Aku ingin berdiri di depan kelas dan mengatakan semua tuduhan tentang Keira tidak benar. Namun ketika ia berkata tidak ingin dibersihkan hanya karena aku membelanya, aku sadar doronganku masih mengandung keinginan mengatur hasil.
Aku menemuinya di perpustakaan setelah meminta izin melalui pesan. Keira tampak lelah, tetapi di layar laptopnya ada laporan dengan struktur rapi: kronologi, izin p****aman, tautan cloud, waktu unduhan, dan penyebaran.
“Aku bisa menjadi saksi,” kataku.
“Sebagai apa?”
“Sebagai orang yang muncul di thumbnail dan tidak merasa diikuti.”
“Itu membantu.”
“Aku juga bisa menjelaskan bahwa aku tidak pernah membuka folder.”
Keira mengangguk. “Tapi jangan bicara tentang perasaan kita.”
“Baik.”
“Aku belum ingin itu menjadi bukti bahwa saya tidak bersalah.”
Aku memahami. Perasaan timbal balik tidak menghapus pelanggaran akses. Bahkan kalau aku tidak menyukainya, ia tetap berhak atas privasi.
“Aku tidak berhak membelamu tanpa izin,” kataku. “Katakan apa yang boleh kulakukan.”
Keira menatapku c**up lama. “Beri aku satu hari untuk memilih caraku sendiri.”
Aku setuju.
Di luar perpustakaan, Rio menungguku. Ia marah karena aku tidak segera menyerang Bagas di grup komunitas.
“Keira sedang dihancurkan,” katanya.
“Karena itu aku tidak akan menambah keributan tanpa persetujuannya.”
“Kadang kamu terlalu hati-hati.”
“Mungkin. Tapi kali ini pusat masalahnya adalah orang lain mengambil kendali atas ruang pribadinya. Aku tidak akan mengulang hal yang sama dengan alasan melindungi.”
Aku menghubungi Bu Maya dan hanya memberikan informasi teknis yang Keira izinkan: aku melihat folder di Recent Files tetapi tidak membukanya; proyektor sudah mati; rekaman latihan merupakan satu-satunya sumber potongan layar.
Bu Maya menjadwalkan proses etik tertutup. Ia meminta log unduhan dari admin cloud.
Malamnya, aku menulis pernyataan publik tetapi tidak mengunggah. Isinya singkat: Foto-foto kegiatan publik bukan bukti penguntitan. Penyebaran rekaman tanpa izin adalah masalah utama. Aku mengirim draf kepada Keira.
Elang: Pakai hanya kalau kamu setuju.
Keira: Jangan unggah malam ini.
Elang: Baik.
Keira: Terima kasih sudah bertanya.
Aku meletakkan ponsel dan melihat foto Keira di podium. Aku bertanya pada diri sendiri apakah menyimpannya membuatku munafik. Perbedaannya bukan pada rasa suka. Perbedaannya pada tindakan: foto resmi, akses sah, tidak disebarkan, dan kesediaan menghapus jika ia meminta.
Namun aku tetap harus jujur kepadanya nanti.
Pukul 00.21, pesan terakhir ma**k.
Keira: Besok saya akan melapor dengan nama sendiri.
Aku membalas tanpa menawarkan solusi baru.
Elang: Aku percaya kamu bisa. Aku akan hadir hanya jika kamu mengizinkan.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!