Aku memutuskan menghapus catatan, bukan foto.
Foto-foto itu berasal dari ruang publik. Catatan adalah bagian yang membuat folder terasa seperti cermin. Tiga kalimat pendek dan satu draf pengakuan menyimpan versi diriku yang tidak pernah berani muncul di kampus.
Aku membuka dokumen pertama. Sebelum menghapus, aku membacanya sekali lagi.
Aku suka cara Elang menunggu jawaban, seolah diamku tetap memiliki arti.
Dokumen kedua berisi ketakutan bahwa rasa kagumku sudah terlalu besar. Dokumen ketiga berisi pertanyaan apakah aku mengenal Elang atau hanya menyusun karakter dari foto-foto.
Draf pengakuan adalah yang paling sulit.
Kak Elang, saya menyukai Anda sejak orientasi. Saya tidak berharap apa pun. Saya hanya ingin mengatakan ini agar perasaan tersebut berhenti menjadi sesuatu yang memalukan.
Aku menekan Print tanpa sengaja ketika bermaksud menutup jendela. Printer umum perpustakaan mulai berbunyi di ujung ruangan.
Aku berlari.
Kertas pertama keluar dengan judul DRAF_PENGAKUAN. Di belakangku terdengar langkah Elang.
“Keira?”
Aku menarik kertas itu terlalu cepat hingga ujungnya robek. Elang berhenti beberapa meter dariku. Ia tidak mencoba melihat tulisan.
“Printer macet?” tanyanya.
“Tidak.”
“Aku bisa pergi kalau kamu butuh ruang.”
Aku melipat kertas dan mema**kkannya ke tas. Rasa malu terasa melelahkan. “Kenapa Kak Elang selalu berpura-pura tidak melihat?”
Ia diam sejenak. “Karena melihat sesuatu tidak berarti aku berhak mengambilnya.”
“Tapi Kak Elang sudah tahu.”
“Aku tahu kamu menyimpan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan.”
Aku hampir tertawa karena pernyataan itu jelas tidak sepenuhnya benar. Ia pasti tahu.
Elang menarik kursi, tetapi tidak duduk sampai aku mengangguk. “Boleh aku bertanya satu hal?”
Aku mengusap kertas di dalam tas. “Apa?”
“Apakah keberadaanku membuatmu merasa tidak aman?”
“Tidak.” Jawabanku langsung.
“Kalau begitu, aku akan berhenti menghindari pembicaraan ini. Tapi bukan sekarang. Kamu terlihat ingin lari.”
Ia benar.
Malamnya, aku memindahkan catatan ke folder terenkripsi, lalu menghapus shortcut dari Recent Files. Aku merasa lebih aman, sekaligus sedih karena kembali menyembunyikan semuanya.
Pukul 00.21, Elang mengirim pesan.
Elang: Kertasmu tertinggal satu sudut di printer. Aku membuangnya tanpa membaca.
Keira: Terima kasih.
Elang: Besok, boleh kita bicara di kafe? Tidak ada laptop.
Aku menatap layar c**up lama. Draf pengakuan yang robek ada di samping tanganku.
Keira: Boleh.
Elang: Aku hanya akan bertanya satu hal. Kamu bebas tidak menjawab.
Aku tahu pertanyaan itu bahkan sebelum ia mengirim pesan berikutnya.
Elang: Apakah folder itu tentang aku?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!