Pagi berikutnya, namaku lebih dikenal daripada selama dua semester kuliah.
Akun gosip mengunggah potongan video dengan kualitas lebih jelas. Thumbnail Elang terlihat. Nama folder juga. Narasinya berkembang: aku menyimpan ratusan foto, mengikuti Elang ke berbagai kegiatan, dan menggunakan proyek kelompok agar dekat dengannya.
Semua itu tidak benar. Namun setiap bantahan terasa seperti membuka pintu menuju pertanyaan baru.
Berapa foto sebenarnya? Apa isi catatan? Mengapa nama folder disamarkan?
Aku pergi ke kampus dengan topi dan masker, tetapi tetap mendengar bisikan di koridor. Sasa berjalan di sampingku dan menatap tajam siapa pun yang tertawa.
Di ruang dosen, Bu Maya memberi tahu rekomendasi magangku ditahan sementara sampai situasi jelas.
“Bukan hukuman,” katanya. “Perusahaan meminta penjelasan tentang isu perilaku digital.”
“Jadi rumor c**up untuk menahan rekomendasi?”
Bu Maya menghela napas. “Aku sedang berusaha melindungi proses. Kamu tidak wajib membuka isi folder. Yang kami perlu telusuri adalah bagaimana rekaman pribadi kelompok disebarkan.”
Setidaknya satu orang memahami masalah yang sebenarnya.
Elang menunggu di luar, tetapi tidak mendekat sampai aku mengangguk. “Boleh aku berjalan bersamamu?”
Aku mengangguk lagi.
Kami menuju tangga belakang agar tidak melewati kerumunan. Elang terlihat marah, tetapi suaranya tetap tenang.
“Aku bisa membuat pernyataan bahwa foto-foto itu berasal dari kegiatan publik dan aku tidak merasa diikuti.”
“Kalau Kak Elang bicara sekarang, orang akan menganggap kita punya hubungan.”
“Apakah itu lebih buruk daripada mereka menyebutmu penguntit?”
“Bukan itu intinya.” Aku berhenti di tangga. “Saya tidak ingin nama saya dibersihkan hanya karena laki-laki yang ada di folder membela saya. Saya ingin mereka mengerti akses dan penyebarannya yang salah.”
Elang menutup mata sebentar. “Kamu benar.”
Ia tidak membantah atau mencoba meyakinkan. Itu membuat kemarahanku sedikit turun.
“Kak Elang marah?”
“Sangat.”
“Pada saya?”
“Tidak pernah karena kamu memiliki perasaan.”
Kalimat itu hampir membuatku menangis. Aku memalingkan wajah.
Sore hari, akun gosip mengunggah klaim baru bahwa isi folder sedang diselidiki kampus. Itu bohong. Bu Maya bahkan secara jelas menolak meminta isi folder.
Bagas mengirim pesan di grup bahwa ia tidak bertanggung jawab atas penyebaran setelah tautan dihapus. Hana menjawab bahwa hanya admin dan ketua kelompok yang sempat mengunduh rekaman mentah.
Aku membuka log lagi. Unduhan 21.47 tercatat dari akun Bagas.
Ketika kutunjukkan kepada Sasa, ia berkata, “Ini bukan lagi soal kamu menyukai Elang.”
Aku mengangguk.
Rasa malu yang sejak awal membuatku ingin menghilang perlahan berubah menjadi kemarahan.
Malam itu, email dari perusahaan magang ma**k: proses rekomendasi ditunda sampai klarifikasi resmi.
Aku membaca kalimat itu dua kali, lalu membuka laptop.
Untuk pertama kalinya sejak rumor muncul, aku tidak membuka folder rahasia.
Aku membuka dokumen baru bernama LAPORAN_AKSES_TANPA_IZIN.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!