Masalah dimulai dari empat detik.
Bagas merekam latihan presentasi agar kami bisa menilai gestur dan intonasi. Aku setuju selama video hanya disimpan di cloud kelompok. Setelah latihan, ia mengunggah rekaman mentah tanpa memotong bagian awal ketika laptopku masih menampilkan desktop.
Aku tidak menyadarinya sampai Hana mengirim pesan pagi berikutnya.
Hana: Keira, cek menit 00.12.
Aku membuka video. Di sudut layar terlihat jendela File Explorer. Daftar Recent Files muncul selama empat detik. Folder TUGAS_KULIAH_SEM2 terlihat, lengkap dengan thumbnail foto Elang.
Tidak ada isi folder. Hanya nama dan wajahnya. Namun itu sudah c**up untuk membuat darahku terasa dingin.
Aku menelepon Bagas. “Hapus rekaman mentah.”
“Kenapa?”
“Ada file pribadi terlihat.”
“Cuma thumbnail. Tidak ada yang peduli.”
“Aku peduli.”
Bagas menghela napas. “Video sudah dibagikan ke dosen dan grup komunitas. Kalau dihapus sekarang, orang akan bertanya.”
“Biarkan mereka bertanya.”
Ia akhirnya menghapus tautan publik, tetapi salinan sudah tersimpan di beberapa perangkat. Aku memeriksa log cloud. Satu akun mengunduh rekaman pukul 21.47 malam sebelumnya.
Elang datang ke perpustakaan setelah kuberi tahu. Ia duduk di seberangku dan tidak mencoba mengambil laptop.
“Apa yang kamu butuhkan?” tanyanya.
“Video dihapus. Salinan dicari. Tidak ada pernyataan tentang isi folder.”
“Baik.”
“Kak Elang tidak akan bicara kepada Bagas tanpa saya?”
“Tidak.”
Aku lega, tetapi rasa aman sudah retak.
Kami mengirim permintaan resmi kepada admin cloud. Bagas terus mengatakan semuanya kecelakaan. Mungkin unggahan mentah memang ceroboh, tetapi unduhan pukul 21.47 terasa disengaja.
Sore itu, Sasa menunjukkan unggahan akun gosip kampus. Sebuah potongan layar buram menampilkan folder dan thumbnail wajah Elang. Teks di atasnya berbunyi: Tugas kuliah atau koleksi rahasia senior?
Tanganku gemetar.
Komentar mulai muncul. Ada yang tertawa. Ada yang menebak jumlah foto. Ada yang menyebutku penguntit meski tidak seorang pun melihat isi folder.
Aku menghubungi Bagas lagi. Ia mengaku tidak mengirim ke akun gosip, tetapi suaranya defensif.
Elang mengirim pesan pribadi.
Elang: Aku sudah melihat unggahannya. Aku tidak akan menulis apa pun sebelum kamu setuju.
Keira: Jangan dulu.
Elang: Baik. Aku ada di perpustakaan kalau kamu tidak ingin sendirian.
Aku tidak pergi. Aku menutup tirai kos dan mematikan ponsel.
Empat detik c**up untuk mengubah ruang privat menjadi cerita milik orang lain. Tidak ada yang tahu tiga puluh tujuh foto itu berasal dari album publik. Tidak ada yang tahu catatan tidak pernah dibagikan.
Mereka tidak membutuhkan fakta. Mereka hanya membutuhkan kekosongan untuk diisi.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!