Setelah percakapan di kafe, aku menunggu perubahan besar. Tidak ada.
Elang tetap mengirim revisi slide. Aku tetap datang latihan. Kami tidak tiba-tiba menjadi pasangan atau berjalan bergandengan di kampus. Justru karena semuanya berjalan pelan, aku mulai mengenal bagian dirinya yang tidak pernah tertangkap foto.
Elang tidak suka makanan terlalu manis. Ia selalu membawa plester di tas karena anggota komunitas sering terluka saat memasang panggung. Ia takut gagal menyelesaikan portofolio tepat waktu, tetapi tidak pernah mengatakannya di depan kelompok.
Aku juga mulai menunjukkan hal-hal yang biasanya kusembunyikan. Aku memberitahunya bahwa aku bekerja paruh waktu mengedit slide untuk membayar kebutuhan kos. Aku mengaku pernah kehilangan kepercayaan pada teman karena catatan pribadiku dibaca tanpa izin.
“Pantas kamu selalu menyamarkan nama file,” katanya.
Aku tertawa kecil. “Itu kebiasaan bertahan hidup.”
“Sekarang mungkin juga penjara.”
Kalimat itu tidak terdengar menghakimi. Hanya benar.
Pada sore di studio, Elang menunjukkan ponselnya. “Kamu mau lihat foto yang kusebut kemarin?”
Aku mengangguk.
Foto itu memperlihatkanku berdiri di podium orientasi, wajah pucat tetapi mata menghadap lurus. Aku tidak pernah menyukai foto diriku sendiri, tetapi dalam gambar itu aku terlihat lebih kuat daripada ingatanku.
“Kenapa disimpan?” tanyaku.
“Karena kamu tetap menyelesaikan presentasi meski tanganmu gemetar.”
“Cuma itu?”
Elang tersenyum. “Karena aku juga menyukaimu.”
Pernyataan langsung itu membuatku menunduk. Dulu aku akan melarikan diri. Kali ini aku bertahan.
“Boleh aku menyimpannya?” tanyanya. “Kalau tidak, aku hapus sekarang.”
“Boleh.”
Kami duduk berdekatan tanpa menyentuh. Rasanya lebih intim daripada semua foto di folderku karena kali ini tidak ada yang disamarkan.
“Aku ingin berjalan pelan,” kata Elang. “Sampai proyek selesai dan posisi mentorku tidak lagi membuatmu merasa harus menyenangkan aku.”
“Kak Elang tidak punya wewenang atas nilai.”
“Benar. Tapi pengaruh informal tetap ada. Aku ingin kita sadar tentang itu.”
Aku menghargai kehati-hatiannya, meski sebagian diriku ingin lebih dekat.
Malamnya, aku membuka folder TUGAS_KULIAH_SEM2. Aku tidak menambah foto. Aku justru menulis catatan baru dengan nama sebenarnya: Hal-hal yang Kuketahui tentang Elang.
Isinya bukan fantasi. Isinya kopi pahit, plester di tas, takut lulus terlambat, dan caranya meminta izin.
Pukul 00.21, ia mengirim pesan.
Elang: Hari ini terasa berbeda.
Keira: Karena saya melihat foto yang Kak Elang simpan?
Elang: Karena untuk pertama kalinya kamu tidak bersembunyi setelah tahu aku menyukaimu.
Aku tersenyum pada layar.
Keira: Saya masih malu.
Elang: Malu boleh tinggal. Yang penting kamu tidak harus tinggal sendirian dengannya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!