Baru saja mau beres-beres," jawab Elara gugup. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di pipinya.
"Kamu terlihat pucat. Jangan terlalu banyak membaca surat-surat di kotak itu, El. Kadang, masa lalu orang lain bisa ikut meracuni pikiran kita jika kita tidak hati-hati," Pak Bondan memperingatkan sambil berjalan menuju pintu depan untuk mengunci gerendel.
Elara hanya mengangguk pelan. "Hanya sedang merapikan beberapa arsip tadi, Pak."
Setelah Pak Bondan ma**k kembali ke ruangannya, Elara menatap kotak kayu itu untuk terakhir kalinya malam ini. Keberanian yang tadi sempat terkumpul kini menguap tak bersisa, digantikan oleh rasa malu yang dingin. Ia tidak sanggup menanggung risiko menjadi orang asing yang mencoba ma**k kembali ke kehidupan seseorang yang mungkin sudah melupakannya.
Dengan gerakan cepat, ia mema**kkan lipatan kertas itu ke dalam saku celemeknya. Ia mematikan lampu utama kafe, menyisakan lampu temaram di sudut-sudut ruangan yang membuat bayangan benda-benda di sana tampak memanjang dan distorsi.
Saat ia berjalan menuju pintu keluar, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Elara tertegun. Itu adalah notifikasi dari aplikasi pemutar musiknya, sebuah fitur "Rekomendasi Untukmu" yang baru saja diperbarui.
Lagu pertama yang muncul di daftar itu adalah lagu keenam yang seharusnya ada dalam playlist merekaβlagu yang belum sempat mereka dengarkan bersama karena kecelakaan waktu itu.
Jantung Elara berdegup kencang. Ia menoleh kembali ke arah Kotak Surat Tak Terkirim di kegelapan. Mungkinkah seseorang sedang memainkan permainan ini dengannya secara nyata? Atau adakah mata yang sedang mengawasinya dari balik bayang-bayang kota?
Ia mempercepat langkahnya keluar dari kafe, mengunci pintu dengan tangan gemetar, sementara melodi lagu itu mulai terngiang-ngiang di kepalanya, seolah memanggilnya untuk kembali. Namun, di dalam sakunya, surat balasan itu terasa seperti bara api yang siap membakar egonya kapan saja.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!